“Aku yakin… kalau aku dikasih ujian ini, berarti aku mampu,” ucap Ibu R, ibu dengan satu anak spesial yang berusia 4 tahun.
Mendengar ucapan penuh keyakinan dari Ibu R membuat saya juga yakin bahwa Ibu R merupakan salah satu sosok ibu kuat yang pernah saya temui. Kekuatan dan keyakinan terhadap takdir tersebut tidak hanya dirasakan oleh Ibu R seorang diri.
Saya yakin, banyak ibu di luar sana yang senantiasa memiliki kekuatan yang sama.
Namun, di balik ucapan-ucapan tegar dan penerimaan tersebut, pernahkah kita mendengar dan memahami lebih dekat keluh kesah yang mungkin tidak sempat mereka sampaikan kepada orang lain?
Sabar dan Ikhlas
Nasihat dan tuntutan dari lingkungan sekitar untuk terus memiliki kesabaran dan keikhlasan mungkin sudah tidak terdengar asing bagi mereka. Terlebih, imbuhan seperti manusia “kuat”, manusia “hebat”, dan manusia “pilihan” menjadi frasa-frasa yang diyakini mampu membesarkan hati seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus.
Sayangnya, menjadi ibu yang bertahan dan menerima kondisi anak yang berbeda tidak selalu melewati perjalanan yang mudah dan baik-baik saja. Ada hal-hal yang mengharuskan mereka menelan pahitnya proses tersebut terlebih dahulu.
“Saya pernah ambil kursus bahasa Perancis agar saya tahu bagaimana sih hidup di lingkungan yang bahasanya tidak bisa kita mengerti. Saya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi anak saya. Ya, berada di kelas yang semuanya berbicara bahasa Perancis, sementara saya tidak paham dan mengerti, ternyata tidak enak sama sekali.”
Sepenggal cerita dari seorang ibu dengan anak sensory processing disorder (SPD) yang mengalami keterlambatan kemampuan komunikasi.
Cerita tersebut menjadi pengingat bahwa di balik senyum dan penerimaan yang ditunjukkan seorang ibu, ada usaha yang diam-diam diperjuangkan untuk berusaha mengerti dan memahami apa yang dialami dan dirasakan oleh anak.
Perjalanan seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus mengorbankan berbagai aspek dalam kehidupan. Tidak hanya waktu dan tenaga yang terkuras, biaya juga dapat menjadi salah satu hal besar yang harus dipersiapkan dan dikeluarkan.
Parenting Stress pada Ibu dengan Anak Berkebutuhan Khusus
Berbicara mengenai perjalanan dan pengorbanan panjang yang dihadapi oleh ibu tentu erat kaitannya dengan pembahasan mengenai parenting stress atau stres pengasuhan.
Apa itu parenting stress yang dihadapi oleh ibu dengan anak berkebutuhan khusus? Mengapa kondisi tersebut dapat muncul? Dan bagaimana bentuk dukungan yang seharusnya diberikan oleh orang-orang di sekitar mereka?
Berikut adalah gambaran singkat mengenai parenting stress pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus.
Parenting stress atau stres pengasuhan merupakan tekanan yang muncul ketika tuntutan dalam menjalankan peran pengasuhan dirasakan lebih besar daripada kemampuan atau sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi tuntutan tersebut (Abidin, 1992; Aviles et al., 2024).
Parenting stress yang dialami oleh ibu dengan anak berkebutuhan khusus bukanlah pertanda bahwa ibu tidak mampu hadir dan memberikan kasih sayang kepada anak.
Sebaliknya, parenting stress merupakan kondisi yang dinamis dan dapat perlahan teratasi ketika ibu memperoleh sumber daya serta dukungan yang memadai dari lingkungan sekitar (Fang et al., 2024).
Mengapa Ibu dengan Anak Berkebutuhan Khusus Dapat Mengalami Parenting Stress?
Parenting stress dapat muncul dari berbagai sumber. Kondisi ibu dengan anak berkebutuhan khusus dapat menghadirkan berbagai tantangan yang harus dihadapi dan dijalani, sehingga stres pengasuhan dapat muncul di tengah proses pengasuhan.
Menurut Cheng & Lai (2023), beberapa sumber parenting stress tersebut antara lain:
Tuntutan pengasuhan
Anak mungkin memerlukan waktu, perhatian, dan energi yang lebih besar.
Beban finansial
Pengeluaran untuk mendukung perkembangan anak, seperti biaya terapi, pendidikan, pemeriksaan, transportasi, atau alat bantu, dapat menjadi beban tambahan bagi keluarga.
Kekhawatiran terhadap masa depan anak
Orang tua dapat memiliki kekhawatiran mengenai siapa yang akan mendampingi anak di masa depan, bagaimana kehidupan anak ketika orang tua sudah tidak mampu mendampingi, serta bagaimana keberlangsungan kehidupan anak kelak.
Rendahnya dukungan sosial
Terkadang, ibu merasa harus menghadapi proses pengasuhan seorang diri tanpa bantuan dan dukungan yang memadai dari keluarga maupun lingkungan sekitar.
Stigma masyarakat
Anggapan negatif dari masyarakat dapat menjadi salah satu sumber parenting stress pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus, terlebih apabila anggapan atau komentar tersebut berasal dari kerabat terdekat.
Lelah yang Samar
Parenting stress pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus sering kali dikaitkan dengan munculnya perilaku emosional yang mungkin sulit dikendalikan.
Padahal, apabila kita mengenali dan memahami lebih dalam, bentuk parenting stress pada ibu sering kali tersembunyi dan tampak samar.
Parenting stress dapat terlihat melalui berbagai kondisi, seperti ibu yang menjadi lebih mudah marah, mudah merasa bersalah, sulit beristirahat, kehilangan waktu untuk diri sendiri, merasa tidak cukup baik sebagai ibu, bahkan terkadang menarik diri dari lingkungan.
Tanda-tanda tersebut bukanlah penanda bahwa mereka merupakan ibu yang “buruk” atau “tidak mampu”. Menyadari tanda-tanda parenting stress justru menjadi bagian dari kemampuan ibu untuk mengenali kondisi dirinya sendiri.
Bagi orang-orang di sekitar, tanda-tanda tersebut dapat menjadi sinyal untuk melangkah lebih dekat agar dukungan dan kepedulian yang diberikan dapat benar-benar dirasakan dan diterima mereka.
Bentuk Dukungan untuk Ibu
Hidup berdampingan dengan ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus membutuhkan pengetahuan dan pemahaman mengenai bagaimana memberikan dukungan serta afirmasi positif kepada mereka.
Dukungan tidak hanya berasal dari satu pihak. Kolaborasi antara berbagai lingkungan, disertai kesadaran dari diri sendiri, dapat memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi ibu dengan anak berkebutuhan khusus.
Lalu, apa saja bentuk dukungan yang diperlukan?
Keluarga
Dukungan dapat diberikan melalui pembagian tugas pengasuhan, memberikan waktu istirahat bagi ibu, serta senantiasa mendengarkan tanpa menghakimi ketika ibu menyampaikan keluh kesahnya (Cheng & Lai, 2023).
Sekolah dan Terapis
Sekolah maupun terapis dapat membangun komunikasi yang terbuka dengan ibu, memberikan informasi mengenai perkembangan anak secara berkala, serta melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebutuhan anak (Takenaka et al., 2025).
Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial dapat memberikan penerimaan yang utuh kepada ibu dan anak berkebutuhan khusus, menghindari komentar atau anggapan yang menghakimi, serta menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus dan keluarganya (Cheng & Lai, 2023b).
Dari Diri Sendiri
Ibu juga perlu menyadari dan mengakui bahwa rasa lelah merupakan hal yang manusiawi. Mencari bantuan ketika diperlukan dan memberikan waktu bagi tubuh serta pikiran untuk beristirahat bukanlah bentuk kegagalan dalam menjalankan peran sebagai ibu (Gutierrez & Ramos, 2025).
Ibu dengan anak berkebutuhan khusus merupakan manusia yang memiliki hak untuk mengakui rasa lelahnya. Namun, rasa lelah tersebut tidak berarti bahwa ia menyerah.
Ketika seorang ibu mendapatkan tempat dan ruang yang aman untuk didengar dan didukung, ia dapat memiliki kesempatan untuk kembali mendampingi anak dengan kondisi diri yang lebih baik. Karena di balik perjuangan seorang ibu, ada lelah yang juga perlu didengar.
Referensi
Aviles, A. I., Betar, S. K., Cline, S. M., Tian, Z., Jacobvitz, D. B., & Nicholson, J. S. (2024). Parenting young children during COVID-19: Parenting stress trajectories, parental mental health, and child problem behaviors. Journal of Family Psychology, 38(2), 296–308. https://doi.org/10.1037/fam0001181
Cheng, A. W. Y., & Lai, C. Y. Y. (2023a). Parental stress in families of children with special educational needs: a systematic review. Frontiers in Psychiatry, 14. https://doi.org/10.3389/fpsyt.2023.1198302
Fang, Y., Luo, J., Boele, M., Windhorst, D., van Grieken, A., & Raat, H. (2024). Parent, child, and situational factors associated with parenting stress: a systematic review. European Child & Adolescent Psychiatry, 33(6), 1687–1705. https://doi.org/10.1007/s00787-022-02027-1
Gutierrez, J., & Ramos, A. K. (2025). A Brief Report of Self-Care Practices and Respite Use Among Hispanic/Latina Mothers of Children with Developmental Disabilities. Maternal and Child Health Journal, 29(4), 441–448. https://doi.org/10.1007/s10995-025-04081-y
Takenaka, S., Oda, T., Kase, Y., Suzuki, Y., & Fujii, H. (2025). Challenges in Child Development Support and After-School Day Services Using Occupational Therapy: An Exploratory Analysis in Yamagata Prefecture, Japan. Cureus. https://doi.org/10.7759/cureus.94103
Penulis: Nawabika Izzah Zaizafun
Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Airlangga
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















