Makanan Bergizi Gratis: Solusi atau Beban Pajak Negara?

Program Makan Bergizi Gratis
Foto: Dok. MMI

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menurut saya adalah kebijakan yang punya tujuan bagus karena fokus membantu pemenuhan gizi anak-anak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Dari beberapa jurnal, program ini dinilai bisa membantu menurunkan angka stunting, meningkatkan konsentrasi belajar siswa, dan mendukung kesejahteraan masyarakat.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kalau dilihat dari sisi pajak, program MBG juga menunjukkan bahwa uang pajak masyarakat sebenarnya bisa dipakai untuk program sosial yang langsung dirasakan manfaatnya.

Bahkan ada jurnal yang menjelaskan bahwa MBG dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pajak karena masyarakat melihat langsung penggunaan pajak untuk kepentingan publik.

Dan, program MBG juga berpotensi membantu ekonomi lokal.

Adanya kebutuhan bahan makanan dalam jumlah besar dapat membuka peluang bagi UMKM, petani, peternak, dan pelaku usaha lokal untuk ikut terlibat dalam rantai distribusi makanan.

Hal ini tentu bisa meningkatkan perputaran ekonomi daerah. 

Namun, sebagai mahasiswa saya juga melihat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Anggaran MBG sangat besar sehingga pemerintah harus benar-benar transparan dalam pengelolaannya.

Banyak masyarakat khawatir jika dana yang berasal dari pajak justru rawan disalahgunakan atau tidak tepat sasaran.

Beberapa penelitian juga menyoroti pentingnya pengawasan keuangan dan transparansi agar program ini tidak menimbulkan pemborosan anggaran negara. 

Selain itu, di media sosial dan forum publik juga muncul kritik mengenai kualitas makanan, efektivitas distribusi, hingga kekhawatiran bahwa program ini terlalu besar tetapi belum sepenuhnya siap dijalankan.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa kualitas makanan, kebersihan, dan pengawasan program benar-benar dijaga.

Menurut saya, pemerintah sebaiknya tidak hanya fokus pada pembagian makanan gratis, tetapi juga lebih memperhatikan pembukaan lapangan pekerjaan bagi orang tua murid.

Jika orang tua memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak, maka kebutuhan keluarga termasuk makanan bergizi untuk anak dapat terpenuhi dengan lebih baik dan berkelanjutan.

Dengan ekonomi keluarga yang stabil, orang tua juga bisa lebih mandiri tanpa harus terlalu bergantung pada bantuan pemerintah.

Selain itu, membuka lapangan pekerjaan juga dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas, seperti mengurangi pengangguran, meningkatkan daya beli masyarakat, dan menambah penerimaan pajak negara.

Ketika pendapatan masyarakat meningkat, konsumsi rumah tangga juga meningkat sehingga perputaran ekonomi menjadi lebih baik.

Dampaknya, pemenuhan gizi anak tidak hanya bergantung pada program MBG di sekolah, tetapi juga berasal dari kemampuan keluarga itu sendiri.

Walaupun begitu, program MBG tetap bisa menjadi langkah awal yang baik, terutama bagi daerah yang tingkat kemiskinannya masih tinggi.

Namun menurut saya, program ini akan lebih efektif jika dibarengi dengan kebijakan ekonomi lain, seperti penciptaan lapangan kerja, pemberdayaan UMKM, pelatihan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan begitu, bantuan yang diberikan pemerintah tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi bagi keluarga di masa depan.


Penulis: Lydia Leona (NIM 2504010067)
Mahasiswa Prodi Akuntansi, Universitas Maritim Raja Ali Haji


Dosen Pengampu: Ardiansyah, S.E., M.Si.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses