Ketika Ibu Juga Bisa Lelah: Dosen IPB University Ulas Jurus Mengelola Stres dan Waktu untuk Kader Desa Ciasmara

manajemen stres dan waktu
Pemaparan Materi Manajemen Stres dan Kelelahan oleh Agung Minto Wahyu, S.M., S.Psi., M.Si. dalam program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) di Desa Ciasmara (31/7/2026)

Mengurus rumah tangga, mendidik anak, hingga membantu perekonomian keluarga kerap membuat para ibu rentan mengalami kelelahan fisik dan emosional (burnout).

Memahami realitas tersebut, Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia IPB University menghadirkan pelatihan psikoedukasi praktis dalam program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) di Desa Ciasmara, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jumat (31/7/2026).

Program Dospulkam ini berada di bawah naungan Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPA2I) IPB University.

Diikuti oleh 32 kader PKK dan Posyandu Desa Ciasmara, pelatihan ini menjadi wadah edukasi sekaligus ruang aman bagi para kader untuk belajar merawat kesehatan jiwa dan mengelola waktu secara bijak.

Pada sesi materi pertama, Agung Minto Wahyu, S.M., S.Psi., M.Si. mengupas tuntas topik Mental Tangguh: Strategi Manajemen Stres dan Pemulihan Kelelahan Keluarga.

Agung memaparkan bahwa stres merupakan respons alami tubuh, namun jika dibiarkan menumpuk tanpa pemulihan yang sengaja, hal itu dapat memicu burnout serta efek domino berupa “rantai kemarahan” di dalam rumah.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Kelelahan bagi Mahasiswa Aktivis Organisasi

“Stres yang tidak dikelola bisa dengan mudah menular ke anggota keluarga lain. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk mengenali sinyal bahaya tubuh, mengambil jeda sebelum mengambil keputusan saat emosi, serta menyisihkan waktu untuk self-care terjangkau tanpa rasa bersalah,” jelas Agung.

Sesi ini memicu antusiasme luar biasa dari para peserta saat memasuki ruang diskusi dan tanya jawab.

Para kader secara aktif dan terbuka melontarkan pertanyaan serta curahan hati mengenai beratnya tumpukan beban harian, tantangan meredam emosi saat menghadapi anak, hingga strategi agar tidak melampiaskan rasa lelah kepada keluarga.

Diskusi yang hidup ini mempertegas betapa krusialnya keterampilan regulasi emosi dan dukungan sosial bagi para perempuan penggerak desa.

manajemen stres dan waktu
Pemaparan Materi Manajemen Waktu dan Pekerjaan oleh Ismayanti Pratiwi, S.Si., M.Si. (Foto: Dok. Pribadi)

Sesi pelatihan kemudian dilanjutkan oleh Ismayanti Pratiwi, S.Si., M.Si. yang membawakan materi Harmonisasi Waktu, Keluarga, dan Pekerjaan.

Ismayanti menekankan bahwa manajemen waktu bukan sekadar mengatur jam kerja, melainkan menyelaraskan prioritas hidup.

Baca Juga: Mengapa ‘FOMO’ Bikin Mahasiswa Mudah Burnout? (Dan Cara Mengatasinya)

Ia memperkenalkan metode penyortiran prioritas ABC, pengurutan logis (sequencing), penandaan estimasi waktu (time-tagging), serta Prinsip Pareto 80/20 untuk mengeliminasi kesibukan yang tidak produktif.

“Jangan sampai kesibukan kita memaksa anak-anak mengikuti ritme orang dewasa yang terburu-buru hingga memicu Hurried Child Syndrome. Yang terpenting bukan cuma seberapa lama waktu yang kita miliki, tapi seberapa berkualitas momen yang kita habiskan bersama keluarga,” ungkap Ismayanti.

Melalui pendekatan Training of Trainers (ToT) ini, para kader PKK dan Posyandu Desa Ciasmara tidak hanya dibekali untuk menjaga kesehatan mental dan keharmonisan rumah tangga mereka sendiri, tetapi juga siap menjadi fasilitator lokal yang mendampingi warga desa menuju keluarga yang lebih sejahtera.


Penulis:
1. Yusnia Tuti Setyowati
2. Ismayanti Pratiwi
Mahasiswa Prodi Ilmu Keluarga dan Konsumen, IPB University


Editor: Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *