Perkembangan media digital yang semakin pesat telah mengubah perilaku audiens.
Sebelumnya, audiens mengandalkan televisi sebagai media utama untuk mendapatkan informasi dan hiburan.
Kini, perhatian mereka mulai beralih karena banyak pilihan platform digital yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja.
Perubahan tersebut menjadi tantangan bagi program televisi yang perlu memahami karakteristik dan kebiasaan penonton agar tetap relevan.
Perubahan tersebut bisa dilihat dari salah satu program televisi, My Trip My Adventure atau biasa disingkat MTMA.
Program tersebut termasuk kategori travel yang menampilkan sekelompok selebriti menjelajahi berbagai tempat di Indonesia.
Selain menampilkan perjalanan, My Trip My Adventure juga memperkenalkan beragam wisata, budaya lokal, dan lingkungan di berbagai daerah.
Hal tersebut dijelaskan pada laman resmi Trans TV.
Berdasarkan informasi dari Wikipedia, My Trip My Adventure pertama kali disiarkan pada September 2013.
Baca Juga: Sejarah dan Pengembangan Sistem Penyiaran Televisi di Indonesia
Dalam 11 tahun perjalanannya, My Trip My Adventure sempat mengalami perubahan pola distribusi.
Pada April 2021, program tersebut sempat berhenti tayang di televisi, lalu kembali hadir di media sosial sebelum akhirnya kembali ke televisi.
Peralihan tersebut menunjukkan bahwa program televisi tidak terlepas dari perubahan media dan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi konten.
Perubahan Audiens Menjadi Tantangan bagi My Trip My Adventure
Audiens mengalami perubahan yang semakin terlihat dari beragamnya cara masyarakat mengonsumsi media.
Masyarakat tidak lagi bergantung pada televisi sebagai sumber informasi dan hiburan karena platform digital menyediakan beragam konten.
Media sosial memberikan kebebasan kepada audiens untuk memilih konten berdasarkan minat, waktu, dan kebutuhan mereka.
Hal tersebut menjadi tantangan baru bagi program televisi karena harus mempertahankan daya tariknya di tengah perubahan pola konsumsi media.
Baca Juga: Dua Mahasiswa Film dan Televisi ISI Surakarta Ikuti Workshop Kamera Standar Industri
Munculnya berbagai platform digital yang memudahkan audiens mengakses konten perjalanan membuat tantangan tersebut semakin nyata.
Content creator banyak membuat konten berisi rekomendasi tempat wisata, pengalaman saat bepergian, serta informasi tentang budaya setempat.
Informasi tersebut bahkan sering disajikan dalam bentuk video berdurasi singkat yang mudah ditonton.
Dengan begitu, program televisi tidak hanya bersaing dengan program televisi lain, tetapi juga dengan konten digital yang mengangkat tema serupa.
Selain itu, penonton yang menyukai konten wisata mungkin tidak semuanya menyukai format yang sama.
Ada yang lebih suka konten berdurasi panjang seperti yang ditayangkan di televisi, ada yang lebih suka konten berdurasi singkat yang langsung menunjukkan bagian menarik dari tempat tujuan, ada yang lebih suka konten wisata lokal, ada yang menyukai konten wisata luar negeri, dan ada juga yang lebih suka konten wisata yang affordable.
Dari situ terlihat bahwa memahami audiens tidak cukup hanya dengan melihat topik yang diminati, tetapi juga perlu memperhatikan cara mereka mengonsumsi konten.
Baca Juga: Dari Penonton Menjadi Komunitas: Cara TikTok Content Creator Membangun Hubungan yang Bertahan Lama
Strategi My Trip My Adventure Mengikuti Perubahan Audiens
Kondisi tersebut membuat audiens semakin terbagi ke dalam kelompok dengan minat dan kebutuhan yang lebih spesifik.
Karena itu, penting bagi My Trip My Adventure untuk memahami perubahan perilaku audiens.
Program ini juga perlu mengikuti perubahan kebiasaan konsumsi media dengan tidak hanya menghadirkan konten melalui siaran televisi, tetapi juga mengunggah konten interaktif di platform yang banyak digunakan, seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, sesuai dengan kebiasaan audiens pada masing-masing platform.
Misalnya, TikTok dapat digunakan untuk mengunggah cuplikan perjalanan berdurasi singkat.
Instagram dapat dimanfaatkan untuk membagikan dokumentasi wisata dan membuat Instagram Stories yang membangun interaksi dengan pengikut.
Sementara itu, YouTube dapat digunakan sebagai platform untuk mengunggah ulang (reupload) episode yang sudah tayang di televisi.
Dengan begitu, penonton yang melewatkan penayangan di televisi tetap dapat menonton episode tersebut melalui YouTube.
Strategi tersebut dapat membantu My Trip My Adventure menjangkau audiens yang lebih luas tanpa meninggalkan konsep petualangan sebagai daya tariknya.
Pada akhirnya, kemampuan sebuah program untuk bertahan tidak hanya bergantung pada seberapa menarik konten yang disajikan, tetapi juga pada kemampuannya memahami perubahan audiens.
Kasus My Trip My Adventure menggambarkan bahwa perkembangan media digital bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi program televisi.
Dengan mempertahankan daya tarik program dan menyesuaikan cara penyampaian konten, My Trip My Adventure masih bisa dikenal dan tetap relevan meskipun cara masyarakat mengonsumsi media terus berubah.
Penulis: Octaviany Anggraenie Wijaya
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang
Editor: Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















