Strategi Hortimart Mengadaptasi Musang King: Dari Komoditas Impor ke Produk Lokal Bernilai Tinggi

strategi durian premium
Mahasiswa Magister Sains Agribisnis (MSA) IPB University melakukan kunjungan Field Trip (NAFT) ke Hortimart Agro Center pada Jumat, 17 April 2026 (Foto: Dok. Penulis)

Popularitas durian di Indonesia kian meningkat dan mencuri perhatian dalam beberapa tahun terakhir.

Setiap tahun, Indonesia mengimpor durian senilai puluhan juta dolar AS dengan sebagian besar berasal dari Thailand dan Malaysia.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di antara varietas durian yang paling diminati dan paling mahal adalah Musang King.

Varietas ini berasal dari Malaysia dengan daging tebal berwarna kuning pekat, rasa pahit-manis yang khas, dan harganya bisa mencapai Rp500.000,00 per kilogram di pasar dalam negeri.

Sayangnya, Indonesia yang menjadi salah satu penghasil durian terbesar di dunia masih bergantung pada impor untuk durian kelas premium.

Pertanyaannya bukan sekedar soal agrikultur, tetapi juga tentang nilai tambah.

Ketika satu kilogram Musang King dijual seharga lima kali lipat durian lokal biasa, sebagian besar margin keuntungan tersebut akan masuk ke kantong produsen asing.

Sehingga, apakah Indonesia mampu dan sudah mengambil alih niche market tersebut?

Gambaran mengenai upaya tersebut diperoleh mahasiswa Magister Sains Agribisnis IPB University dalam kunjungan lapang ke Hortimart Agro Center di Bawen, Semarang, dalam rangkaian National Agribusiness Field Trip (NAFT).

Hortimart dikenal sebagai kawasan agribisnis terpadu yang menggabungkan budidaya hortikultura, penjualan bibit, agro store, restoran, hingga agrowisata dalam satu ekosistem usaha.

Jawabannya, setidaknya sebagian sudah mulai terlihat di Hortimart.

Melalui Hortimart Agro Center di Bawen, Semarang yang telah berhasil mengembangkan Musang King secara Lokal sejak lebih dari satu dekade lalu.

Varietas hasil kloning yang dilakukan Hortimart telah berhasil didaftarkan secara resmi di Kementerian Pertanian Indonesia di bawah nama “MK Hortimart.”

Ini menjadi sebuah pencapaian yang tidak datang tanpa adanya perjuangan panjang.

Pendiri Hortimart, Budi Darmawan, menjelaskan bahwa proses membawa Musang King dari Malaysia hingga berhasil dibudidayakan di Indonesia bukanlah perjalanan singkat.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada mendatangkan varietasnya, melainkan memastikan durian dapat “hidup nyaman” di tanah Indonesia.

Banyak pelaku yang mencoba membawa bibit varietas unggul, tetapi tidak semuanya berhasil menghasilkan buah sesuai standar pasar premium.

Banyak yang mengira lokalisasi varietas unggul semudah mendatangkan bibit lalu menanamnya, namun kenyataannya jauh lebih rumit.

Musang King yang tumbuh baik di iklim Malaysia dengan spesifikasi dari aspek curah hujan tertentu, tekstur tanah, dan fluktuasi suhu yang berbeda dari sebagian besar wilayah Indonesia.

Sehingga, memindahkan tanaman ke lingkungan baru berarti menghadapi risiko gagal tumbuh, produktivitas rendah, atau kualitas buah yang jauh di bawah standar aslinya.

Hortimart mengatasi tantangan ini melalui pendekatan yang mereka sebut “learning by doing,” di mana setiap siklus tanaman dijadikan sebagai dasar data dalam budidaya.

Pendekatan yang dilakukan tersebut dimulai dari teknik pemupukan, pola irigasi, pengendalian hama, hingga pemangkasan yang disesuaikan secara bertahap berdasarkan pengamatan lapangan, bukan hanya teori buku.

Hasil yang diperoleh pun bukan merupakan keberhasilan instan.

Butuh waktu bertahun-tahun dan investasi modal yang tidak kecil sebelum pohon pertama berbuah dengan kualitas yang bisa bersaing dengan produk impor.

Inilah mengapa tidak banyak pelaku yang mau dan mampu masuk ke segmen ini, dikarenakan barrier to entry-nya tinggi, baik dari segi waktu maupun modal.

Menariknya, model bisnis yang dilakukan Hortimart bukan hanya berhasil dari segi teknis, namun juga kemampuan mereka dalam membangun nilai dari setiap lapisan rantai bisnis.

Durian, khususnya Musang King, menjadi tulang punggung yang menguasai lebih dari 80 persen lahan kebun seluas 27 hektare.

Namun, Hortimart tidak membiarkan nasibnya bergantung pada satu komoditas yang memiliki siklus produksi panjang dan tidak menentu.

Maka dari itu, Hortimart melakukan diversifikasi pada dua level.

Pertama di tingkat produksi, di mana mereka mengembangkan berbagai jenis buah lain seperti jambu, jeruk, kelapa, dan kelengkeng sebagai buffer pendapatan selama masa tunggu durian.

Level kedua di tingkat hilir, mereka membangun ekosistem hilir bisnis yaitu agro store yang menjual buah segar dan bibit yang dihasilkan dari kebun Hortimart, restoran di tengah kebun, serta program agrowisata yang mengundang pengunjung untuk memberikan pengalaman langsung dalam proses pertanian khususnya pemanenan.

Model agrowisata lebih dari sekedar diversifikasi pendapatan, namun menjadi strategi branding yang cukup kuat.

Ketika konsumen datang langsung ke kebun, melihat proses Musang King lokal ditanam dan dirawat, konsumen tidak hanya membeli buah, namun terdapat cerita dan kepercayaan yang turut mereka peroleh.

Sehingga, hal tersebut menjadi keunggulan yang tidak bisa ditawarkan oleh produk impor yaitu kedekatan dengan sumber dan transparansi proses produksi.

strategi durian premium
Sesi sharing session bersama pendiri Hortimart, Ir. Budi Dharmawan (Foto: Dok. Penulis)

Secara harga, Musang King lokal dari Hortimart memang belum sepenuhnya mampu menyaingi produk impor yang diproduksi dalam skala besar.

Namun, ini bukan terkait pertarungan harga, ini menjadi pertarungan diferensiasi.

Produk lokal memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh produk impor, yaitu dari segi kesegaran (tidak melalui rantai distribusi panjang lintas negara), traceability (konsumen mengetahui asal buahnya), dan dukungan terhadap petani dalam negeri.

Jika Indonesia berhasil mengembangkan ekosistem produksi Musang King lokal dalam skala yang lebih luas, bukan hanya di Hortimart, tetapi di berbagai daerah dengan kondisi iklim yang sesuai, maka terdapat potensi nyata untuk mengurangi defisit neraca perdagangan hortikultura, serta bahkan dapat membuka peluang ekspor ke pasar regional seperti Singapura dan Hong Kong, di mana permintaan durian premium terus mengalami peningkatan.

Namun, ekspansi tidak dapat dilakukan secara instan.

Terdapat beberapa hambatan struktural yang perlu diperhatikan.

Dari segi siklus produksi durian yang panjang, membuat petani skala kecil sulit menanggung risiko tanpa dukungan pembiayaan atau kontrak hukum yang jelas.

Selain itu, ketersediaan bibit berkualitas dan terverifikasi masih terbatas, di mana pasar bibit durian Indonesia rawan pemalsuan, dengan bibit yang dijual sebagai Musang King tidak selalu asli.

Serta, belum ada standarisasi nasional yang ketat untuk klaim “Musang King Lokal,” sehingga reputasi produk rentan tergantikan oleh pemain yang tidak serius.

Hortimart mengatasi sebagian masalah ini dengan mendaftarkan varietasnya secara resmi.

Langkah tersebut tidak hanya akan melindungi dari segi merk, namun juga sebagai tanda kepada pasar bahwa produk mereka memiliki standar yang bisa dipertanggung jawabkan.

Keberhasilan Hortimart menjadi bukti konsep yang berharga bahwa lokalisasi Musang King bukan sekedar mimpi, tapi agar berkembang dari satu perusahaan menjadi industri.

Diperlukan dukungan kebijakan, mulai dari insentif bagi petani yang mau investasi jangka panjang, program sertifikasi bibit yang lebih ketat, hingga fasilitasi akses pasar ekspor untuk produk durian premium lokal.

Prosesnya memang panjang dan penuh risiko, tetapi membuka peluang baru bagi pengembangan agribisnis bernilai tinggi di dalam negeri.

Jika satu kawasan di Semarang mampu menunjukkan bahwa Musang King dapat dibudidayakan dan dipasarkan sebagai produk premium lokal, maka tantangan berikutnya bukan lagi soal budidaya, melainkan bagaimana membangun ekosistem industri durian premium Indonesia yang mampu bersaing secara lebih luas.

Pertanyaan yang lebih menarik ke depan, bukan lagi sekedar “bisakah Indonesia memproduksi Musang King lokal?” pertanyaan tersebut sudah berhasil terjawab.

Namun, pertanyaannya adalah “apakah Indonesia memiliki ekosistem kebijakan dan bisnis yang cukup matang untuk mengubah satu kisah sukses menjadi industri yang mengubah posisi Indonesia dalam peta perdagangan durian dunia?


Penulis:
1. Aida Kamilah Syahidah
2. Masyithah
3. Aliyah Maharani

4. Evelyn Egidia Sitopu
5. Gyfariani Annisa Nursetya
6. Nia Rosiana
7. Annisa Dwi Utami
Mahasiswa Magister Sains Agribisnis, IPB University


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses