Saat air waduk turun, banyak orang mengira tempat tersebut akan kehilangan daya tariknya. Namun, di Waduk Darma, Kuningan, yang terjadi malah sebaliknya. Daratan yang muncul di tepian dan tengah waduk membuat orang berdatangan.
Pertanyaannya, apa yang membuat mereka datang?
Daya Tarik yang Tidak Dirancang
Waduk Darma sudah sangat terkenal sebagai tempat bersantai, baik bagi warga Kuningan maupun dari luar Kuningan, seperti Cirebon dan Majalengka.
Waduk dengan luas 425 hektare ini menjadi tempat favorit banyak orang untuk menikmati udara sore sambil menunggu matahari terbenam. Wisata utama di Waduk Darma adalah perahu.
Daratan yang muncul saat kemarau bukanlah buatan yang sengaja dibuat oleh pengelola, melainkan daratan yang muncul ketika air waduk surut.
Wisatawan berdatangan dan memanfaatkan daratan untuk bersantai, berfoto atau membuat konten, serta berkumpul bersama keluarga.
Karena itu, fenomena ini menarik untuk dilihat dari sisi perilaku konsumen.

Kelangkaan Waktu
Dalam ilmu perilaku konsumen, sesuatu yang hanya muncul sebentar atau hanya ada pada waktu tertentu sangatlah berharga. Daratan di Waduk Darma hanya muncul ketika musim kemarau, saat air di dalam waduk surut.
Wisatawan merasa fenomena ini langka dan harus datang sebelum kesempatan tersebut terlewatkan.
Rasa Penasaran
Pemandangan yang tidak biasa membuat wisatawan merasa penasaran dan terpancing untuk datang. Waduk yang biasanya dilihat sebagai hamparan air kini memiliki daratan yang bisa dijajaki.
Wisatawan yang sudah pernah ke sana pun memiliki alasan untuk datang kembali karena sesuatu yang biasanya dilihat kini tampak berbeda.
Pengaruh Media Sosial
Di zaman yang semakin canggih ini, media sosial berpengaruh besar dalam mempromosikan pariwisata. Banyaknya wisatawan yang pernah datang dan membagikan pengalaman mereka di media sosial membuat orang lain terpengaruh untuk berkunjung.
Satu unggahan bisa mengajak teman dan keluarga untuk ikut datang.
Dalam perilaku konsumen, ini disebut bukti sosial (social proof), yaitu ketika orang lebih yakin pada tempat yang banyak dikunjungi orang.
Di sisi lain, ada rasa takut tertinggal (fear of missing out atau FOMO) saat melihat orang lain sudah lebih dulu datang dan merasakan pengalaman tersebut.
Pengalaman Murah dan Keputusan Cepat
Biaya yang terjangkau membuat keputusan berkunjung bisa diambil secara mendadak, tanpa perencanaan panjang. Pengunjung cukup datang pada sore hari, saat suasana mulai teduh dan sejuk.
Sejalan dengan tren coolcation, yaitu berwisata ke tempat yang sejuk saat cuaca panas, tepi daratan pada sore hari menawarkan suasana tenang dan memberikan rasa nyaman.
Di sisi lain, beberapa wisatawan hanya berjalan di daratan untuk menikmati waduk tanpa mengeluarkan uang untuk menaiki perahu.
Perahu wisata tetap menjadi satu-satunya atraksi berbayar di waduk. Ramainya pengunjung belum tentu menghasilkan pendapatan bagi pelaku usaha lokal.
Pengunjung yang datang menjelang senja cenderung bertahan selama beberapa jam. Hal ini membuka peluang bagi penjual jajanan, minuman, atau jasa foto.
Pelaku usaha dapat membaca pola kunjungan dengan mengamati kapan wisatawan ramai berdatangan dan apa yang mereka cari.

Keselamatan dan Kebersihan
Tanah di daratan yang muncul akibat surutnya air bisa saja licin dan berlumpur. Wisatawan harus berhati-hati saat melangkah agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Dengan banyaknya wisatawan, semakin banyak pula sampah yang berpotensi ditinggalkan. Dibutuhkan kesadaran untuk menjaga daratan tetap bersih agar ketika kembali tertutup air, waduk tidak tercemar.
Air Waduk Darma banyak dimanfaatkan sebagai air irigasi dan air baku Perusahaan Daerah Air Minum. Oleh karena itu, rambu-rambu keselamatan dan pengelolaan sampah sangat penting agar aktivitas wisata tidak mengganggu fungsi utama waduk.

Fenomena yang terjadi di Waduk Darma menunjukkan bahwa wisatawan tidak selalu mencari wahana. Mereka bisa tertarik pada hal yang langka, tidak biasa, mudah diakses, dan terjangkau.
Memahami pola ini dapat membantu pengelola dan pelaku usaha memberikan pelayanan yang tepat tanpa merusak fungsi waduk bagi masyarakat lokal.

Penulis: Diana Rahmi Aisah
Mahasiswa Program Studi Magister Pariwisata, Universitas Pendidikan Indonesia
Dosen Pengampu: Dr. Gitasiswhara, S.E.Par., M.M.
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















