Ketika Skill Tak Lagi Cukup: Mengapa Dunia Kerja Makin Selektif?

Skill pencari kerja

Hampir setiap pencari kerja pasti pernah mendengar nasihat yang sama: perbanyak skill, ikut pelatihan, dan kumpulkan sertifikat. Nasihat tersebut memang ada benarnya. Namun, kenyataannya tidak sedikit orang yang sudah mengikuti berbagai pelatihan dan memiliki banyak kemampuan, tetapi masih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Kalau kemampuan sudah dimiliki tetapi pekerjaan tetap sulit didapat, mungkin persoalannya bukan hanya soal seberapa banyak skill yang kita punya, tetapi juga tentang bagaimana kondisi pasar tenaga kerja saat ini.

Dalam dunia kerja, ada dua hal utama yang saling berkaitan, yaitu jumlah orang yang mencari pekerjaan dan jumlah pekerjaan yang tersedia. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja karena mereka memiliki kegiatan usaha yang harus dijalankan dan menghasilkan barang atau jasa. Ketika permintaan terhadap barang dan jasa meningkat, kebutuhan tenaga kerja biasanya ikut bertambah. Sebaliknya, ketika kegiatan usaha melambat, perusahaan bisa mengurangi kebutuhan untuk merekrut pekerja baru.

Masalah muncul ketika jumlah pencari kerja bertambah lebih cepat dibandingkan dengan jumlah pekerjaan yang tersedia. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan memiliki lebih banyak pilihan karena satu lowongan bisa didatangi oleh banyak pelamar. Akibatnya, proses rekrutmen menjadi semakin ketat. Perusahaan dapat memilih kandidat yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan mereka, bukan hanya berdasarkan kemampuan dasar, tetapi juga pengalaman, sikap kerja, dan kecocokan dengan posisi yang ditawarkan.

BACA JUGA: Dari Kampus ke Dunia Kerja: Ada Apa dengan Pasar Tenaga Kerja di Kota Malang

Di sinilah skill yang dimiliki seseorang belum tentu langsung membuatnya unggul. Bayangkan ada satu lowongan yang dilamar oleh ratusan orang. Banyak dari mereka mungkin memiliki kemampuan yang hampir sama, seperti mengoperasikan komputer, menggunakan aplikasi tertentu, berkomunikasi, atau memiliki sertifikat pelatihan. Ketika kemampuan dasar para pelamar hampir tidak berbeda, perusahaan tentu membutuhkan pertimbangan lain untuk menentukan siapa yang paling layak dipilih. Akhirnya, skill yang sebelumnya dianggap sebagai keunggulan bisa berubah menjadi sekadar syarat untuk masuk ke tahap berikutnya.

Selain jumlah pelamar yang semakin banyak, perusahaan juga harus mempertimbangkan biaya dalam proses perekrutan. Mempekerjakan orang baru bukan hanya soal membayar gaji. Ada proses seleksi, pelatihan, penyesuaian dengan lingkungan kerja, sampai risiko jika ternyata karyawan yang dipilih tidak sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, perusahaan cenderung mencari kandidat yang dianggap paling cocok sejak awal. Tidak sedikit perusahaan yang juga memilih mengembangkan karyawan yang sudah ada melalui promosi atau perpindahan posisi karena kemampuan dan cara kerja mereka sudah lebih dikenal.

Persoalan lainnya adalah adanya jarak antara kemampuan yang dimiliki pencari kerja dengan kebutuhan industri. Seseorang bisa saja memiliki banyak skill, tetapi belum tentu skill tersebut sedang banyak dibutuhkan. Perubahan teknologi dan cara kerja yang semakin cepat membuat kebutuhan perusahaan juga ikut berubah. Kemampuan yang sebelumnya banyak dicari bisa saja menjadi kurang relevan ketika muncul teknologi atau metode kerja baru.

Hal ini menunjukkan bahwa memiliki banyak skill saja belum tentu cukup. Yang lebih penting adalah memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Pencari kerja perlu memahami bidang yang ingin dimasuki dan melihat kemampuan apa yang sedang dibutuhkan. Dengan begitu, waktu dan tenaga untuk belajar dapat digunakan dengan lebih tepat, bukan hanya untuk mengumpulkan sertifikat.

Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh pencari kerja? Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah lebih selektif dalam memilih keterampilan untuk dipelajari. Daripada mengejar sebanyak mungkin sertifikat, lebih baik memilih beberapa kemampuan yang benar-benar berkaitan dengan pekerjaan yang dituju. Kemampuan tersebut juga sebaiknya dibuktikan melalui pengalaman nyata, seperti proyek, magang, kegiatan organisasi, pekerjaan sebelumnya, atau hasil karya yang bisa ditunjukkan kepada perusahaan.

Kemampuan di luar skill teknis juga tidak kalah penting. Cara berkomunikasi, kedisiplinan, kemampuan bekerja sama, kemauan menerima masukan, serta kemampuan beradaptasi sering kali menjadi pertimbangan dalam proses rekrutmen. Hal-hal seperti ini memang tidak selalu terlihat dari daftar sertifikat di CV, tetapi bisa terlihat ketika seseorang mengikuti wawancara atau mulai menjalani pekerjaan.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu melihat proses rekrutmen secara lebih terbuka. Seleksi yang ketat memang diperlukan agar perusahaan mendapatkan orang yang sesuai. Namun, terlalu fokus pada persyaratan yang kaku juga bisa membuat perusahaan kehilangan kandidat yang sebenarnya memiliki potensi. Jika seseorang belum menguasai seluruh kemampuan yang dibutuhkan, pelatihan dan pengembangan dari dalam perusahaan bisa menjadi salah satu pilihan.

Pada akhirnya, dunia kerja yang semakin selektif bukan berarti skill menjadi tidak penting. Justru sebaliknya, skill tetap menjadi dasar yang harus dimiliki. Hanya saja, di tengah banyaknya pencari kerja dan cepatnya perubahan kebutuhan industri, skill saja tidak selalu cukup. Pencari kerja perlu memiliki kemampuan yang tepat, mampu menunjukkan bukti nyata dari kemampuannya, dan terus menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan dunia kerja. Jadi, bukan hanya soal seberapa banyak skill yang kita punya, tetapi seberapa sesuai skill tersebut dengan pekerjaan yang ingin kita dapatkan.


Penulis:
1. Asshobirin Nanda Nugraha

2. Agisna Almulki
3. Suci Franciska
Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Yunus Nurhasan, S.E., M.M.


Editor: Darsono. AR

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *