Krido Turonggo Boyolali merupakan kesenian daerah yang berasal dari Desa Gubug, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali.
Krido Turonggo adalah sebuah sanggar tari kuda lumping yang terbentuk pada 2 September 1961 dan masih berdiri sampai sekarang.
Didirikannya Krido Turonggo ini bertujuan untuk mengembangkan kebudayaan di Indonesia melalui kesenian tradisional yang berasal dari kekreatifan para pendirinya.
Krido Turonggo Boyolali memiliki sejumlah prestasi, salah satunya yaitu juara 1 tingkat nasional di Taman Mini Indonesia Indah pada 24 Oktober 2010 dalam lomba keprajuritan nusantara yang mewakili Provinsi Jawa Tengah.








Sanggar tari Krido Turonggo Boyolali memiliki tagline The Legend of Kuda Lumping karena pada awal berdirinya hanya fokus pada tari kuda lumping.
Seiring berjalannya waktu, Krido Turonggo Boyolali tidak hanya menampilkan Tari Kuda Lumping saja dalam pementasannya tetapi juga menampilkan salah satu tari yang berkembang dikawasan lereng Gunung Merapi, yaitu Tari Topeng Ireng.
Awalnya tari ini bernama Tari Dayakan, karena kostum yang digunakan mirip dengan pakaian khas Dayak, kemudian diubah menjadi nama yang sekarang ini, yaitu Topeng Ireng.
Nama Topeng Ireng diambil dari akronim Toto Lempeng Irama Kenceng yang berarti semua penari berbaris lurus dan di iringi dengan irama lagu yang keras serta penuh dengan semangat.


Tari Topeng Ireng memiliki daya tarik yang terletak pada kostum para penarinya. Dengan mahkota yang dihiasi bulu warna-warni dan pakaian para penari yang berumbai-umbai dengan warna yang beragam, dibagian kaki juga terdapat kelintingan yang menghasilkan suara gemerincing dalam setiap hentakan kaki penarinya.
Setiap pementasannya, Tari Topeng Ireng diiringi dengan berbagai suara, mulai dari suara teriakan para penarinya, suara gemerincing dari hentakan kaki, musik yang mengiringi tarian, hingga teriakan para penonton.
Biasanya musik yang digunakan pada saat mengiringi Tari Topeng Ireng adalah musik yang sederhana, yaitu menggunakan alat musik seperti gamelan dengan alunan musik yang menyatu dengan gerakan para penari.
Tetapi sanggar tari Krido Turonggo Boyolali memodifikasi musik yang digunakan dengan memadukan dengan musik dangdut maupun musik pop.
Penulis: Galang Rambu Wicaksana
Mahasiswa Program Studi Film & Televisi Institut Seni Indonesia Surakarta
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














