Temanggung, MMI — Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan terus menjadi perhatian dalam dunia pendidikan.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya hubungan sosial yang sehat di lingkungan sekolah, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Anti-Bullying di Aula SD Negeri 2 Badran, Desa Badran, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, pada Kamis, 6 Agustus 2026, mulai pukul 08.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan program kerja individu utama yang dilaksanakan oleh Vannes Ayoe Safitri, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik angkatan 2023 Universitas Negeri Yogyakarta. Sosialisasi tersebut diikuti oleh sekitar 40 siswa kelas IV, V, dan VI SD Negeri 2 Badran serta dihadiri oleh para guru.
Pelaksanaan kegiatan turut didukung oleh mahasiswa KKN lainnya yang membantu mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung.
Program ini dilatarbelakangi oleh pentingnya membangun kesadaran sejak dini mengenai perilaku perundungan atau bullying yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah.
Perundungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat berupa ejekan, pemberian julukan yang merendahkan, pengucilan, maupun perkataan yang menyakiti perasaan orang lain. Perilaku yang dianggap sebagai candaan oleh sebagian anak belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh teman yang mengalaminya.
Melalui kegiatan ini, siswa diajak memahami bahwa setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan diterima di lingkungan sekolah.
Sosialisasi juga bertujuan menumbuhkan empati, keberanian untuk menyampaikan pengalaman yang tidak menyenangkan, serta kepedulian untuk saling membantu ketika melihat teman mengalami perundungan.
Belajar Mengenali Bullying melalui Kegiatan Interaktif
Kegiatan sosialisasi dikemas secara interaktif agar materi mudah dipahami dan tidak terasa membosankan bagi siswa sekolah dasar. Rangkaian kegiatan diawali dengan ice breaking dan permainan sederhana untuk membangun suasana yang menyenangkan.
Setelah itu, siswa mendapatkan materi mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk perundungan, dampak yang dapat ditimbulkan, serta langkah yang dapat dilakukan ketika mengalami atau menyaksikan perilaku tersebut.

Penyampaian materi tidak hanya dilakukan melalui penjelasan, tetapi juga melalui cerita, kuis, dan simulasi atau role play. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenali berbagai situasi yang mungkin mereka temui dalam pergaulan sehari-hari.
Siswa diajak membedakan candaan yang menyenangkan bagi semua pihak dengan perilaku yang dapat melukai perasaan orang lain. Sepanjang kegiatan berlangsung, siswa terlihat antusias mengikuti permainan dan menjawab pertanyaan yang diberikan.
Beberapa siswa juga menunjukkan keberanian untuk bertanya serta berbagi pengalaman mengenai hubungan mereka dengan teman sebaya. Respons tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan karena siswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga memperoleh ruang untuk menyampaikan pandangan dan perasaan mereka.
Dalam penyampaian materi, siswa diingatkan bahwa apabila sebuah candaan membuat teman merasa sedih, takut, malu, atau tidak nyaman, perilaku tersebut perlu dihentikan. Siswa juga didorong untuk tidak ikut menertawakan, mengucilkan, atau membiarkan temannya mengalami perlakuan yang menyakitkan.
Sebaliknya, mereka dapat menunjukkan dukungan dengan menemani teman, memberikan bantuan, dan melaporkan kejadian kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya apabila diperlukan.
Cerita Siswa Mengingatkan Pentingnya Empati
Salah satu momen yang berkesan dalam kegiatan ini terjadi ketika seorang siswa memberanikan diri maju dan menceritakan pengalaman pribadinya.
Dengan identitas yang dirahasiakan, siswa tersebut menyampaikan bahwa kondisi keluarganya menjadi salah satu hal yang berkaitan dengan perlakuan tidak menyenangkan yang diterimanya dari teman sebaya. Dalam ceritanya, siswa tersebut mengungkapkan bahwa terkadang perkataan teman dianggap sebagai candaan.
Namun, pada saat tertentu, perkataan tersebut tetap menimbulkan kesedihan hingga membuatnya menangis. Pengalaman ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dianggap sepele oleh seseorang dapat memberikan dampak emosional bagi orang lain.

