Kapitalisme tidak pernah benar-benar tinggal di pabrik atau pasar saham. Ia merembes ke ruang-ruang paling intim dalam hidup kita, termasuk cara kita memandang waktu.
Di Indonesia, logika kapital hari ini hadir dalam wajah yang lebih halus dari sekadar uang: ia hadir sebagai kecepatan dan efisiensi. Kita diajari bahwa yang baik adalah yang cepat, dan yang berharga adalah yang menghasilkan. Tukang ojek kini dihitung per menit, pekerja kantoran diukur dari produktivitas per jam, dan bahkan istirahat kita dibingkai sebagai “investasi” agar besok bisa lebih produktif.
Nilai sebuah aktivitas tidak lagi terletak pada pengalaman menjalaninya, melainkan pada hasil yang bisa ditunjukkan. Dalam kebudayaan semacam ini, proses perlahan kehilangan tempatnya—dianggap sebagai beban, bukan bagian dari makna itu sendiri.
Pola pikir ini tidak berhenti di dunia kerja. Ia masuk lebih dalam, ke ruang yang seharusnya menjadi benteng terakhir dari logika untung-rugi: dunia pendidikan. Sekolah dan kampus di Indonesia, sadar atau tidak, telah lama beroperasi dengan tata nilai yang serupa.
Baca juga: Efisiensi Penerapan Etika Penggunaan Artificial Intelligence terhadap Dunia
Pendidikan kita diorientasikan pada hasil—nilai, peringkat, ijazah—lebih daripada perjalanan memahaminya. Murid yang baik adalah murid yang jawabannya benar, dan kesalahan diperlakukan sebagai cacat, bukan sebagai tahap belajar.
Sistem yang seharusnya menumbuhkan rasa ingin tahu justru sering kali menumbuhkan rasa takut: takut salah, takut dihukum, takut dianggap tidak mumpuni. Maka tidak mengherankan jika anak-anak tumbuh dengan satu naluri bertahan hidup yang sederhana—mendapatkan hasil maksimal, dengan cara apa pun, secepat mungkin.
Ke dalam lanskap inilah teknologi kecerdasan buatan datang, dan ia datang seakan jawaban dari langit. AI menjanjikan apa yang paling kita dambakan: hasil yang rapi tanpa proses yang melelahkan. Tugas yang dulu butuh berhari-hari kini selesai dalam hitungan menit. Bagi pelajar dan mahasiswa, ini bukan sekadar kemudahan, tetapi juga keselamatan.
Namun di sinilah ironinya. Alat yang lahir untuk membebaskan justru perlahan menjelma menjadi bumerang. Semakin terbiasa kita memperoleh hasil instan, semakin kita kehilangan otot untuk berproses.
Ketergantungan itu nyata dan dapat dilihat dalam pola belajar hari ini: kemampuan menulis, menalar, dan menahan ketidaknyamanan berpikir mulai mengendur. Teknologi tidak menumpulkan kita secara langsung—kita yang membiarkan diri tumpul karena lupa bahwa kesulitan adalah bagian dari belajar.
Jika ditelusuri, fenomena ini sebenarnya berputar dalam satu lingkaran yang rapi. Kapitalisme membiasakan kita menilai segala sesuatu dari output, bukan proses. AI lalu menyempurnakan kebiasaan itu dengan menawarkan output secepat mungkin.
Dan karena kita terbiasa dimudahkan, kita pun semakin bergantung—dan ketergantungan ini kembali memperkuat keyakinan bahwa yang penting hanyalah hasil. AI di sini tidak bersalah; ia hanyalah cermin. Persoalan sebenarnya terletak pada kesiapan kita sebagai manusia.
Kualitas manusia Indonesia, harus jujur kita akui, belum sepenuhnya matang untuk memanfaatkan AI tanpa kehilangan esensi kerja manusia itu sendiri. Kita memakai AI bukan untuk memperluas kemampuan, melainkan untuk menggantikannya. Bedanya tipis, tapi dampaknya jauh.
Ketika seorang mahasiswa menyalin jawaban AI, kita cenderung membacanya sebagai kemalasan. Padahal di baliknya ada sesuatu yang lebih dalam: sebuah “trauma” pendidikan yang diwariskan secara kolektif.
Banyak dari kita tumbuh dalam pengalaman bersama bahwa benar akan disanjung dan salah akan dihukum. Kesalahan tidak diperlakukan sebagai pintu pembelajaran, melainkan sebagai aib yang layak dihukum—dan ironisnya, hukuman itu pun dibingkai sebagai “pembelajaran”.
Dalam istilah antropolog Pierre Bourdieu, inilah kekerasan simbolik: sebuah penindasan halus yang dianggap wajar oleh korbannya sendiri. Ketakutan akan salah inilah yang akhirnya mendorong pelajar berlindung di balik AI.
Kita disuruh menjauhi teknologi, tapi pada saat yang sama dipaksa berhadapan dengan hukuman alih-alih ruang untuk belajar dari kekeliruan. Maka AI bukanlah penyebab; ia adalah jalan keluar dari sistem yang lebih dulu melukai.
Pada akhirnya, persoalan kita bukan tentang AI yang terlalu canggih, melainkan tentang kebudayaan yang terlalu lama memuja hasil dan menakuti kesalahan. Selama benar dan salah masih kita perlakukan sebagai garis akhir, bukan sebagai bagian dari perjalanan, selama itu pula manusia akan mencari jalan pintas—dan kini jalan pintas itu bernama kecerdasan buatan.
Mengatasinya tidak cukup dengan melarang atau menasihati. Yang perlu kita ubah adalah cara kita memaknai pendidikan itu sendiri: dari ruang penghakiman menjadi ruang bertumbuh, dari pemujaan output menjadi penghargaan terhadap proses.
Sebab pada hakikatnya, makna pendidikan tidak pernah terletak pada jawaban yang benar, melainkan pada keberanian untuk salah, bertanya, dan mencoba lagi. Mungkin di situlah esensi kemanusiaan kita yang sesungguhnya—sesuatu yang, betapapun canggihnya, tak akan pernah bisa diselesaikan oleh sebuah mesin.
Penulis: Hervana Aulia Kurniaputri
Mahasiswa Program Studi Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












