Langit menjadi atap dalam sebuah pertunjukan yang diadakan pada panggung budaya di Taman Mini Indonesia Indah, tidak ada lampu warna-warni yang menghiasi, hanya ada langit yang berwarna jingga menuju gelap. Para penonton mulai memenuhi tempat duduk yang berbentuk setengah melingkar.
Pertunjukan yang ditampilkan bernama upacara adat “Perang Ketupat”. Pertunjukan ini diadakan pada tanggal 7 Juni 2026 oleh Diklat Tari Anjungan Bangka Belitung, Taman Mini Indonesia Indah.
Adat istiadat yang di angkat dalam pertunjukan ini dipercaya dapat menghindari malapetaka yang disebabkan oleh makhluk ghaib dan kekuatan ghaib. Didalam pertunjukan ini tidak hanya menyajikan sebuah pertunjukan tarian namun ada beberapa rangkaian kesenian lainnya.
Di awal pertunjukan, mereka memperkenalkan permainan daerah yang berasal dari Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang bernama permainan Bola Tampah. Pembukaan dengan permainan ini membuat interaksi para penontonnya hidup karena, penonton diajak untuk mencoba permainan satu ini.
Setelah permainan selesai, rangkaian acara selanjutnya adalah berdoa bersama dan pertunjukan silat yang diiringi oleh tabuhan gendang. Gerakan silat yang ditunjukan cukup tegas dan dinamis sehingga menciptakan suasana yang lebih khidmat menjelang rangkaian ritual utamanya.
Pada bagian doa mereka memunculkan adanya adegan trance atau kesurupan yang menjadi salah satu elemen penting dalam ritual. Kehadiran trance ini menjadi bagian yang menarik karena adegan ini menghadirkan suasana sakral yang diwariskan secara turun-menurun.
Memasuki inti pertunjukan, terdapat tiga tarian yang dihadirkan dalam pertunjukan ini namun yang akan dibahas secara mendalam adalah salah satu tarian dari tiga tarian tersebut yaitu Tari Serimbang yang berasal dari Kepulauan Bangka Belitung. Tarian ini dibawakan oleh dua orang (perempuan dan laki-laki).
Tari Serimbang dalam Perang Ketupat ini diciptakan oleh Nek Inut pada tahun 1774. Tarian ini terinspirasi dari burung “Cebuk”. Dasar tarian ini berpijak pada peniruan gerakan burung-burung “Cebuk” yang memberikan kesan lincah.
Berdasarkan pengamatan terhadap pertunjukan ini, Tari Serimbang terdapat motif gerak yang berulang. Pengulangan gerak tersebut berfungsi untuk memperkuat karakter tari tradisi dan menjaga nilai ritual yang terkandung didalamnya.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang penonton, pengulangan gerak yang dilakukan dalam durasi yang cukup panjang dapat menimbulkan rasa jenuh. Hal ini terlihat ketika rangkaian gerak yang sama terus diulang tanpa adanya variasi dinamika, pola lantai, maupun perubahan kualitas gerak yang signifikan.
Hal ini dapat didukung oleh teori kreativitas menurut Alma M. Hawkins (1964) dalam “Creating Through Dance”, sebuah komposisi tari memerlukan pengembangan gerak agar dapat menciptakan pengalaman estetis yang lebih beragam bagi para penonton.
Jika dilihat dari segi teknik tari yag dibawakan oleh penari, terlihat bahwa penari kurang dalam membawakan rangkaian gerak. Hal ini dapat di lihat pada gerakan tangan yang menyerupai kepakan sayap, penari terlihat menyelesaikan gerak sebelum hitungan berakhir.
Akibatnya, gerakan kepakan terasa belum tuntas karena rentang geraknya tidak dieksekusi secara penuh hingga akhir hitungan. Hal tersebut membuat kualitas gerak menjadi kurang mengalir serta mengurangi kesan lincah yang menjadi karakteristik Tari Serimbang.
Selain itu, pada bagian gerakan melawan, interaksi antara kedua penari juga belum terlihat meyakinkan. Penari laki-laki tampak langsung menjatuhkan tubuhnya hanya karena menerima sentuhan ringan dari penari perempuan, padahal belum terlihat adanya gerakan dorongan atau serangan yang cukup kuat untuk terjadinya reaksi tersebut.
Hubungan sebab dan akibat dalam rangkaian gerak menjadi kurang logis sehingga konflik yang ingin dibangun tidak terasa berkembang. Jika dikaitkan dengan teori Suzanne K. Langer (1953) yang mengemukakan tari merupakan simbol ekspresif yang hanya dapat tersampaikan apabila gerak dilakukan secara utuh.
Jadi, jika penari melakukan gerak dengan ragu-ragu maka pesan yang ingin disampaikan dalam tari tersebut tidak kuat sehingga pengalaman estetis penonton juga berkurang.
Lalu diakhir pertunjukan ditutup oleh sesi pelemparan ketupat atau disebut dengan perang ketupat. Setelah ada sesi perang ketupat dilanjut oleh doa bersama dan melarung sebuah miniatur yang berbentuk kapal dan di dalamnya terdapat makanan seperti ayam panggang, pisang raja, dll hal ini dimaknai sebagai tanda tolak bala.
Selain itu terdapat sesi menari bersama antar penonton dan penari. Dengan itu pertunjukan dapat membangun pengalaman yang menarik bagi para penontonnya.
Baca Juga: Antara Kelembutan dan Keberanian: Analisis Kepenarian Tari Randai Sabai Nan Aluih
Jika dilihat dari keseluruhan pertunjukan ini mampu menghadirkan kekayaan budaya melalui permainan tradisional, unsur ritual, seni bela diri, dan tari. Meskipun ada beberapa kritik pada segi tariannya tetapi pertunjukan ini memiliki kekuatan dalam suasana sakral yang dapat membangun emosi penonton.
Dan dengan adanya kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai budaya dan makna yang terkandung dalam pertunjukan. Dengan adanya pertunjukan ini, adat Perang Ketupat ini dapat dikenal oleh masyarakat luas.
Penulis: Nadhira Azzahra
Mahasiswa Pendidikan Tari Universitas Negeri Jakarta
Dosen Pengampu: Sulistiani, S. Hum., M.A.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













