Jakarta Timur — Pancasila sering dipahami sebagai seperangkat norma yang hadir dalam buku teks, upacara kenegaraan, atau pidato pejabat. Namun dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai tersebut justru lebih nyata hidup melalui kebudayaan lokal.
Salah satunya dapat ditemukan dalam Musik Sampyong, kesenian tradisional Betawi yang lahir pada 1934 dan hingga kini masih bertahan berkat kegigihan maestro Nawan bin Toyib Lemong.
Di tengah derasnya arus modernisasi, dominasi budaya populer, dan gaya hidup serba instan, keberadaan Musik Sampyong menjadi potret bagaimana nilai-nilai Kepancasilaan tidak hanya diuji, tetapi juga dihidupi secara nyata dalam keseharian masyarakat Betawi.
Musik Sampyong: Kolektivitas dan Persatuan dalam Praktik Budaya
Musik Sampyong lahir sebagai bentuk ekspresi budaya masyarakat Betawi pinggiran Jakarta. Tidak seperti pertunjukan individual yang menonjolkan seorang artis, Sampyong dibangun atas prinsip kolektivitas. “Dari dulu Sampyong itu bukan buat satu orang. Semua terlibat, dari yang main musik sampai yang nonton,” ujar Nawan bin Toyib Lemong.
Setiap peran dalam pertunjukan memiliki kedudukan yang setara: pemusik, penari, hingga pemain ujungan saling melengkapi tanpa hierarki. Bentuk kerja sama ini mencerminkan sila Persatuan Indonesia. Musik Sampyong menjadi ruang sosial yang mengajarkan persatuan bukan sebagai slogan, tetapi praktik nyata.
Baca Juga: Konser dan Politik: Bagaimana Musik Memengaruhi Arena Politik di Indonesia
Lebih jauh, Musik Sampyong juga menjadi media komunikasi sosial. Dalam pertunjukan, masyarakat belajar menghargai kontribusi orang lain, berbagi tanggung jawab, dan menjaga harmoni kelompok. Nilai-nilai ini relevan dalam membangun solidaritas sosial, terutama di lingkungan urban yang modern dan cenderung individualistis.
Jejak Sejarah dan Tanggung Jawab Moral Pelestarian
Sampyong diciptakan oleh Toyib Lemong bin Nurman dan awalnya dikenal sebagai Musik Uncul. “Awalnya ini namanya Musik Uncul, lalu berkembang jadi Sampyong. Sekitar tahun 1934 sudah mulai muncul,” jelas Nawan. Lahir dari masyarakat pinggiran, kesenian ini menjadi ekspresi budaya rakyat yang merekam kehidupan sosial zamannya.
Kini, Nawan bin Toyib Lemong menjadi satu-satunya maestro yang menguasai Sampyong secara utuh. Ia mempelajari musik ini sejak kecil, langsung dari ayahnya, dan bahkan membuat alat musik sendiri. “Saya cuma ingin Sampyong tetap ada dan tidak berubah dari aslinya. Yang asli itu bilahnya tujuh. Kalau pakai gambang panjang 20 atau 21 bilah, itu sudah bukan Sampyong asli,” tuturnya.
Sikap ini mencerminkan nilai tanggung jawab moral dan kejujuran, sejalan dengan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pelestarian budaya bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal etika dan amanah antargenerasi. Musik Sampyong menjadi saksi sejarah, identitas Betawi, dan media untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila secara nyata melalui tindakan dan teladan.
Tantangan Regenerasi dan Pendidikan Pancasila Melalui Budaya
Generasi muda menghadapi tantangan besar dalam mengenal Musik Sampyong. Perubahan gaya hidup, dominasi budaya populer, dan logika instan membuat kesenian tradisional dianggap sulit dan tidak relevan. “Ngajarin musik tradisional itu ribet, butuh sabar. Anak sekarang maunya yang cepat,” ujar Nawan. Bahkan, minat generasi lokal cenderung rendah, sementara orang dari luar daerah justru lebih tertarik.
Meski demikian, harapan muncul dari keluarga dan lingkungan dekat. Nawan mulai mengenalkan Sampyong pada anaknya tanpa paksaan, berharap lahir penerus yang memahami nilai budaya sekaligus nilai Pancasila. “Saya tidak maksa, cuma saya kenalkan pelan-pelan,” kata Nawan sambil menunjuk putranya yang masih berusia lima tahun.
Praktik ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi sarana pendidikan Pancasila yang kontekstual. Nilai gotong royong, tanggung jawab, kesabaran, dan cinta tanah air tidak diajarkan melalui hafalan, tetapi melalui pengalaman nyata. Sampyong menjadi laboratorium sosial di mana ideologi dan budaya berpadu, membentuk karakter generasi yang memahami dan menghidupi Pancasila dalam keseharian.
Baca Juga: Sejarah Musik Rock di Indonesia
Musik Sampyong sebagai Cermin Nilai Pancasila
Musik Sampyong bukan sekadar kesenian tradisional Betawi, tetapi cermin nilai-nilai Kepancasilaan yang hidup di masyarakat. Di dalamnya terkandung persatuan, kemanusiaan, tanggung jawab moral, dan keadilan sosial.
Tanpa dukungan nyata dari masyarakat, lembaga pendidikan, dan negara, kesenian ini berisiko terpinggirkan. Namun selama ada individu yang setia merawatnya seperti Nawan, Pancasila tidak hanya hadir sebagai ideologi formal, tetapi menjadi napas budaya bangsa yang hidup, menolak terseret oleh arus modernisasi yang serba instan. Musik Sampyong mengingatkan kita bahwa merawat budaya berarti juga merawat identitas, nilai, dan ideologi yang membentuk bangsa.
Penulis:
Evana Widyasiwi
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila
Dosen Pengampu: Dirga Maulana, S.I.Kom.I., M.P.A.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













