Keheningan yang Justru Nyaman
Hari Selasa lalu, saya dan teman saya datang terlambat ke sebuah salon. Padatnya jalanan saat jam pulang kerja membuat kami tiba pukul setengah enam sore. Tiga puluh menit lebih lama dari waktu janjian.
Kami disambut ramah oleh pemilik salon dan diarahkan langsung ke tempat duduk. Sambil konsultasi model potongan, kami ditawari ingin creambath atau tidak. Kami menerima tawaran tersebut meskipun ada pemikiran “Apakah tidak apa-apa?”.
Saya pribadi tidak terlalu nyaman dengan obrolan ringan saat berada di salon. Senyum, sapaan, dan basa-basi memang menjadi kewajiban di sektor jasa. Namun, tidak semua pelanggan menginginkannya. Saya termasuk tipe yang puas asalkan pelayanan baik, tanpa harus diajak berbincang sepanjang sesi. Karena itu, saya sering berganti salon meskipun sudah cocok.
Ketika teman merekomendasikan tempat ini, saya sudah bersiap untuk kembali dihadapkan pada keramahan verbal. Ternyata berbeda. Keheningan di sana justru membuat saya nyaman. Saya bergumam dalam hati, “Sepertinya saya menemukan tempat yang cocok.”
Mata yang Bicara Lebih Keras dari Suara
Seorang karyawan yang tidak saya kenal namanya sudah menunggu sejak kami tiba. Matanya tampak tajam dan sedikit gusar. Saya kemudian menyadari bahwa pegawai di salon ini adalah teman-teman Tuli. Bukan sesuatu yang saya cari secara sengaja, tapi salon ini inklusif tanpa spanduk besar.
Baca juga: Workshop Kewirausahaan: Meningkatkan Potensi Teman-Teman Tuli Bersama GERKATIN Solo
Selama proses creambath, saya melihat karyawan tersebut sesekali melirik jam. Ekspresinya berubah, bibirnya komat-kamit seperti mengeluh tanpa suara. Wajar jika ia kesal karena menunggu pelanggan telat. Namun, saat mata kami bertemu, ia tersenyum lembut. Ia tetap memijat dengan tekanan yang pas, mengecek suhu air, dan memastikan saya nyaman.
Dalam diam, ia menanyakan satu hal: “Apakah Anda baik-baik saja?” Meskipun kesal, profesionalismenya tidak goyah. Ia tetap ramah, tetap teliti, dan setiap kali pandangan kami bertemu, ia selalu tersenyum.
Bercanda Tanpa Suara, Koneksi Tanpa Kata
Saat waktu istirahat tiba, saya melihat pemandangan menarik. Karyawan Tuli tadi bergabung dengan rekan-rekannya. Satu per satu dari mereka mengeluarkan ponsel. Ternyata mereka sedang video call-an dengan teman-teman Tuli lain di luar salon.
Saya diam-diam mengamati dari jauh. Jari-jari mereka bergerak cepat. Ekspresi wajah mereka berubah-ubah: ada yang mengernyit, ada yang melongo, lalu tiba-tiba semuanya tertawa bareng. Tanpa suara. Tapi gelak tawa itu terasa sampai ke tempat saya duduk.
Mereka bercanda, saling meledek seperti teman-teman pada umumnya. Hanya saja bahasanya bukan kata-kata yang keluar dari mulut, melainkan gerakan tangan dan wajah yang hidup.
Saya tersenyum melihatnya. Oh, ternyata seperti ini caranya mereka bersenang-senang.
Di situlah saya sadar: mereka tidak kehilangan apa pun. Mereka hanya punya cara berbeda untuk terhubung dengan dunianya. Dan itu tidak membuat mereka kurang bahagia.
Yang Membedakan Bukan Pendengaran, Tapi Hati
Pulang dari salon itu, saya membawa pesan: orang Tuli sama seperti kita.
Mereka bisa marah, bisa capek, bisa mengeluh dalam hati. Mereka juga bisa bercanda, bisa video call-an berjam-jam, bisa tertawa lepas tanpa suara. Yang membedakan bukan pendengarannya, tetapi hatinya. Di salon itu, saya melihat seorang perempuan Tuli yang sedang bad mood karena menunggu pelanggan telat. Tapi ia memilih untuk tetap ramah.
Ia tidak butuh suara untuk menunjukkan kebaikan. Cukup dari senyumnya. Cukup dari tatapannya. Cukup dari cara ia mengecek kondisi saya lewat ekspresi.
Saya yang datang terlambat dan menambah pekerjaan pulang dengan rasa kagum.
Keterlambatan saya malam itu justru membuat saya belajar bahwa komunikasi tidak selalu butuh kata, profesionalisme tidak butuh suara, dan kebaikan bisa diungkapkan lewat senyum.
Terima kasih, Mbak karyawan salon yang tidak saya kenal namanya.
Menjadi baik adalah pilihan. Dan Anda memilih untuk tetap baik, meskipun rasa kesal itu sedang Anda rasakan.
Penulis:
- Natalya Agustin
- Michelle Vanessa Gandhi
Mahasiswa Psikologi, Universitas Katolik Musi Charitas
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












