Mengapa Media Sosial Mengubah Cara Kita Berpakaian? Di Balik Tren Outfit Check dan Pentingnya Fesyen Autentik

Tren Outfit Check
Algoritma media sosial secara tidak langsung menciptakan standar tertentu tentang apa yang dianggap “menarik” atau “layak lihat”. Konten yang rapi, estetik, dan sesuai tren cenderung lebih sering ditampilkan, sehingga membentuk persepsi bahwa itulah standar berpakaian yang ideal. (Ilustrasi: Dok. MMI)

Sekarang, banyak orang mulai bertanya-tanya, “Outfit ini cocok tidak ya untuk dimasukkan ke story Instagram atau diunggah di TikTok?” Fenomena ini menunjukkan, bahwa cara kita berpakaian tidak lagi hanya soal kenyamanan, melainkan tentang bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain di jagat digital. Tren seperti outfit check yang marak di TikTok membuat banyak orang menjadi lebih sadar terhadap pakaian yang mereka kenakan. Hal ini terlihat dari banyaknya kreator konten seperti @jvke_, @babyylisa__, dan @hazellitaa yang rutin membagikan inspirasi busana harian mereka. Namun, tren ini secara perlahan mengubah fungsi pakaian itu sendiri: dari kebutuhan dasar menjadi alat untuk membentuk citra di hadapan publik.

Dilema di Balik Layar: Inspirasi vs Validasi

Outfit check pada dasarnya adalah konten populer di TikTok yang menampilkan seseorang memperlihatkan pakaian mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di satu sisi, tren ini berdampak positif karena memberikan referensi mix and match bagi banyak orang. Namun di sisi lain, ia mendorong perubahan perilaku berpakaian yang lebih berorientasi pada penampilan luar dibanding kebutuhan nyata.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Baca juga: Apa itu Validasi? Pengertian, Jenis, Proses, dan Contoh

Kondisi ini berpotensi memicu perilaku konsumtif, di mana pakaian hanya dipakai beberapa kali demi konten, lalu ditinggalkan begitu saja. Akibatnya, terjadi lonjakan limbah tekstil yang memperburuk kondisi lingkungan. Tanpa disadari, kita tidak lagi berpakaian untuk kenyamanan diri sendiri, melainkan demi mengejar ekspektasi dan validasi dari orang asing di media sosial.

Standar Estetika yang Semu

Selain itu, algoritma media sosial secara tidak langsung menciptakan standar tertentu tentang apa yang dianggap “menarik” atau “layak lihat”. Konten yang rapi, estetik, dan sesuai tren cenderung lebih sering ditampilkan, sehingga membentuk persepsi bahwa itulah standar berpakaian yang ideal. Hal ini sering kali membuat seseorang merasa kurang percaya diri ketika penampilannya tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat di layar. Pakaian tidak lagi menjadi ekspresi diri yang jujur, melainkan alat untuk menyesuaikan diri dengan standar yang terus berubah dan sering kali tidak realistis.

Baca juga: Tidak Memburu Validasi, tetapi Menikmati Kesendirian

Kembali ke Fesyen Autentik

Di tengah tekanan algoritma tersebut, kita perlu mengenal kembali konsep Fesyen Autentik. Fashion Autentik bukan tentang seberapa mahal atau terkenalnya merek yang kita pakai, melainkan keberanian untuk memilih pakaian yang benar-benar mencerminkan kepribadian, nilai-nilai, dan kenyamanan pribadi tanpa terikat dikte tren sesaat. Ini adalah bentuk kejujuran dalam berbusana—di mana kita berpakaian untuk merayakan jati diri, bukan untuk memuaskan mata orang lain.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih bijak menyikapi tren outfit check. Kita tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan identitas. Menggunakan pakaian secara bijak, seperti memaksimalkan mix and match dari koleksi lama dan tidak mudah tergoda membeli barang hanya karena viral, adalah langkah kecil yang berdampak besar. Pada akhirnya, berpakaian seharusnya kembali pada fungsi utamanya: sebagai bentuk kenyamanan dan ekspresi diri yang autentik, bukan sekadar alat untuk mencari pengakuan.

Baca juga: Tidak Memburu Validasi, tetapi Menikmati Kesendirian

Refleksi Akhir

Media sosial memang menyediakan ruang untuk berekspresi, namun kitalah yang menentukan apakah ingin menjadi diri sendiri atau sekadar mengikuti arus. Tren boleh diikuti, tetapi jangan biarkan ia mengendalikan cara kita memandang diri sendiri. Sebab, yang paling penting bukanlah seberapa menarik kita terlihat di layar gawai, melainkan seberapa jujur kita menjadi diri sendiri di kehidupan nyata.


Penulis: Fedelya Azzahra Ferlinan
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Yogyakarta


Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses