Buah sukun yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan ternyata dapat dikembangkan menjadi material kemasan pelindung. Lima mahasiswa Universitas Brawijaya mengembangkan SUKOO-PACK, biodegradable packing peanutsberbahan dasar pati sukun yang dirancang sebagai alternatif material kemasan pelindung berbasis polistirena dan bubble wrap.
SUKOO-PACK kini tidak lagi berhenti pada tahap gagasan. Produk tersebut telah memasuki proses produksi dan menjalani sejumlah pengujian untuk mengevaluasi karakteristik materialnya. Tim juga mulai melakukan validasi pasar melalui survei calon pengguna serta menjalin kerja sama dengan mitra UMKM dan pemasok sukun lokal.
Dari Persoalan Limbah Kemasan Menjadi Produk Berbasis Sukun
Pertumbuhan aktivitas perdagangan daring turut meningkatkan kebutuhan terhadap kemasan pelindung selama proses pengiriman. Barang yang dikirim melalui jasa logistik umumnya membutuhkan material tambahan untuk mengisi ruang kosong dan membantu mengurangi risiko kerusakan selama proses distribusi.
Di sisi lain, material seperti polistirena dan sejumlah kemasan plastik konvensional membutuhkan waktu yang panjang untuk terurai. Setelah menjalankan fungsi perlindungannya dalam waktu relatif singkat, material tersebut dapat bertahan di lingkungan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan SUKOO-PACK.
Tim memanfaatkan pati buah sukun (Artocarpus altilis) sebagai bahan baku utama. Sukun dipilih karena memiliki kandungan pati yang dapat dikembangkan menjadi material berbasis biopolimer serta memiliki potensi untuk memperoleh nilai tambah melalui proses pengolahan.
Pati sukun kemudian dikombinasikan dengan plasticizer berbasis gliserol untuk meningkatkan karakteristik material. Selanjutnya, material dibentuk menggunakan metode microwave-assisted foaming hingga menghasilkan struktur ringan dan berpori yang dirancang untuk mengisi ruang kosong dalam kemasan serta membantu mengurangi benturan terhadap barang.
“Tidak hanya ramah lingkungan, kami juga memastikan SUKOO-PACK hadir sebagai kemasan yang kuat dan tahan terhadap benturan,” ujar Aprilia, mahasiswi Kimia Murni Universitas Brawijaya sekaligus anggota tim pemasaran SUKOO-PACK.
Tidak Berhenti pada Prototipe, SUKOO-PACK Jalani Pengujian Produk

Salah satu tahapan penting dalam pengembangan SUKOO-PACK adalah validasi karakteristik produk. Tim telah melakukan sejumlah pengujian untuk mengevaluasi material sebelum produk diperkenalkan secara lebih luas.
Pengujian tersebut mencakup FTIR untuk mengidentifikasi karakteristik kimia material, soil burial test untuk mengamati kemampuan material terdegradasi di dalam tanah, serta pengujian kelarutan material dalam air.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan tim, SUKOO-PACK dapat larut dalam air dalam waktu beberapa menit. Sementara itu, melalui soil burial test, material menunjukkan proses degradasi dalam rentang waktu 1–2 hari setelah berada di dalam tanah.
Selain aspek degradasi, tim juga mengevaluasi kemampuan material dalam memberikan perlindungan terhadap barang, karakteristik mekanis, serta ketahanannya terhadap kondisi lingkungan.
BACA JUGA: Inovasi Pengolahan Eceng Gondok Menjadi Kompos Ramah Lingkungan
Tahap pengujian menjadi bagian penting dalam pengembangan SUKOO-PACK karena kemasan pelindung tidak hanya perlu menawarkan material yang lebih mudah terdegradasi, tetapi juga harus mampu menjalankan fungsi perlindungannya selama penyimpanan dan distribusi barang.
Dari Validasi Produk Menuju Validasi Pasar
Pengembangan SUKOO-PACK juga mulai bergerak dari aspek teknis menuju validasi pasar. Selain melakukan pengujian produk, tim melaksanakan survei untuk mengetahui penerimaan calon pengguna terhadap kemasan pelindung berbahan dasar pati sukun.
Hasil survei menunjukkan bahwa 98,1 persen dari 53 responden menyatakan tertarik mencoba SUKOO-PACK. Responden terdiri atas pelaku UMKM yang bergerak pada bidang barang pecah belah, logistik, dan makanan.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa kemampuan melindungi barang, karakteristik ramah lingkungan, dan harga menjadi beberapa faktor yang dipertimbangkan calon pengguna dalam memilih material kemasan pelindung.
Setelah memperoleh respons dari calon pengguna, tim melanjutkan proses pengembangan dengan menjalin kerja sama bersama mitra UMKM dan pemasok sukun lokal. Kerja sama tersebut mencakup pembelian barang serta penyediaan bahan baku utama berupa buah sukun.
Kolaborasi dengan mitra menjadi bagian dari upaya tim untuk mengembangkan SUKOO-PACK dalam kondisi yang lebih dekat dengan kebutuhan pengguna sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku yang diperlukan dalam proses produksi.
Dari Proyek Mahasiswa Menuju Pengembangan Pasar

Pengembangan SUKOO-PACK kini tidak lagi hanya berfokus pada pembuktian bahwa pati sukun dapat diolah menjadi packing peanuts. Tim juga menghadapi tantangan untuk menjaga konsistensi performa produk, meningkatkan efisiensi proses produksi, serta menyesuaikan produk dengan kebutuhan pengguna.
Validasi teknis dan pasar menjadi bagian penting dalam menentukan kemungkinan penerapan SUKOO-PACK dalam skala yang lebih luas. Pengembangan tersebut juga membuka peluang pemanfaatan sukun sebagai bahan baku lokal dengan nilai tambah yang tidak terbatas pada sektor pangan.
Melalui pengembangan yang terus dilakukan, tim berharap SUKOO-PACK dapat menjadi salah satu alternatif kemasan pelindung berbasis bahan hayati lokal yang mampu mendukung kebutuhan sektor logistik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material kemasan berbasis plastik konvensional.
Penulis: Ni Made Oktia Paramitha Dewi
Mahasiswi Program Studi Teknik Industri, Universitas Brawijaya (UB)
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













