Universal Design for Learning dalam Pendidikan Inklusif: Apa Itu?

Universal Design for Learning

Universal Design for Learning (seterusnya disingkat UDL) adalah salah satu kerangka kerja yang sering digunakan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan inklusif di berbagai negara. Namun, masyarakat Indonesia, termasuk sebagian guru, mungkin belum akrab dengan konsep dan praktik UDL dalam dunia pendidikan. Untuk memperkenalkan UDL kepada masyarakat secara umum dan guru secara khusus, penulis akan menyajikan tulisan seputar UDL yang membahas teorinya serta bagaimana UDL dapat diterapkan di lapangan.

Spirit UDL: Merancang Pengalaman Belajar yang Fleksibel dan Inklusif

Penggagas konsep UDL, yakni David Rose dan Anne Meyer, terinspirasi oleh gerakan arsitektur yang mengusung ide universal design, pemekaran dari ide barrier-free design. Desain arsitektur yang universal dan bebas hambatan digadang-gadang dapat mendukung partisipasi penyandang disabilitas dalam masyarakat.

Ambillah contoh jalan landai yang sering kita temui di tepi trotoar. Awalnya, jalan landai yang disebut “curb cut” itu hanya dirancang untuk mengakomodasi pengguna kursi roda yang ingin naik-turun trotoar. Namun, ternyata masyarakat umum pun senang menggunakan curb cut, seperti orang tua yang mendorong kereta bayi, pelancong dengan koper beroda, atau pejalan kaki biasa yang mungkin ingin naik-turun trotoar dengan lebih mulus. Fenomena “efek curb cut” ini menunjukkan bahwa mendesain akomodasi lingkungan bagi satu kalangan berkebutuhan khusus bahkan dapat mengakomodasi banyak orang lain yang tidak berkebutuhan khusus.

David Rose dan Anne Meyer menyadur konsep “merancang lingkungan fisik yang dapat digunakan secara universal” ini menjadi “merancang lingkungan belajar yang dapat dimanfaatkan secara universal.” Daripada berusaha mengoreksi anak yang kesulitan beradaptasi dengan kurikulum kaku secara reaktif, pendekatan UDL menekankan pentingnya mendesain kurikulum yang fleksibel dan akomodatif sejak awal. Daripada menambahkan modifikasi untuk pengguna kursi roda setelah trotoar telanjur dibuat, mengapa tidak membangun trotoar dengan curb cut dari sananya?

Landasan Ilmiah UDL

Menurut pendukung UDL, salah satu landasan ilmiah UDL berakar dari neurosains (studi ilmiah terhadap sistem saraf, termasuk otak). Dari sejumlah jaringan otak (brain networks) yang telah ditemukan ilmuwan, pendukung UDL menyorot tiga jenis jaringan otak yang diyakini berkaitan erat dengan proses belajar: affective network, recognition network, dan strategic network.

Affective network adalah jaringan otak yang bersangkutan dengan motivasi belajar. Jaringan otak ini penting karena jika siswa tidak termotivasi, mereka akan kesulitan belajar dengan optimal.

Jika siswa memiliki motivasi, tetapi mereka tidak mampu memahami informasi yang disampaikan guru, maka proses belajar pun terancam. Recognition network merupakan jaringan otak yang berkenaan dengan cara siswa menyerap, memahami, dan menggunakan informasi.

Kemampuan siswa menavigasi lingkungan belajar dan mengekspresikan pemahamannya secara efektif juga berperan krusial dalam pembelajaran. Jaringan otak yang ketiga, yakni strategic network, bersangkut paut dengan proses-proses tersebut.

Logikanya, ketiga jaringan otak ini dapat distimulasi untuk mengoptimalkan pembelajaran siswa. Prinsip-prinsip UDL dirumuskan berdasarkan model ketiga jaringan otak tersebut.

Tiga Prinsip UDL di Ruang Kelas: Mengapa Perlu Belajar? Apa yang Perlu Dipelajari? Bagaimana Cara Menavigasi Lingkungan Belajar dan Menunjukkan Hasil Belajar Itu?

Ketiga jaringan otak yang disebutkan di atas masing-masing berurusan dengan pertanyaan terkait proses belajar yang perlu dijawab. Affective network berhubungan dengan the “why” of learning (mengapa perlu belajar?); recognition network berhubungan dengan the “what” of learning (apa yang perlu dipelajari?); dan strategic network berhubungan dengan the “how” of learning (bagaimana cara menavigasi lingkungan belajar dan menunjukkan hasil belajar itu?).

BACA JUGA: Pendidikan Sejarah Universitas Jambi dan Rumpun Adat Depati Setio Perkuat Kolaborasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Kearifan Lokal

Untuk memaksimalkan pembelajaran dalam ranah motivasional, UDL menganjurkan agar guru merancang beragam cara melibatkan siswa (multiple means of engagement). Ketika siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar (yakni, tidak hanya menerima informasi secara pasif), ketertarikan dan pemaknaan siswa terhadap materi yang dipelajari dapat menguat. Misalnya, guru bisa mengajak siswa merenungkan relevansi materi yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Guru juga bisa mengadakan diskusi kelompok agar siswa bisa berbagi terkait pemahamannya dengan teman-teman di kelas.

Dalam ranah kedua, yakni proses penyerapan dan pemrosesan informasi, UDL menganjurkan agar guru merancang beragam cara untuk menyajikan informasi (multiple means of representation). Jadi, materi tidak hanya disampaikan melalui satu medium (misalnya, ceramah satu arah), tetapi juga berbagai media lain, seperti poster visual, salindia presentasi, siniar (podcast), dan sebagainya.

Terakhir adalah ranah cara menavigasi lingkungan belajar dan cara siswa mengekspresikan pemahamannya terhadap materi. UDL menganjurkan agar guru menyediakan beragam pilihan terkait bagaimana cara siswa dapat berinteraksi dengan lingkungan belajar serta menunjukkan hasil belajar mereka (multiple means of action and expression). Misalnya, guru pasti ingin melihat apakah proses belajar telah berhasil, tetapi cara guru menguji pemahaman biasanya masih dalam bentuk soal pilihan ganda atau esai.

Padahal, format dari ujian dapat berpengaruh terhadap ekspresi pemahaman siswa. Siswa penyandang disleksia mungkin paham bagaimana kemerdekaan Indonesia diraih, tetapi merasa kesulitan mengekspresikan pemahaman sejarah itu lewat tulisan. Namun, jika siswa-siswi di kelas diberikan pilihan ujian lisan, guru dapat menilai pemahaman siswa yang memiliki hambatan baca-tulis dengan lebih baik.

Pendidikan yang Inklusif untuk Semua

Merancang kurikulum yang fleksibel terhadap keberagaman siswa secara proaktif dapat mengurangi hambatan belajar yang dialami siswa. Dengan menerapkan UDL, sekolah bisa mengakomodasi keberagaman siswa dalam lingkungan belajar yang inklusif untuk semua.

Referensi

  1. Houghton, J. (2022). New to universal design for learning? Start here! New Directions for Teaching and Learning, 2022(172), 11–22. https://doi.org/10.1002/tl.20525
  2. Meyer, A., & Rose, D. H. (2024). Universal Design for Learning: Principles, Framework, and Practice (D. Gordon, Ed.; 2nd ed.). CAST Professional Publishing.
  3. Moore, S. L. (2007). David H. Rose, Anne Meyer, Teaching Every Student in the Digital Age: Universal Design for Learning. Educational Technology Research and Development, 55(5), 521–525. https://doi.org/10.1007/s11423-007-9056-3
  4. Sobariah, S. R., Susetyo, B., Tarsidi, I., Astuti, E. Y., & Baguri, E. M. (2026). Integrating Universal Design for Learning and Individualized Education Plans in inclusive education: A systematic literature review. QALAMUNA Jurnal Pendidikan Sosial Dan Agama, 18(1), 787–800. https://doi.org/10.37680/qalamuna.v18i1.9329
  5. Zarecor, E. (2023, September 18). The curb cut effect in education. Open edX. https://openedx.org/blog/the-curb-cut-effect-in-education/

Penulis: Fidela Narasyah Ervan
Mahasiswa Magister Psikologi, Universitas Airlangga (UNAIR)


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat ALkafi

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *