Biografi Ibnu Thufail, Karya, dan Pemikirannya

Biografi
Biografi Ibnu Thufail, Karya, dan Pemikirannya

Abu Bakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail Al-Qisy, atau biasa dikenal Ibnu Thufail (bersandar kepada nama kakeknya) lahir di Guandix (Wadi Asy) dekat Granada, Spanyol pada tahun 506 H atau 1110 M di masa pemerintahan Abu Yusuf al-Mansur dari Dinasti Muwahhidun.[1] Beliau juga terkenal di kalangan orang Barat dengan sebutan Abubacer.

Ibnu Thufail pernah menempuh pendidikan ilmu kedokteran dan filsafat di Seville dan Kordoba.[2] Beliau juga menimba ilmu dengan berguru kepada seorang ilmuwan besar yang menguasai berbagai keahlian bernama Ibnu Bajjah ketika dewasa.

Dengan bimbingan yang diperoleh dari Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail berkembang menjadi ilmuwan besar. Beliau menjadi seorang penulis, filsuf, novelis, ahli agama, dan dokter. Selain itu, beliau juga menguasai ilmu pendidikan dan ilmu hukum serta terkenal sebagai seorang filsuf muslim sekaligus politikus ulung paling penting nomor dua (setelah Ibnu Bajjah) di Barat.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: KH Maman Imanul Haq sebagai Tokoh Islam Liberal

Pada awal karirnya, beliau merupakan seorang ahli dalam bidang kedokteran dan kemudian menjadi seoramg dokter ternama. Kemasyhuran beliau tersebut membuat Ibnu Thufail dikenal oleh orang-orang pemerintahan sehingga diangkat oleh Gubernur Granada sebagai sekretaris.

Setelah itu beliau dipindahtugaskan untuk menjadi sekretaris pribadi Gubernur Ceuta. Ketenaran beliau ini sampai ke khalifah dari Dinasti Muwahhidun yang bernama Abu Ya’kub Yusuf Al-Mansur dan kemudian mengangkat beliau menjadi dokter pribadi khalifah mulai tahun 558 sampai tahun 580 Hijriah.[3]

Khalifah Abu Ya’qub dikenal mencintai ilmu pengetahuan, dapat merangkul para ulama dan filsuf, serta berminat terhadap filsafat. Ketika beliau menjabat, kebebesan berfilsafat diberikan seluas-luasnya sampai dinobatkan sebagai pemuka pemikiran filosofis dan menjadikan Spanyol “tempat kelahiran kembali Eropa” seperti yang dikatakan oleh R. Briffault.[4]

Selain menjadi teman diskusi dan dokter pribadi khalifah, Ibnu Thufail juga menjabat sebagai menteri (seperti menteri kebudayaan pada masa kini) yang memiliki tugas mencari, sekaligus mendatangkan orang-orang terpelajar dan berilmu ke lingkungan istana.[5]

Salah satu contohnya adalah ketika Abu Ya’qub meminta Ibnu Thufail untuk membuat ayarah (komentar) dari kitab-kitab karya Aristoteles, beliau mengajukan Ibnu Rusyd untuk melaksanakan tugas tersebut. [6] Kemudian Ibnu Thufail mengundang Ibnu Rusyd (Avveroes) muda ke istana dan diperkenalkan kepada khalifah pada tahun 564 H/ 1169 M.[7]

Kala itu, Ibnu Rusyd terkenal sebagai seorang filsuf Islam yang mempunyai pengetahuan yang sangat luas, sehingga undangan tersebut menuai pujian-pujian dari rakyat Muwahhidun dan juga kalangan istana. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Ibnu Thufail adalah guru langsung dari Ibnu Rusyd.[8] Hal itu diungkapkan oleh Ibnu Rusyd sendiri dalam catatan Nasr dalam Leaman;[9]

Baca Juga: Indahnya Kepemimpinan Berfikir dalam Islam

“Abu Bakar ibn Thufail, pada suatu hari, memanggilku dan bercerita kepadaku bahwa dia mendengar Amirul Mukminin mengeluh tentang keterpenggalan cara pengungkapan Aristoteles—atau penerjemahnya—da, akibatnya, maksudnya kabur. Di mengatakan bahwa jika ada seseorang yang membaca buku-buku ini kemudian dapat meringkasnya dan menjernihkan tujuan-tujuannya, setelah pertama-tama memahaminya sendiri secara seksama, orang lain akan mempunyai waktu yang longgar untuk memahaminya. ‘kalau kamu mempunyai kesempatan’, Ibnu Thufail menasehatiku, lakukanlah itu. Aku percaya kamu bisa, karena aku tahu engkau mempunyai otak yang cemerlang dan watak yang baik, dan betapa besar rasa pengabdianmu kepada ilmu itu. Kamu tahu bahwa usia tuaku, jabatanku—dan komitmenku pda tugas lain yang aku kira jauh lebih vital—yang menyebabkan aku tidak melakukan sendiri hal itu.”

Berdasarkan catatan tersebut, dapat diketahui bahwa Ibnu Thufail mengundurkan diri dari jabatan beliau sebagai dokter pribadi khalifah dikarenakan telah uzur. Itu terjadi sekitar tahun 578 H/ 1182 M. Kedudukan beliau tersebut digantikan oleh Ibnu Rusyd berdasarkan permintaan dari Ibnu Thufail sendiri.

Beliau meninggal di Marakesh (Maroko) dan dimakamkan di sana pada tahun 581 H / 1185 M. Khalifah Al-Mansur hadir dalam upacara pemakaman beliau. Kendati telah wafat, Ibnu Thufail tetap mendapat penghargaan dari Abu Yaqub.[10]

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Ibnu Thufail melahirkan banyak karya, namun hanya beberapa yang sampai kepada kita. Salah satu karya beliau yang sangat populer adalah buku Hayy bin Yaqzhan. Buku ini merupakan buku roman filsafat tentang seorang manusia yang membangun akalnya sendirian.

Menurut Bakhtiar Husain Siddiqi karya tersebut menunjukkan Ibnu Thufail memiliki pemikiran yang sama terhadap Ibnu Bajjah, bahwa seharusnya manusia yang telah mencapai hakikat hidup tertinggi akan menjadi penyendiri (mutawahhid).

Alasannya adalah agar tidak terpengaruh oleh pikiran orang lain (orang awam) yang masih terbelenggu naluri kewanitaan. Sekitar abad 12 Masehi buku Hayy bin Yaqzan diterjemahkan ke bahasa Latin.[11] Kitab ini berisi tentang kebijaksanaan timur (oriental wisdom) yang mirip dengan karya Ibnu Sina dan diakui sendiri oleh beliau.

Bahkan judulnya pun sama persis, akan tetapi isinya sangat jauh berbeda. Hayy bin yaqzhan dalam buku Ibnu Sina merupakan seorang kakek yang bijaksana, sedangkan Ibnu Thufail menceritakan tokoh Hayy bin Yaqzhan sebagai anak manusia yang diasuh oleh induk rusa.[12]

Baca Juga: Perkembangan Islam Liberal

Disebut sebagai kitab yang pokok intisarinya berisi tentang kebijaksanaan timur adalah karena Ibnu Thufail membuat karya ini berdasarkan The Story of The Idol and The King and His Daugther, yaitu salah satu cerita kuno di Timur. Beliau juga mengakui bahwa intisari buku ini dapat diidentifikasi sebagai tasawuf yang banyak ditolak oleh tokoh muslim kala itu, termasuk Ibnu Bajjah.

Jika ditarik garis besar, kitab ini berisi pengetahuan seseorang yang muncul dari kekosongan sebelum ia mendapatkan pengalaman mistik dari hubungannya dengan Tuhan. Ibnu Thufail ingin menyampaikan dua fakta penting dalam karyanya ini. Pertama, kesatuan merupakan sisi lain dari keberagaman. Kedua, jiwa adalah sesuatu yang selalu ada.

