Sanggar Taruna Kridha Rasa di Malang Jadi Penjaga Seni Tradisional di Tengah Arus Modernisasi

upaya melestarikan seni tradisional
Sanggar Taruna Kridha Rasa di Malang Jadi Penjaga Seni Tradisional di Tengah Arus Modernisasi. Sumber: Penulis.

Malang, MMI — Di tengah derasnya arus modernisasi, Sanggar Taruna Kridha Rasa yang berlokasi di Jl. Lesanpuro No. 6, Kedungkandang, Kota Malang, terus menunjukkan komitmennya dalam melestarikan seni tradisional Jawa.

Sanggar ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai budaya leluhur.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sanggar Taruna Kridha Rasa berdiri sejak tahun 2016 dan hingga kini aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan seni tradisi, seperti tari Jawa, wayang, karawitan, dan tembang Jawa. Kegiatan latihan diikuti oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa dari berbagai latar belakang.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh mahasiswa UM pada Sabtu (11/10/2025), aktivitas sanggar berlangsung secara rutin dan terjadwal, dengan suasana latihan yang tertib serta penuh semangat kebersamaan.

Tidak hanya mengajarkan keterampilan seni, sanggar ini juga menanamkan nilai-nilai budaya sebagai bagian dari pembentukan karakter. Peserta diajak memahami pentingnya unggah-ungguh, sopan santun, serta sikap berbudi luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam cara berkomunikasi antar anggota, khususnya dalam penggunaan bahasa Jawa krama kepada pelatih atau anggota yang lebih tua, sesuai dengan adat dan norma budaya Jawa.

Salah satu pengurus sanggar menjelaskan bahwa seni tradisional memiliki peran penting dalam menjaga identitas nasional. Menurutnya, seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter dan penanaman rasa cinta tanah air.

“Setiap seni tradisional mengandung nilai moral yang ingin kami sampaikan kepada generasi muda. Melalui latihan rutin, mereka belajar disiplin, menghargai sesama, dan mencintai budaya bangsa,” ujarnya.

Baca Juga: Gelar Penggelaran UKM Sanggar Tari Karawitan Asri Kusuma 2024 dalam Melestarikan Budaya di Era Modern

Keberadaan Sanggar Taruna Kridha Rasa juga didukung oleh sistem pengelolaan yang inklusif. Peserta tidak dikenakan biaya tetap, melainkan memberikan iuran seikhlasnya setiap bulan. Sistem ini memungkinkan siapa saja untuk belajar seni tradisional tanpa terbebani faktor ekonomi.

Dukungan terhadap sanggar tidak hanya datang dari para anggota, tetapi juga dari keluarga peserta serta masyarakat sekitar yang turut memberikan apresiasi dan dukungan moral.

Dalam upaya menjaga eksistensi seni tradisional, sanggar aktif mengikuti berbagai festival dan pertunjukan budaya, baik di tingkat lokal maupun regional.

Partisipasi ini menjadi sarana untuk memperkenalkan seni tradisi kepada masyarakat luas sekaligus memberikan ruang apresiasi bagi para pelaku seni. Selain itu, sanggar juga melakukan dokumentasi kegiatan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya.

Di era digital, Sanggar Taruna Kridha Rasa turut beradaptasi dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan edukasi. Melalui unggahan foto dan video pertunjukan di akun Instagram, sanggar berupaya menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital.

Langkah ini menunjukkan bahwa seni tradisional dapat tetap relevan dan berkembang tanpa kehilangan nilai keasliannya.

Baca Juga: Krido Turonggo, Sanggar Tari Legendaris di Boyolali

Melalui konsistensi kegiatan, pembinaan anggota, serta pemanfaatan media digital, Sanggar Taruna Kridha Rasa terus berperan sebagai penjaga seni tradisional Jawa di Kota Malang.

Keberadaan sanggar ini menjadi bukti bahwa budaya tradisional masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat modern dan patut dilestarikan sebagai bagian dari identitas bangsa.

Penulis:
1. Alman Ghiyats
2. Clarissa Chelsea Martasilia
3. Devi Putri Natali
4. Mohamad Syaiba Al Amin
5. Septara Dyca Ramadhani
6. Sintia Dwi Febrianti
Mahasiswa Perpustakaan Digital UM

Dosen Pengampu: Alfian Fawaidil Wafa, M. Pd.

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses