Gaji Fresh Graduate di Indonesia: Antara Harapan dan Kenyataan

Fresh Graduate
Ilustrasi Fresh Graduate

Setelah lulus kuliah, salah satu pertanyaan yang sering muncul bukan lagi soal skripsi atau nilai, tetapi, “Nanti saya dapat kerja dengan gaji berapa?”

Setelah bertahun-tahun menjalani pendidikan, mengerjakan tugas, mengikuti praktik, hingga menyelesaikan skripsi atau tugas akhir, terciptalah harapan bahwa gelar yang diperoleh dapat menjadi jalan menuju pekerjaan yang baik dengan gaji yang layak dan sesuai.

Namun, kenyataan di dunia kerja terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

Tidak sedikit fresh graduate yang berharap mendapatkan gaji Rp5 juta–Rp6 juta bahkan lebih ketika pertama kali bekerja.

Harapan tersebut muncul karena beredar di media sosial informasi tentang minimal gaji dari jurusan yang mereka ambil.

Di sisi lain, ketika mulai mengirimkan lamaran, fresh graduate justru menemukan berbagai lowongan dengan gaji yang jauh di bawah ekspektasi mereka.

Bahkan, ada perusahaan yang meminta banyak kemampuan dan tanggung jawab, tetapi menawarkan gaji yang relatif rendah.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: sebenarnya berapa gaji yang realistis bagi seorang fresh graduate di Indonesia?

Baca Juga: Analisis Pasar Tenaga Kerja dan Upah di Era Digital: Perspektif Ekonomi Manajerial

Gaji Pekerja Indonesia Masih Beragam

Untuk melihat kondisi tersebut, kita tidak bisa hanya menggunakan satu angka sebagai gambaran gaji seluruh pekerja di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata upah buruh/karyawan/pegawai di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai sekitar Rp3,33 juta per bulan.

Angka tersebut meningkat 1,94 persen dibandingkan Agustus 2024 yang berada di angka Rp3,27 juta.

Namun, angka tersebut merupakan rata-rata seluruh buruh/karyawan/pegawai, bukan khusus fresh graduate.

Artinya, gaji seseorang yang baru lulus kuliah bisa saja berada di bawah maupun di atas angka tersebut, tergantung pada pekerjaan, sektor industri, lokasi tempat kerja, pendidikan, pengalaman, keterampilan, dan kebijakan masing-masing perusahaan tempat kita bekerja.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa gelar pendidikan memang penting, tetapi belum bisa menentukan besarnya penghasilan seseorang ketika melamar kerja.

Fresh Graduate dan Persaingan Dunia Kerja

Salah satu tantangan terbesar bagi fresh graduate adalah persaingan dalam mendapatkan pekerjaan.

Setiap tahun, banyak lulusan baru memasuki pasar tenaga kerja.

Mereka tidak hanya bersaing dengan sesama lulusan baru, tetapi juga dengan orang yang sebelumnya sudah memiliki pengalaman kerja.

Berdasarkan data BPS pada Agustus 2025, tingkat pengangguran terbuka untuk lulusan universitas berada pada angka 904.440 orang.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak otomatis membuat seseorang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan memiliki banyak pilihan calon tenaga kerja.

Sementara itu, fresh graduate yang belum mempunyai pengalaman kerja sering kali berada pada posisi yang lebih sulit ketika melakukan negosiasi gaji.

Perusahaan mungkin berpikir bahwa seorang lulusan baru masih membutuhkan pengalaman untuk membuktikan kemampuan mereka.

Sementara dari sisi fresh graduate, mereka merasa bahwa pendidikan dan keterampilan yang sudah dimiliki seharusnya mendapatkan penghargaan dalam bentuk gaji yang layak.

Di sinilah terjadi perbedaan antara harapan dan kenyataan.

Baca Juga: Jebakan Konten Media Sosial Tenaga Kesehatan: Menakar Batas Etik dan Hukum untuk Perawat di Ruang Digital

Mengapa Gaji Fresh Graduate Bisa Rendah?

Jika kita melihat dari sudut pandang ekonomi mikro, gaji merupakan salah satu bentuk harga dalam pasar tenaga kerja.

Perusahaan membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan kegiatan produksinya.

Sementara itu, masyarakat menawarkan tenaga, waktu, pendidikan, dan keterampilan yang mereka miliki.

Besarnya upah kemudian dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran tenaga kerja.

Ketika jumlah pencari kerja lebih banyak dibandingkan dengan lowongan yang tersedia, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi semakin tinggi.

Dalam situasi seperti ini, perusahaan memiliki lebih banyak pilihan kandidat.

Fresh graduate yang belum memiliki pengalaman akhirnya dapat berada dalam posisi tawar yang lebih rendah.

Namun, hal ini bukan berarti seorang fresh graduate tidak memiliki nilai.

Justru, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

Gelar Saja Tidak Selalu Cukup

Saat ini, perusahaan tidak hanya melihat latar belakang pendidikan seseorang.

Kemampuan komunikasi, penggunaan teknologi, Microsoft Office, bahasa asing, kemampuan bekerja dalam tim, problem solving, pemasaran, hingga kemampuan beradaptasi dapat menjadi pertimbangan dalam proses rekrutmen.

Contohnya, dua orang memiliki gelar pendidikan yang sama.

Orang pertama hanya memiliki pengalaman akademik, sedangkan orang kedua pernah mengikuti magang, organisasi, freelance, atau memiliki kemampuan tambahan yang relevan dengan pekerjaan.

Dalam kondisi tertentu, perusahaan mungkin melihat kandidat kedua karena memiliki nilai lebih dalam pengalaman untuk menerapkan kemampuannya.

Jadi, gelar pendidikan tetap penting, tetapi pengalaman dan keterampilan juga ikut menentukan nilai seseorang di pasar kerja.

Baca Juga: Di Tengah Gelombang PHK, Fresh Graduate Semakin Sulit Mendapat Pekerjaan

Gaji Rp5 Juta: Realistis atau Terlalu Tinggi?

Pertanyaan mengenai apakah fresh graduate wajar meminta gaji Rp5 juta sebenarnya tidak bisa dijawab hanya dengan “iya” atau “tidak”.

Menurut kami, angka tersebut bisa saja realistis untuk posisi, sektor, perusahaan, dan wilayah tertentu.

Namun, angka yang sama belum tentu realistis untuk semua jenis pekerjaan dan daerah.

Fresh graduate yang melamar pekerjaan di perusahaan besar dengan tanggung jawab tinggi dan membutuhkan keterampilan khusus tentu memiliki kondisi yang berbeda dengan seseorang yang melamar pekerjaan entry-level di perusahaan kecil.

Selain itu, gaji juga harus dilihat bersama dengan benefit lainnya.

Misalnya, ada pekerjaan yang memberikan gaji lebih rendah tetapi menyediakan uang makan, transportasi, BPJS, bonus, pelatihan, dan jenjang karier yang jelas.

Ada juga pekerjaan dengan gaji lebih tinggi tetapi memiliki jam kerja panjang dan tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Karena itu, membandingkan pekerjaan hanya berdasarkan angka gaji dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang kurang tepat.

Biaya Hidup Juga Menentukan

Hal lain yang sering dilupakan ketika membicarakan gaji adalah biaya hidup.

Gaji Rp4 juta di suatu daerah belum tentu memiliki daya beli yang sama dengan gaji Rp4 juta di kota besar.

Fresh graduate yang tinggal bersama orang tua mungkin dapat menggunakan sebagian besar penghasilannya untuk menabung.

Sebaliknya, fresh graduate yang harus membayar kos, transportasi, makanan, dan kebutuhan sehari-hari sendiri akan memiliki beban pengeluaran yang lebih besar.

Dengan pendapatan yang terbatas, seseorang harus menentukan prioritas.

Apakah gaji digunakan untuk kebutuhan sehari-hari? Berapa yang bisa ditabung?

Apakah masih ada uang untuk meningkatkan kemampuan? Atau justru seluruh pendapatan habis untuk kebutuhan dasar?

Karena itu, ketika membicarakan “gaji yang layak”, nominal saja sebenarnya belum cukup untuk menjadi pertimbangan.

Antara Menerima Pengalaman atau Menunggu Gaji Tinggi

Fresh graduate sering berada dalam pilihan yang sulit.

Di satu sisi, mereka ingin mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang sesuai harapan.

Di sisi lain, terlalu lama menunggu pekerjaan yang dianggap ideal juga dapat membuat mereka kehilangan kesempatan mendapatkan pengalaman.

Menurut kami, pekerjaan pertama tidak harus selalu menjadi pekerjaan terakhir.

Pekerjaan pertama dapat dijadikan sebagai tempat untuk belajar mengenai dunia profesional.

Dari sana, seseorang bisa belajar berkomunikasi dengan atasan dan rekan kerja, memahami sistem perusahaan, mengelola waktu, menyelesaikan masalah, serta mengetahui kemampuan diri sendiri.

Pengalaman tersebut nantinya dapat menjadi modal ketika mencari pekerjaan berikutnya.

Namun, menerima pekerjaan dengan alasan “yang penting dapat pengalaman” juga tetap harus memiliki batas.

Fresh graduate perlu melihat apakah gaji yang diberikan masih masuk akal dibandingkan dengan tanggung jawab, jam kerja, lokasi, dan kebutuhan hidup.

Jangan sampai pengalaman dijadikan alasan untuk mengabaikan hak dan kesejahteraan pekerja.

Perusahaan dan Fresh Graduate Sama-Sama Perlu Realistis

Menurut kami, permasalahan gaji fresh graduate tidak bisa hanya dibebankan kepada salah satu pihak.

Fresh graduate perlu realistis terhadap kondisi pasar kerja.

Mereka perlu memahami bahwa gelar pendidikan tidak otomatis menghasilkan gaji tinggi.

Kemampuan juga perlu terus dikembangkan agar memiliki nilai lebih dibandingkan kandidat lainnya.

Di sisi lain, perusahaan juga perlu realistis dalam memberikan beban pekerjaan dan kompensasi yang diberikan untuk karyawan.

Jika sebuah posisi membutuhkan banyak tanggung jawab, jam kerja panjang, kemampuan khusus, serta target yang tinggi, maka kompensasi yang diberikan seharusnya juga mempertimbangkan tuntutan tersebut.

Hubungan antara perusahaan dan pekerja seharusnya tidak hanya dilihat sebagai hubungan antara pemberi kerja dan pencari kerja, tetapi sebagai hubungan yang saling membutuhkan.

Perusahaan membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan bisnis dan pekerja membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh pendapatan serta mengembangkan karier.

Harapan Boleh Tinggi, tetapi Harus Disertai Persiapan

Menurut kami, tidak ada yang salah dengan fresh graduate yang memiliki target gaji tinggi.

Memiliki target justru dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kemampuan.

Yang perlu diubah bukan semata-mata targetnya, tetapi cara untuk mencapainya.

Jika ingin mendapatkan gaji yang lebih tinggi, seorang fresh graduate perlu bertanya kepada dirinya sendiri: keterampilan apa yang saya miliki? Apa yang membedakan saya dari kandidat lain? Pengalaman apa yang sudah saya punya? Dan keterampilan apa yang masih harus saya pelajari?

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar membandingkan gaji dengan teman atau melihat angka penghasilan seseorang di media sosial.

Sebab, setiap orang memiliki kondisi, pendidikan, pengalaman, lokasi, dan peluang yang berbeda.

Fresh graduate perlu menilai gaji pertama secara realistis.

Gaji fresh graduate di Indonesia memang berada di antara harapan dan kenyataan.

Harapan untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi merupakan sesuatu yang wajar.

Namun, kenyataan menunjukkan bahwa besarnya gaji dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi pasar tenaga kerja, pendidikan, pengalaman, keterampilan, sektor pekerjaan, hingga lokasi.

Data BPS menunjukkan bahwa rata-rata upah buruh/karyawan/pegawai Indonesia pada Agustus 2025 sebesar Rp3,33 juta per bulan.

Namun, angka tersebut bukan patokan khusus untuk fresh graduate karena kondisi setiap pekerjaan berbeda.

Pada akhirnya, pekerjaan pertama sebaiknya tidak hanya dinilai dari besar kecilnya gaji.

Pengalaman, keterampilan, lingkungan kerja, peluang berkembang, dan jenjang karier juga perlu dipertimbangkan.

Fresh graduate tidak perlu merasa gagal hanya karena gaji pertama belum sesuai dengan harapan.

Begitu juga perusahaan sebaiknya tidak menganggap lulusan baru sebagai tenaga kerja yang tidak memiliki nilai.

Gaji pertama mungkin belum menjadi angka yang diinginkan, tetapi kemampuan yang dibangun dari pekerjaan pertama dapat menjadi jalan menuju penghasilan yang lebih baik di masa depan.

Yang terpenting adalah tetap realistis terhadap kondisi pasar, mengetahui nilai diri, terus meningkatkan kemampuan, dan tidak berhenti mencari kesempatan yang lebih baik.


Penulis:
1. Syafiq Ibnu Hidayat (251010550957)
2. Zahra Dina Kamalia (251010551130)
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Yossy Wahyu Indrawan, S.E., M.M.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *