Puisi “Do You Think That I Do Not Know?” karya Henry Lawson memperlihatkan bagaimana perasaan seseorang yang diremehkan kemampuannya memahami cinta.
Lawson menggunakan bahasa yang sederhana tapi penuh makna, menyampaikan bahwa cinta tidak harus selalu diungkapkan lewat kata-kata manis, tapi melalui pengalaman dan pemahaman mendalam. Melalui setiap bait, Lawson membawa pembaca merasakan berbagai emosi cinta – dari kebahagiaan hingga kesedihan dan kehilangan.
Puisi ini menggambarkan cinta dari sudut pandang yang realistis. Lawson menanggapi kritikan orang lain dengan mengatakan bahwa ia memahami cinta lebih dalam dari yang mereka kira.
Bait pertama menjelaskan bagaimana orang meragukan kemampuannya menulis tentang cinta: “They say that I never have written of love, /As a writer of songs should do”. Namun, Lawson bertanya balik: “Do you think that I do not know?”, menunjukkan bahwa pengalamannya sendiri cukup untuk memahami cinta.
Di bait kedua, Lawson menceritakan pengalaman cinta muda yang polos, di mana cinta begitu sakral seperti terlihat dalam frasa “When the love-burst came, like an English Spring”. Namun, cinta juga diwarnai kecemasan dan cemburu, seperti dalam “The hope and despair, and the false alarm”. Ini mengungkapkan bahwa cinta sering kali melibatkan ketidakpastian.
Baca juga: Cerita di Balik Film Pendek: Cianjur 2022 (Kearifan Lokal Kabupaten Cianjur)
Bagian paling menyentuh adalah saat Lawson berbicara tentang kekasihnya yang telah meninggal: “She was buried at Brighton, where Gordon sleeps”. Di sini, kenangan akan cinta mereka tetap hidup meskipun dia sudah tiada, dan Lawson menggambarkan kesedihan dan penyesalannya dengan sederhana, tapi sangat emosional.
Mengenai puisi ini, Viola Amanda Putri, mahasiswa jurusan Sastra Inggris, Universitas Andalas, berpendapat: “Menurutku, puisinya unik banget. Lawson benar-benar menunjukkan kalau cinta nggak selalu soal yang indah, tapi ada rasa kehilangan yang dalam banget. Puitis tapi tetap ngena”.
Berbeda dengan Viola, Tari Intania Fahira, teman sejurusan, mengatakan: “Puisi ini memang dalam, tapi menurutku sedikit suram. Dia berhasil menunjukkan kalau cinta bisa menyakitkan, tapi rasanya jadi terlalu sedih buatku. Meskipun begitu, puisinya tetap kuat dan bikin kita ngerasain emosinya”.
Dengan berbagai pendapat ini, puisi “Do You Think That I Do Not Know?” berhasil mengajak pembaca melihat cinta dari sudut pandang yang lebih luas. Lawson menyoroti bukan hanya keindahan cinta, tetapi juga luka dan kehilangan yang sering kali tak terhindarkan.
Penulis: Indah Chintya Rahayu
Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














