Hampir setiap hari kita bersentuhan dengan dunia digital. Ketika bangun tidur hal pertama yang kita lihat bisa jadi notifikasi WhatsApp atau media sosial. Saat ingin mencari informasi kita tinggal membuka Google. Ketika ingin tahu apa yang sedang ramai, TikTok dan Instagram bisa menjadi tempat pertama yang kita lihat.
Semua terasa cepat dan mudah bukan? Tapi pernah tidak kita berpikir bahwa kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab? Sekarang hampir semua orang bisa menerima dan menyebarkan informasi. Kita tidak perlu menjadi wartawan untuk membagikan sebuah berita.
Cukup menemukan unggahan, menekan tombol share, lalu informasi tersebut bisa berpindah dari satu orang ke orang lainnya. Masalahnya tidak semua informasi yang beredar benar, semua informasi juga perlu dibagikan.
Kita mungkin pernah melihat berita yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan, video lama yang kembali ramai seolah-olah baru terjadi atau potongan informasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi. Namun, sebelum mengetahui kebenarannya, informasi tersebut sudah lebih dulu menyebar ke banyak orang.
Menurut saya, kondisi seperti ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja belum cukup tetapi kiita juga perlu memiliki literasi digital. Literasi digital bukan sekadar bisa menggunakan handphone atau media sosial. Ada empat hal yang menurut saya penting untuk diperhatikan yaitu cakap, aman, budaya, dan etika digital.
BACA JUGA: Perencanaan SDM di Era Digital: Kunci Organisasi Menghadapi Perubahan Dunia Kerja
Tidak Semua yang Viral Harus Dipercaya
Hal pertama yang perlu kita miliki adalah kecakapan digital.Di media sosial informasi bergerak sangat cepat, sesuatu yang baru saja terjadi bisa langsung menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dalam kondisi seperti ini, kita sering lebih fokus untuk menjadi orang yang pertama tahu daripada memastikan apakah informasi tersebut benar.
Padahal memastikan informasi sebenarnya tidak sulit kita bisa melihat sumbernya, mencari pemberitaan dari media lain, atau membaca informasi secara utuh dan tidak hanya berhenti pada judul. Kebiasaan sederhana tersebut penting karena ketika kita membagikan sebuah informasi, secara tidak langsung kita ikut bertanggung jawab terhadap informasi yang kita sebarkan.
Jadi, sebelum bertanya, “Sudah viral belum?”, mungkin lebih baik kita bertanya, “Sudah benar belum?”
Media Sosial Bukan Tempat untuk Membuka Semua Hal
Selain soal informasi keamanan juga menjadi persoalan yang sering dianggap sepele. Kita mungkin terbiasa membagikan foto perjalanan, lokasi saat sedang berada di suatu tempat, nomor telepon, tiket, bahkan dokumen tertentu di media sosial. Rasanya biasa saja karena hanya ingin berbagi kepada orang lain.
Namun internet bukan ruang yang sepenuhnya kita kuasai, sekali informasi pribadi tersebar kita tidak tahu siapa saja yang sudah melihat atau menyimpannya. Karena itu menjaga keamanan digital bukan hanya tentang menggunakan password yang kuat atau menghindari tautan mencurigakan.
Kita juga perlu berpikir ulang tentang informasi apa yang memang perlu dibagikan kepada publik. Tidak semua hal harus masuk ke media sosial hanya karena kita bisa mengunggahnya.
Berbeda di Internet, Tetap Harus Saling Menghargai
Ruang digital juga mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki latar belakang dan pandangan berbeda. Kita bisa bertemu dengan orang yang berbeda daerah, budaya, kebiasaan, bahkan cara berpikir. Sebenarnya ini adalah hal yang baik, Kita bisa mengenal lebih banyak sudut pandang tanpa harus pergi jauh.
Namun perbedaan di media sosial sering kali justru menjadi sumber pertengkaran. perbedaan pendapat bisa berakhir dengan saling mengejek, merendahkan, bahkan menyerang kehidupan pribadi. Di sinilah budaya digital menjadi penting, menurut saya berada di dunia digital tidak seharusnya membuat kita melupakan nilai-nilai yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.
Jika di dunia nyata kita diajarkan untuk menghargai orang lain, hal yang sama juga seharusnya dilakukan ketika berinteraksi di internet. Berbeda pendapat itu biasa yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan tersebut membuat kita merasa berhak merendahkan orang lain.
Sebelum Berkomentar, Coba Pikirkan Lagi
Hal terakhir yang sering terlupakan adalah etika, media sosial memang memberikan ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat. Kita bebas memberikan komentar, kritik, atau tanggapan terhadap suatu hal. Tetapi kebebasan tersebut seharusnya tetap disertai tanggung jawab. Kadang kita mengetik sesuatu karena sedang emosi, setelah komentar dikirim barulah kita berpikir bahwa kata-kata tersebut mungkin terlalu kasar.
Masalahnya di dunia digital kita tidak pernah tahu apakah komentar tersebut sudah dibaca, disimpan, atau bahkan disebarkan kembali oleh orang lain. Karena itu ada baiknya kita membiasakan diri untuk berhenti sebentar sebelum mengunggah atau mengirim sesuatu. Tidak harus selalu berpikir panjang. Cukup tanyakan tiga hal: benar atau tidak, perlu atau tidak, dan merugikan orang lain atau tidak. Kalau jawabannya masih meragukan mungkin memang tidak perlu dikirim.
Menjadi Pengguna Digital Bukan Berarti Bebas Tanpa Batas
Pada akhirnya kita tidak bisa menghindari perkembangan teknologi, internet sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan akan terus berkembang. Yang perlu kita lakukan adalah belajar menjadi pengguna yang lebih sadar. cakap dalam menerima dan menyebarkan informasi, aman dalam menjaga data pribadi, mampu membawa budaya yang baik ketika berada di ruang digital, dan tetap memiliki etika ketika berkomunikasi dengan orang lain.
Empat hal tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun justru dari kebiasaan kecil itulah ruang digital yang lebih sehat bisa dibangun. Karena setiap kali kita menekan tombol share, mengunggah sesuatu, atau menulis komentar, kita sebenarnya sedang meninggalkan jejak. Jadi di tengah dunia digital yang semakin cepat, mungkin kita tidak selalu harus menjadi orang yang paling cepat membagikan sesuatu.Sesekali, menjadi orang yang berhenti sebentar untuk memastikan dan berpikir juga tidak kalah penting.

Penulis: Risma Dewi Utami
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Bengkulu (UNIB)
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Alkafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















