Permasalahan lingkungan sering kali menyimpan potensi yang belum banyak dimanfaatkan.
Hal inilah yang ditemukan oleh Tim KKN Tematik Inovasi IPB University KARAWANGKAB06 selama melaksanakan pengabdian di Desa Tambaksumur, Kecamatan Tirtajaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Di balik hamparan lahan pertanian dan tambak yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, terdapat persoalan berupa melimpahnya eceng gondok yang menutupi saluran irigasi dan menghambat aliran air menuju lahan pertanian.

Pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan kapasitas saluran irigasi semakin berkurang, sehingga distribusi air menjadi kurang optimal.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan aktivitas pertanian, tetapi juga meningkatkan beban masyarakat dalam membersihkan saluran irigasi secara berkala.
Melihat permasalahan tersebut, Tim KARAWANGKAB06 yang beranggotakan Muhammad Naufal Haidar Aidin, Kayla Kallista, Ayesha Ghaida Munawwara Syihab, Muhammad Rifqi Kaizar, Putri Ayu Aziizah, Auresyifa Ahysta Putri Margono, dan Akbar Maulana menghadirkan solusi berbasis inovasi dengan mengolah eceng gondok menjadi pupuk kompos.

Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi konsep ekonomi sirkular, yaitu mengubah limbah menjadi sumber daya yang kembali memberikan manfaat bagi lingkungan.
Eceng gondok yang sebelumnya dianggap sebagai gulma pengganggu dimanfaatkan sebagai bahan baku utama pembuatan kompos karena memiliki kandungan bahan organik yang mampu meningkatkan kualitas tanah.
Penggunaan kompos juga menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia sekaligus memperbaiki kesuburan tanah secara berkelanjutan.
Kegiatan ini melibatkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Tambaksumur sebagai mitra utama.
Melalui kegiatan sosialisasi dan praktik langsung, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai manfaat pupuk organik, tetapi juga mempelajari tahapan pembuatannya sehingga dapat diterapkan secara mandiri setelah program KKN berakhir.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan pengambilan eceng gondok secara langsung dari saluran irigasi desa.
Sebanyak 25 kg eceng gondok berhasil dikumpulkan dan kemudian dicacah menjadi bagian-bagian kecil untuk mempercepat proses penguraian.
Bahan tersebut selanjutnya dipadukan dengan 10 kg sekam padi, 10 kg kotoran kambing, serta larutan aktivator yang terdiri atas EM4 dan molase yang sudah dilarutkan dengan air.
Seluruh bahan disusun secara berlapis hingga membentuk enam lapisan dengan ukuran tumpukan sekitar 60 × 60 cm.
Setiap lapisan disiram menggunakan larutan aktivator agar proses fermentasi berlangsung lebih cepat dan merata.
Tumpukan kompos kemudian dibentuk menyerupai kubus untuk mempertahankan panas hasil aktivitas mikroorganisme sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung secara optimal.
Setelah seluruh bahan tersusun, tumpukan ditutup menggunakan terpal guna menjaga suhu dan kelembapan selama masa fermentasi.

Selama proses pengomposan, kompos dipantau secara berkala dan dilakukan pembalikan apabila diperlukan agar seluruh bahan terurai secara merata hingga menghasilkan kompos yang matang.
Lebih dari sekadar pelatihan pembuatan pupuk organik, kegiatan ini menjadi upaya nyata dalam membangun kesadaran masyarakat bahwa permasalahan lingkungan dapat diselesaikan melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Eceng gondok yang sebelumnya menjadi penyebab terganggunya irigasi kini memiliki nilai tambah sebagai pupuk organik yang mampu mendukung produktivitas pertanian sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Melalui inovasi ini, Tim KKN Tematik Inovasi IPB University berharap masyarakat Desa Tambaksumur dapat terus mengembangkan pengolahan eceng gondok secara mandiri sehingga manfaatnya tidak berhenti pada masa pelaksanaan KKN.
Dengan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, eceng gondok tidak lagi dipandang sebagai gulma yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang mampu menciptakan pertanian yang lebih produktif, ramah
lingkungan, dan berkelanjutan.
Penulis: KARAWANGKAB06
Mahasiswa IPB University
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