Cerita tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki latar belakang dan pengalaman hidup yang berbeda. Kondisi keluarga, keadaan pribadi, maupun hal-hal yang bersifat sensitif tidak seharusnya dijadikan bahan ejekan.
Anak-anak perlu memahami bahwa menghormati teman berarti menerima perbedaan dan tidak menggunakan kelemahan atau pengalaman pribadi seseorang untuk menyakitinya. Momen berbagi tersebut juga memperlihatkan pentingnya menyediakan ruang yang aman bagi anak untuk menyampaikan perasaan mereka tanpa takut dihakimi.
Ketika siswa merasa didengarkan, mereka memiliki kesempatan untuk menyadari bahwa pengalaman yang dialami layak mendapat perhatian dan bahwa mereka tidak harus menghadapi masalah seorang diri.
Di sisi lain, terdapat pula siswa yang menyampaikan rasa terima kasih kepada teman-temannya karena telah memberikan dukungan ketika dirinya sedang tidak baik-baik saja. Ia merasa terbantu karena teman-temannya bersedia menemani bermain dan membantu ketika mengalami kesulitan mengerjakan tugas.
Ungkapan tersebut memperlihatkan sisi positif dari hubungan pertemanan di lingkungan sekolah. Dukungan sederhana, seperti menemani teman bermain, membantu memahami pelajaran, mendengarkan cerita, dan memberikan semangat, dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti bagi anak.
Pengalaman ini sekaligus menunjukkan bahwa teman sebaya dapat berperan dalam menciptakan lingkungan yang lebih suportif ketika hubungan tersebut dibangun atas dasar rasa hormat dan kepedulian.
Refleksi Bersama untuk Membangun Pertemanan yang Sehat
Setelah penyampaian materi dan kegiatan interaktif, siswa diajak melakukan refleksi mengenai sikap yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui sesi ini, mereka diajak memahami pentingnya menjaga ucapan, menghargai perasaan orang lain, berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan, serta tidak mengulangi perilaku yang dapat menyakiti teman.

Salah satu momen emosional terlihat ketika beberapa siswa saling berpelukan dan meminta maaf kepada teman mereka.
Momen tersebut menjadi bagian dari proses refleksi untuk membangun kesadaran bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Namun, kesalahan tersebut perlu diakui dan diikuti dengan kemauan untuk memperbaiki sikap.
Kegiatan kemudian diarahkan pada komitmen bersama untuk menciptakan pertemanan yang lebih positif. Siswa diajak untuk tidak melakukan perundungan, tidak ikut menyebarkan ejekan, serta berusaha membantu teman yang sedang mengalami kesulitan.
Melalui deklarasi dan kegiatan Pohon Kebaikan, siswa juga didorong untuk mengenali tindakan sederhana yang dapat mereka lakukan agar suasana sekolah menjadi lebih ramah dan menyenangkan bagi semua. Perubahan perilaku tentu tidak dapat dicapai hanya melalui satu kali sosialisasi.
Meskipun demikian, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan nilai empati, tanggung jawab, dan saling menghargai kepada siswa. Pembiasaan nilai-nilai tersebut perlu dilanjutkan melalui keterlibatan guru, orang tua, dan lingkungan pertemanan agar pesan yang disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mendukung SDGs 4: Pendidikan Berkualitas
Sosialisasi Anti-Bullying di SD Negeri 2 Badran juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas.
Pendidikan berkualitas tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik, tetapi juga mencakup upaya menyediakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan setiap anak. Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk pengetahuan sekaligus karakter siswa.
Oleh karena itu, upaya pencegahan bullying perlu menjadi perhatian bersama agar setiap anak dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa merasa takut, terancam, atau direndahkan oleh teman-temannya.
Melalui program ini, mahasiswa KKN UNY berupaya berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai perundungan dan pentingnya membangun hubungan sosial yang sehat.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan edukatif di sekolah juga menjadi salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang mendorong penerapan pengetahuan dan nilai-nilai sosial secara langsung. Pelaksanaan sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi siswa untuk lebih berhati-hati dalam bertutur kata dan bertindak.
Siswa juga diharapkan semakin memahami bahwa keberanian untuk membela teman tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar, tetapi dapat dimulai dengan tidak ikut mengejek, memberikan dukungan, menemani teman yang merasa sendirian, serta meminta bantuan guru ketika menghadapi situasi yang sulit.
Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk belajar memahami perasaan, menghargai perbedaan, dan tumbuh bersama.
Melalui kegiatan Sosialisasi Anti-Bullying ini, mahasiswa KKN UNY berharap nilai empati dan kepedulian dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar, bermain, dan berkembang.
Penulis: Vannes Ayoe Safitri (NIM: 23040730118)
Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Negeri Yogyakarta
Aktif juga di KKN-M UNY Unit 31637
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