Beliau menyadari bahwa jika tidak ada ruang dan waktu, maka dunia tidak akan terbentuk. Pemicu awal terciptanya dunia ini adalah Tuhan. Selain itu, beliau juga memberikan kesimpulan bahwa hanya ada satu jalan untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan dan kematian, yakni kehadiran sebuah energi yang selalu menuntun kepada Tuhan.

Dalam sumber lain disebutkan bahwa karya-karya Ibnu Thufail yang lain, yaitu pada bidang kedokteran, filsafat, metafisika, astronomi, dan lain-lain sayangnya telah hilang, sehingga tidak bisa kita temui saat ini.[13]

Ibnu Thufail adalah seorang filsuf muslim yang selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan antara agama dan pemikiran rasional, meskipun para filsuf sebelum dan sesudah zamannya jarang melakukannya. Itu dapat dilihat dari upaya yang telah beliau lakukan dalam setiap hasil karya filosofis yang telah beliau hasilkan.

Beliau percaya bahwa ada jalan mistis yang dapat dialami seseorang ketika terhubung dengan Tuhan, seperti melalui kegiatan spiritual (ibadah) dengan teratur. Pendapat Ibnu Thufail tersebut dianggap oleh beberapa kalangan sebagai sebuah pencerahan.

Sebagaimana disebutkan di akhir buku Hayy bin Yaqzhan ini, sang tokoh menyadari bahwa agama tekstual cocok digunakan untuk kebanyakan masyarakat, sedangkan bagi pencari kebenaran yang hakiki, harus menempuh jalan spiritual oleh akal ala filsuf dan pensucian jiwa ala sufi terlebih dahulu.

Kesimpulannya adalah pemahaman agama secara tekstual (dengan teks kitab suci, hadis) cocok digunakan dan disebarluaskan di masyarakat. Untuk orang-orang yang ingin memahami agama dengan pemikiran hakikat (mencari kebenaran hakiki), harus dilakukan dengan akal seperti para filsuf dan mensucikan jiwa bagaikan sufi. [14]

Menurut Miquel Casir (1710-1790 M), selain risalah Hayy Ibn Yaqzhan, Ibn Thufail juga menghasilkan sebuah karya  manuskrip Asrar al-hikmah al-Mashariqiyah. Dalam kata pengantar karya tersebut dinyatakan bahwa manuskrip tersebut hanyalah bagian dari Hayy ibn Yaqzhan yang berjudul lengkap Risalah Hayy ibn Yakuzan Fi Aslal al-Hikmah Al Masharikiyah.

Baca Juga: Biografi K. H. Udung Abdurahman Ya’kub (Tokoh SI Kabupaten Bandung)

Ibnu Thufail juga memberikan kontribusi besar di bidang kedokteran. Catatan sejarah menunjukkan bahwa Ibnu Thufail sering berbicara, berdiskusi, dan menganalisis topik medis serta filosofis dengan muridnya, Ibn Rusyd.

Ibn Thufail kemudian mencatat ulasan dan diskusi mereka (terutama tentang kedokteran) dalam bukunya yang berjudul Muraja`at wa Mabahits (Tinjauan dan Diskusi).  Ibn Rusyd kemudian memasukkan catatan ini dalam karyanya Al-Kulliyyat.

Selain Al-Kulliyyat, ada juga kitab Fiath-Thib Arjuzah yang memuat 7.700 bait. Karya tersebut sekarang disimpan sebagai manuskrip di Perpustakaan Jami al-Karawiyin di Fez, Maroko.

Ibnu Thufail tidak hanya memiliki pengetahuan tak terbantahkan tentang filsafat dan kedokteran, tetapi beliau juga seorang ahli astronomi yang sangat kompeten. Seorang orientalis Prancis, Lyon Gotet secara singkat menggambarkan teori Ibnu Thufail yang brilian di bidang astronomi.

