Generasi Z dikenal sebagai generasi yang kreatif, aktif, dan dekat dengan perkembangan teknologi.
Saat ini, banyak anak muda mulai tertarik membangun bisnis sendiri, menjadi content creator, berjualan online, hingga mencoba investasi sejak usia muda.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda mulai memiliki kesadaran finansial yang cukup baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Media sosial juga ikut memengaruhi pola pikir Gen Z terhadap keuangan.
Konten tentang investasi, penghasilan tambahan, affiliate, freelance, hingga bisnis online semakin mudah ditemukan di TikTok, Instagram, maupun YouTube.
Tidak sedikit anak muda yang akhirnya mulai mencari penghasilan sendiri bahkan sebelum lulus kuliah.
Namun, di tengah meningkatnya minat Gen Z terhadap dunia bisnis dan finansial, ada satu hal yang masih sering dihindari dan dianggap menakutkan, yaitu pajak.
Bagi sebagian anak muda, pajak masih dianggap sebagai sesuatu yang rumit, membingungkan, dan hanya berkaitan dengan pegawai kantoran atau perusahaan besar.
Padahal, di era digital seperti sekarang, banyak aktivitas ekonomi anak muda yang sebenarnya sudah berkaitan dengan kewajiban perpajakan, mulai dari jualan online, menerima endorse, menjadi affiliate, hingga memperoleh penghasilan dari media sosial.
Masalahnya, edukasi mengenai pajak di kalangan generasi muda masih tergolong minim.
Banyak anak muda yang memahami cara menghasilkan uang melalui internet, tetapi belum memahami tanggung jawab setelah memperoleh penghasilan tersebut.
Akibatnya, pajak sering dianggap sebagai ancaman dibandingkan bentuk kontribusi terhadap negara.
Di sisi lain, citra pajak di masyarakat juga belum sepenuhnya positif. Berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan dana publik membuat sebagian generasi muda kehilangan kepercayaan terhadap sistem perpajakan.
Tidak sedikit yang akhirnya bertanya, “Untuk apa membayar pajak jika penggunaannya masih dipertanyakan?”
Pertanyaan tersebut sebenarnya cukup wajar.
Generasi Z tumbuh di era digital yang membuat informasi tersebar dengan sangat cepat.
Mereka lebih kritis terhadap kebijakan pemerintah dan lebih berani menyampaikan pendapat di media sosial.
Karena itu, membangun kesadaran pajak pada Gen Z tidak bisa hanya dilakukan melalui aturan dan ancaman sanksi.
Pemerintah perlu menggunakan pendekatan yang lebih relevan dengan generasi muda.
Edukasi perpajakan seharusnya dikemas dengan bahasa yang sederhana, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan memanfaatkan platform digital yang sering digunakan anak muda.
Konten edukasi pajak juga perlu dibuat lebih ringan dan mudah dipahami agar tidak lagi dianggap sebagai topik yang menakutkan.
Selain itu, transparansi penggunaan pajak juga menjadi hal penting dalam membangun kepercayaan generasi muda.
Ketika masyarakat dapat melihat manfaat nyata dari pajak yang dibayarkan, maka kesadaran untuk taat pajak akan tumbuh secara perlahan.
Pada akhirnya, meningkatnya minat Gen Z terhadap investasi dan bisnis sebenarnya merupakan hal positif bagi perkembangan ekonomi Indonesia.
Namun, kesadaran finansial seharusnya tidak berhenti pada mencari keuntungan semata.
Generasi muda juga perlu memahami bahwa setiap penghasilan memiliki tanggung jawab, termasuk dalam hal perpajakan.
Sebab, menjadi generasi yang melek finansial bukan hanya soal pandai menghasilkan uang, tetapi juga memahami kewajiban sebagai bagian dari masyarakat dan negara.
Penulis:
1. Adhitya Varian Pratama (2504010196)
2. Dwi Priliani (2504010114)
3. Muhammad Dzaky Al Farisi (2504010200)
4. Nadia Imelda (2504010233)
5. Siti Septia Anggraini (2504010154)
6. Uci Pratiwi (2504010091)
Mahasiswa Prodi Akuntansi, FEBM, Universitas Maritim Raja Ali Haji
Dosen Pengampu: Ardiansyah, S.E., M.Si.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












