Perubahan teknologi tang berlangsung begitu cepat telah membawa pendidikan ke dalam situasi baru. Proses belajar tidak lagi hanya berlangsung melalui buku, papan tulis, dan penjelasan guru di dalam kelas. Internet, perangkat digital, platform pembelajaran, hingga kecerdasan artificial mulai menjadi bagian dari kehidupan pendidikan.
Perubahan tersebut tentu membawa peluang. Peserta didik dapat memperoleh sumber belajar yang lebih beragam, sementara guru memiliki lebih banyak pilihan dalam menyampaikan materi. Namun, perkembangan teknologi juga menghadirkan pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah setiap sekolah memiliki kesempatan yang sama untuk mengikuti perubahan tersebut?
Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika kita melihat penerapan kurikulum di tengah perkembangan teknologi digital. Kurikulum Merdeka hadir dengan semangat memberikan pembelajaran yang lebih fleksibel dan mendorong peserta didik untuk berkembang sesuai kebutuhan dan tantangan zamannya. Dalam contoh pembahasan mengenai Kurikulum Merdeka, kurikulum dipandang perlu terus disempurnakan karena dunia pendidikan menghadapi perubahan yang terus berlangsung.
Ketika Kurikulum Bertemu Era Digital
Kurikulum tidak dapat dilepaskan dari perubahan masyarakat. Ketika kehidupan masyarakat berubah karna teknnolohi, pendidikan juga dituntut untuk menyesuaikan diri.
Di era digital, peserta didik tidak cukup hanya mampu mengingat materi pembelajarab. Mereka juga perlu memiliki kemampuan untuk mencari informasi, memahami dan mengolah informasi, menggunakan teknologi secara bijak, memecahkan masalah, berkomunikasi, serta beradaptasi dengan perubahan.
BACA JUGA: Mendorong Pendidikan Inklusif, Mahasiswi UB Ikuti Program Global Volunteer di Turki
Teknologi dapat membantu proses tersebut. Sumber belajar tidak lagi terbatas pada satu buku atau penjelasan guru. Peserta didik dapat menemukan berbagai bahan pembelajaran melalui internet, sementara guru dapat memanfaatkan berbagai media digital untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih beragam.
Contoh yang diberikan dalam materi dosen juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi telah menghadirkan berbagai sumber belajar dan metode pembelajaran baru, termasuk pembelajaran berbasis internet dan blended learning. Namun, pemanfaatan tersebut tetap bergantung pada ketersediaan akses internet di daerah masing – masing.
Artinya, berbicara mengenai transformasi pendidikan digital tidak cukup hanya berbicara mengenai kurikulum. Kita juga perlu membicarakan kesiapan sekolah dan lingkungan tempat peserta didik belajar.
Tidak Semua Sekolah Memulai dari Garis yang Sama
Di sinilah persoalan mulai terasa.
Ketika pendidikan semakin diarahkan untuk memanfaatkan teknologi, kondisi setiap sekolah tidak selaly sama. Ada sekolah yang memiliki perangkat digital, koneksi internet, serta guru yang sudah terbiasa menggunakan teknologi dalam pembelajaran. Namun, ada pula sekolah yang masih harus berhadapan dengan keterbatasan fasilitas dan akses.
Kesenjangan seperti ini tidak berarti sekolah di daerah tidak mampu mengikuti perkemabngan teknologi. Justru banyak sekolah di daerah yang terus berusaha beradaptasi. Persoalannya adalah kecepatan dan kesempatan untuk beradaptasi tersebut dapat berbeda – beda.
Pemerintah sendiri pada 2026 masih terus mendorong digitaslisasi pembelajaran sebagai bagian dari upaya pemerataan mutu pendidikan. Salah satu tujuan yang disampaikan adalah agar peserta didik di berbagai daerah dapat memperoleh akses terhadap konten pembelajaran yang lebih setara.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerataan akses teknologi pendidikan masih menjadi pekerjaan penting dalam proses transformasi pendidikan.
Melihat Muara Badak dari Dekat
Muara Badak menjadi salah satu daerah yang menarik untuk melihat persoalan tersebut dari perspektif yang lebih dekat.
Sebagai daerah yang tidak berada di pusat perkotaan, pengalaman sekolah dan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi tentu perlu dilihat berdasarkan kondisi nyata du lapangan. Ketersediaan perangkat, jaringan internet, fasilitas sekolah, serta kemampuan dalam menggunakan teknologi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran digital.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan fasilitas yang belum sepenuhnya memadai, tuntutan untuk mengikuti perkembangan pendidikan digital dapat terasa berbeda dibandingkan dengan sekolah yang memiliki dukungan teknologi lebih lengkap.
Karena itu, persoalan yang perlu dibicarakan bukanlah apakah sekolah di Muara Badak mampu mengikuti perkembangan teknologi atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa besar dukungan yang tersedia agar sekolah di daerah dapat mengikuti transformasi tersebut?
Pertanyaan ini penting karena digitalisasi pendidikan seharusnya tidak menciptakan jarak baru antara peserta didik di perkotaan dan peserta didik di daerah.
Jangan Sampai Kurikulum Berjalan Lebih Cepat daripada Fasilitas
Kurikulum dapat dirancang dengan berbagai tujuan yang baik. Namun, implementasinya tetap membutuhkan lingkungan yang mendukung.
Jika pembelajaran mendorong pemanfaatan teknologi, sekolah membutuhkan perangkat yang dapat digunakan. Jika pembelajaran membutuhkan akases sumber belajar digital, peserta didik membutuhkan koneksi internet yang memadai. Jika guru dituntut mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi, mereka juga membuthkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan digitalnya.
Dengan kata lain, perubahan kurikulum dan perkembangan teknologi perlu berjalan Bersama dengan peningkatan kesiapan sekolahh.
Contoh nyata dari wilayah Kutai Kartanegara menunjukkan bahwa dukungan teknologi memang dapat membantu sekolah. Pada 2024, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Kartanegara memberikan Chromebook dan akases internet kepada salah satu sekolah di Kecamatan Anggana untuk mendukung literasi, numerasi, serta kemampuan teknologi guru.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa dukungan fasilitas dapat menjadi salah satu bagian penting dalam membantu sekolah melakukan transformasi.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga masih merencanakan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan di Muara Badak. Dalam dokumen perencanaan daerah, terdepat program pembangunan sarana, prasarana, dan utulitas sekolah di Muara Badak.
Artinya, pembicaraan mengenai pemerataan pendidikan memang tidak dapat dipisahkan dari persoalan fasilitas.
Teknologi Bukan Tujuan, Melainkan Sarana
Namun, transformasi pendidikan tidak berarti setiap sekolah harus menggunakan teknologi yang paling canggih.
Teknologi seharusnya menjadi alat untuk membantu proses belajar, bukan tujuan akhir pendidikan. Sekolah perlu menggunakan teknologi berdasarkan kebutuhan dan kondisi yang mereka miliki.
Dalam kondisi tertentu, penggunaan perangkat sederhana dengan metode pembelajaran yang tepat mungkin lebih efektif daripada memaksakan penggunaan teknologi yang belum didukung fasilitas yang memadai.
Hal yang tidak kalah penting adalah kemapuan guru. Teknologi secanggih apapun tidak akan memberikan dampak maksimal jika tidak diikuti dengan kemampuan untuk menggunakannya secara tepat dalam pembelajaran.
Karena itu, pemerataan pendidikan digital seharusnya tidak hanya berbicara mengenai pembagian perangkat. Pemerataan juga mencakup akses internet, peningkatan kompetensi guru, dukungan sekolah, serta pendampingan dalam memanfaatkan teknologi.
Menuju Transformasi Pendidikan yang Lebih Merata
Perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari. Pendidikan harus mampu beradaptasi agar peserta didik tidak tertinggal dari perubahan yang terjadi di masyarakat.
Pada 2026, pemerintah bahkan telah menetapkan pedoman nasional mengenai pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta kecerdasan artificial di berbagai jalur pendidikan. Pedoman tersebut menekankan pemanfaatan teknologi secara etis, aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Namun, transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan membuat kebijakan.
Kita juga perlu memastikan bahwa sekolah – sekolah di daerah memperoleh kesempatan yang cukup untuk menjalankan perubahan tersebut. Tidak adil jika kita meminta sekolah untuk bergerak menuju pembelajaran digital, tetapi dukungan yang mereka terima belum memadai.
Muara Badak dapat menjadi salah satu penginat bahwa transformasi pendidikan perlu melihat kondisi di lapangan. Setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda, sehingga Solusi yang diberikan juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing – masing.
Pada akhirnya, keberhasilan Kurikulum Merdeka di era digital bukan hanya tentang seberapa banyak teknologi yang digunakan di dalam kelas. Keberhasilannya juga dapat dilihat dari sebarapa jauh setiap peserta didik, dimanapun mereka berada, mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Sebab, transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan mengubah kurikulum. Transformasi juga membutuhkan akses, fasilitas, pendampingan, dan kesempatan yang lebih merata agar tidak ada peserta didik yang harus tertinggal hanya karena tempat mereka belajar.
Penulis: Laila Nur Farisa
Program Studi Pendidikan Komputer, Universitas Mulawarman
Dosen Pengampu: Dr. Eko Subastian, S.Pd., M.Kom.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