Menurutnya, sekalipun tulisan-tulisan Ibnu Thufail di bidang astronomi belum juga ditemukan, tetapi kita semua tahu bahwa beliau menentang teori Batlimus tentang sistem kosmik (jagat raya). Ibnu Thufail mempunyai teori baru yang juga ditegaskan oleh pernyataan Ibnu Rusyd, bahwa beliau memiliki teori sensasional tentang dasar sistem alam semesta dan rotasinya.[15]

Penulis: Faiqoh Razan Yumnansa
Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi


[1] Sudarsono, Filsafat Islam (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004), hal. 80.

[2] Evi Damayanti, History of filsafat Islam (Jakarta: AVA Group, 2020), hal. 119.

[3] Mas’udi, “Pemikiran Filsafat Ibnu Thufail; Khazanah Pemikiran Filsafat Dari Timur Asrar al-Hikmat al-Masyriqiyyah”, Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, Vol. 3 No. 2, (Desember, 2015), hal 416.

[4] Mahbub Junaidi, “Ibnu Thufail; Studi Kritis Filsafat Ketuhanan dalam Roman Hayy bin Yaqzan”, DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora, Vol.7 No. 1, (April, 2020), hal. 54.

[5] Ibid

[6] Risa’in Rusli, Filsafat Islam: Telaah Tokoh dan Pemikirannya Edisi Pertama (Jakarta: Kencana, 2021), hal. 57-58.

[7] Mahbub Junaidi, loc.cit.

[8] Syamsuri, dkk, “Strategi dalam Menciptakan Falah dengan Pendekatan Rasionalitas Ekonomi Ibnu Thufail: Telaah Kitab Hayy bin Yaqzan”, Malia: Jurnal Ekonomi Islam, Vol. 12, No. 2, (Juni, 2021), hal. 212.

[9] Mas’udi, op.cit. Hal 417.

[10] Mustofa, Filsafat Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hal. 272.

[11] Rizem Aizid, Pesona Baghdad dan Andalusia (Yogyakarta: DIVA Press, 2017), hal. 301.

[12] Saiful Falah, Jalan Bahagia Para Filsuf Muslim dan Pemikiran Filsafatnya II (Jakarta: PT. Gramedia, 2021), hal. 33.

[13] Yanuar Arifin, Pemikiran Emas Para Tokoh Pendidikan Islam (Yogyakarta: DIVA Press, 2018), hal. 179.

[14] Saiful Falah, Jalan Bahagia Para Filsuf Muslim dan Pemikiran Filsafatnya (Jakarta: PT. Gramedia, 2020), hal. 185.

[15] Abdul Syukur Al-Azizi, Untold Islamic History (Yogyakarta: Laksana, 2018), hal. 349-350.

Daftar Pustaka

Aizid, Rizem. (2017). Pesona Baghdad dan Andalusia. Yogyakarta: DIVA Press.

Al-Azizi, Abdul Syukur. (2018). Untold Islamic History. Yogyakarta: Laksana.

Arifin, Yanuar. (2018). Pemikiran Emas Para Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: DIVA Press.

Damayanti, Evi. (2020). History of filsafat Islam. Jakarta: AVA Group.

Falah, Saiful. (2021). Jalan Bahagia Para Filsuf Muslim dan Pemikiran Filsafatnya. Jakarta: PT. Gramedia.

Junaidi, Mahbub. (2020). Ibnu Thufail; Studi Kritis Filsafat Ketuhanan dalam Roman Hayy bin Yaqzan. DAR EL-ILMI: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora, 7(1), 54.

Mas’udi. (2015). Pemikiran Filsafat Ibnu Thufail; Khazanah Pemikiran Filsafat Dari Timur Asrar al-Hikmat al-Masyriqiyyah. FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, 3(2), 416.

Mustofa. (1997). Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Rusli, Risa’in. (2021). Filsafat Islam: Telaah Tokoh dan Pemikirannya Edisi Pertama. Jakarta: Kencana.

Sudarsono. (2004). Filsafat Islam. Jakarta: PT Rineka Cipta

Syamsuri, dkk. (2021). Strategi dalam Menciptakan Falah dengan Pendekatan Rasionalitas Ekonomi Ibnu Thufail: Telaah Kitab Hayy bin Yaqzan. Malia: Jurnal Ekonomi Islam, 12(2), 212.

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI