Film Gowok Kamasutra Jawa Mungkin Lebih Baik Digarap Sutradara Perempuan Saja

Film Gowok Kamasutra Jawa
Ilustrasi Film Gowok Kamasutra Jawa (Sumber: MMI)

“Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala…”

Begitulah kutipan Eka Kurniawan dalam karya novelnya, Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas, yang menyoroti betapa seksualitas menjadi aspek yang krusial dalam kehidupan manusia. Seksualitas sudah menjadi faktor penentu tindakan, bahkan melampaui nalar logis. Namun, kenyataannya, hal tersebut kontradiktif dengan kecenderungan norma sosial dan moralitas orang Indonesia yang akan melabeli seseorang “saru” ketika kita teramat gamblang membicarakan seksualitas di ruang publik.

Jika sudah menyangkut seksualitas, kita semua kicep, bahkan sebelum sempat mengatakan sepatah kata untuk menuangkan gagasan. Hal inilah yang mendorong saya untuk mengapresiasi Hanung Bramantyo yang dengan gagah berani berkarya mengangkat isu sensitif bin tabu, Gowok Kamasutra Jawa, dalam format film.

Publik menyoroti topik film yang kemudian memicu berbagai diskusi mengenai seksualitas, budaya, dan posisi perempuan dalam tradisi Jawa dengan intrik nilai-nilai dan simbolismenya.

Tradisi Gowok merupakan praktik budaya yang unik, sebab melibatkan sosok perempuan dewasa untuk berperan penting dalam membekali calon pengantin laki-laki dengan pengetahuan tentang kehidupan rumah tangga dan seksualitas. Gowok menjadi tradisi pendidikan intimasi dalam hubungan suami-istri bagi golongan atas masyarakat Jawa pada abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20. Praktik nyata yang cukup kontroversial jika ditabrakkan dengan norma dan kesakralan hubungan seks dalam budaya Jawa.

Tujuannya bukan sembarangan. Gowok menjadi wahana mendidik calon suami mengenai cara membahagiakan istri secara lahir dan batin, memahami psikologi perempuan, serta etika berumah tangga agar menjadi pria yang matang (lelananging jagad).

Saya melihat peran perempuan dalam representasinya di film Gowok Kamasutra justru semakin direduksi dan disederhanakan menjadi objek sensual yang kontroversial, alih-alih menuju pemberdayaan gender. Dalam konteks budaya Jawa yang masih kental akan nilai-nilai patriarki, posisi perempuan sering kali berada dalam relasi kuasa yang timpang.

Perempuan tidak memiliki ruang yang memadai untuk mengartikulasikan suara dan kepentingannya sendiri. Otoritas tubuh pun tak dimiliki sepenuhnya. Kamera berulang kali mengambil gambar close-up pada bagian dada dan pinggul perempuan Gowok. Hal ini hanya mengeksploitasi daya tarik sensual yang diarahkan pada penonton laki-laki.

Laura Mulvey (1975) dalam konsepnya male gaze menyatakan film memosisikan perempuan sebagai objek visual bagi kepuasan pandangan laki-laki. Dalam film ini, perempuan Gowok direpresentasikan bukan sebagai subjek otonom, melainkan sebagai instrumen visual untuk meneguhkan dominasi maskulinitas Jawa. Apalagi, sutradara yang mendalangi proses pembuatan film ini juga laki-laki, semakin kentallah male gaze dalam upayanya mengangkat isu gender perempuan. Bias gender terjadi dalam proses ini.

Sebagai penguasa tertinggi dalam produksi film, sutradara laki-laki perlu memiliki kepekaan perspektif mengenai gender. Sejauh ini, kebanyakan film yang membahas perempuan masih dibuat oleh sutradara laki-laki. Isu patriarki semakin dilenggangkan oleh pihak yang dianggap memiliki otoritas lebih tinggi, yakni gender laki-laki.

Konsep hegemoni budaya Antonio Gramsci memandang bahwa kekuasaan laki-laki atas perempuan tidak semata-mata ditegakkan melalui paksaan fisik (koersi), melainkan melalui persetujuan sukarela (consent) yang dibangun lewat institusi sosial dan budaya.

Perempuan dianggap sebagai gender kedua, yang mesti mengikuti sistem. Bahkan dalam falsafah Jawa, perempuan disebut “wanita”, yang merujuk pada makna “wani ditata” (berani diatur). Menunjukkan inferioritas atas aktivitas pasif ditata, yang pasrah menerima aturan dari pihak laki-laki dalam lingkungannya, mulai dari ayah, kakak, maupun di masa mendatang, suaminya.

Male gaze semakin terlihat dari pemilihan busana tradisional jarik dan kebaya tipis, yang secara visual mengekspos lekuk tubuh perempuan.

Dialog dan gestur perempuan Gowok secara signifikan tidak menunjukkan adanya ekspresi pengalaman personal atau kehendak perempuan di luar fungsi melayani laki-laki. Adegan perempuan Gowok dalam film ini hanya berkisar tertawa kecil dan menunduk saat calon pengantin laki-laki memuji kecantikannya. Ia tak diberi ruang untuk memberi respons verbal yang menunjukkan gagasan atau pendapat pribadi.

Perempuan Gowok tidak pernah bersuara tentang perspektif mereka dalam memaknai ritual itu bagi diri mereka sendiri. Budaya patriarki-pascakolonial membuat perempuan dimarjinalisasi secara material, sekaligus simbolik melalui representasi yang membungkam potensi mereka.

Pembungkaman dapat dilihat dari tokoh Ratri yang tidak ingin melanjutkan karier ibunya sebagai “Gowok”. Dirinya malah dipandang sebagai anak yang tidak tahu diri. Ibunya menilai dirinya sebagai anak yang tidak menghargai budaya turun-temurun keluarga.

Bahkan ketika ritual pendidikan seks berlangsung, perempuan Gowok cenderung lebih sering diam, sesekali hanya mengucapkan instruksi teknis. Tak sedikit pun perempuan membicarakan perspektif atau perasaan mereka sendiri terkait relasi tersebut.

Ketiadaan ruang untuk menyuarakan pengalaman perempuan selaras dengan pernyataan Gayatri Spivak (1988) mengenai subaltern. Subaltern merujuk pada kelompok yang tak memiliki akses epistemik untuk menyuarakan kepentingan dan pengalaman mereka sendiri dalam wacana dominan.

Perempuan Gowok dalam film ini termasuk subaltern yang “tidak dapat berbicara”, artinya tidak memiliki ruang yang memungkinkan suara mereka terdengar. Sosok perempuan hanya dianggap jembatan untuk mencapai kedewasaan seksual dan skill sosial laki-laki.

Sebagai produk media populer, film ini merefleksikan, juga membentuk persepsi masyarakat terhadap peran perempuan dalam tradisi Gowok. Kasarnya, film ini dapat memicu sudut pandang penonton yang menempatkan tubuh perempuan Gowok sekadar sebagai objek erotis. Film ini mereduksi peran kompleks perempuan dalam tradisi Jawa menjadi sekadar “seni bercinta erotis” guna mendulang atensi publik dan menghamba pada keuntungan komersial.

Secara tak sadar, film ini mereproduksi struktur dominasi patriarki budaya Jawa yang menempatkan perempuan sebagai subaltern. Menurut hemat saya, ritual Gowok yang seharusnya ditampilkan dalam film ini mengandung nilai edukasi rumah tangga secara eksplisit.

Masih diperlukan kritik wacana yang lebih mendalam dalam studi media seperti film agar kreator karya seni dapat menghadirkan narasi yang memungkinkan perempuan keluar dari posisi subaltern, sekaligus menantang struktur patriarki yang selama ini membelenggu sistem gender yang cenderung jomplang ini.

Perempuan-perempuan semakin dibutuhkan untuk terjun sebagai sutradara film. Ayo sista-sistaku, penggemar dan pelaku dunia sineas, ini waktunya kalian unjuk gigi. Perspektif gender yang inklusif mungkin menjadi jawaban agar wacana mengenai patriarki ini mulai dapat ditatar sedikit demi sedikit.


Penulis: Maria Christy Adiningtyas
Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta 


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

Marbun, D. C., Reza, A., & Ahmad, A. (2025). Komodifikasi Budaya Jawa: Representasi Seksualitas dalam Poster Film ‘Gowok: Kamasutra Jawa’ Menggunakan Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce. Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD). 5(2), 147-154. https://doi.org/10.29313/jrjmd.v5i2.8758

Putra, M. K., Rivaldy, & P. T. M. (2025). REPRESENTASI PEREMPUAN SEBAGAI SUB-ALTERN DALAM FILM GOWOK KAMASUTRA JAWA. Integrative Perspectives of Social and Science Journal (IPSSJ). 2(3), 4675-4679.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *