Alya Dwi Salsabila: Mendefinisikan Ulang Fashion sebagai Bahasa Autentisitas

Alya Dwi Salsabila: Mendefinisikan Ulang Fashion sebagai Bahasa Autentisitas

Profil Feature

Bagaimana seorang komunikator muda mengubah persepsi fashion dari sekadar penampilan menjadi medium ekspresi jati diri dan pemberdayaan remaja.

Yogyakarta, MMI – Dalam sebuah ruangan yang dipenuhi energi kreatif, Alya Dwi Salsabila S.I.Kom., M.A berbicara dengan antusias tentang fashion. Namun, bukan tentang label mewah atau tren runway terkini yang keluar dari mulutnya. Sebaliknya, ia berbicara tentang autentisitas, kepercayaan diri, dan bagaimana selembar kain yang kita kenakan bisa menjadi kanvas untuk menceritakan siapa kita sebenarnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fashion itu bukan soal pakaian mahal atau tren terbaru,” ujarnya. Tetapi bagaimana kita mampu menerjemahkan kepribadian kita, karakter kita ke dalam gaya yang kita pilih. Ketika gaya yang kita pilih itu dikombinasikan dengan percaya diri dan rasa bangga pada diri sendiri, itu akan terlihat autentik dan luar biasa di mata orang lain.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika belaka. Bagi Alya, fashion adalah bahasa komunikasi visual yang ia pelajari melalui perjalanan panjang, dimulai dari bangku sekolah menengah hingga menjadi akademisi dengan gelar master dalam bidang komunikasi.

 

Akar Pemahaman: Pelajaran dari Bangku SMP

Kesadaran Alya tentang kekuatan fashion tidak datang dari majalah mengkilap atau runway internasional, melainkan dari pengalaman personal yang membumi. Perjalanannya dimulai sejak duduk di bangku SMP, di masa ketika kebanyakan remaja masih mencari-cari identitas mereka.

Sejak SMP, saya mulai peduli dengan cara berpakaian di acara-acara sekolah, pergi bareng teman, kegiatan OSIS, atau kegiatan ekstrakurikuler,” kenang Alya. “Waktu itu memang ada keinginan untuk tampil keren—karena ya, pemikiran SMP. Tapi bukan cuma itu sebenarnya.”

Yang membuatnya berbeda dari remaja lain adalah kepekaan untuk mengobservasi. Ia menyadari sesuatu yang fundamental: penampilan bukan hanya soal estetika, tetapi juga tentang bagaimana orang lain merespons kehadiran kita.

Pada saat itu saya sadar bahwa penampilan ternyata bisa mengaruhi cara orang memperlakukan dan mendengarkan kita,” jelasnya. “Jadi apa yang kamu kenakan, fashion yang kamu gunakan, itu sebenarnya bisa mempengaruhi cara orang memperlakukan dan mendengarkan kita.”

Kesadaran ini bukan datang begitu saja. Ada momen transformatif yang mengkristalkan pemahamannya tentang hubungan antara penampilan dan kredibilitas, sebuah pelajaran yang diterimanya dari seorang guru pembimbing.

 

Momen Transformatif: Pelajaran dari Kompetisi Pidato

Pengalaman yang paling berkesan dalam membentuk filosofi Alya tentang fashion terjadi ketika ia berpartisipasi dalam lomba pidato. Saat itu, guru pembimbingnya memberikan nasihat yang tampak sederhana namun mendalam dalam implikasinya.

Guru saya bilang, ‘Kamu bukan cuma harus siap dengan apa yang kamu sampaikan atau materi yang kamu sampaikan, tetapi juga dengan penampilanmu,‘” ujar Alya mengingat kembali momen tersebut. Nasihat ini membuka perspektif baru baginya. Ia mulai memahami bahwa komunikasi efektif bukan hanya tentang konten verbal, tetapi juga tentang komunikasi non-verbal yang dipancarkan melalui penampilan.

Kalau saya tarik garis lurus di era sekarang, hampir persentase terbesar saat kita mau berbicara di depan publik adalah penampilan,” jelasnya dengan analisis yang tajam.

Dan penampilan ini mempengaruhi bagaimana orang memperlakukan kita.

Namun, Alya tidak berhenti pada pemahaman dangkal tentang “berpakaian rapi.” Ia menggali lebih dalam tentang apa yang membuat penampilan menjadi kuat.

Ketika kita mengenakan pakaian yang rapi, pakaian yang layak, pantas, sesuai dengan konteks, sesuai dengan identitas kita pada konteks tersebut sebagai apa, lalu kita juga nyaman dan percaya diri untuk mengenakannya, maka orang lain juga akan lebih menghargai kita,” paparnya dengan detail.

Dari pengalaman inilah lahir filosofi personal Alya: fashion bukan tentang tampil gaya demi gaya itu sendiri, tetapi tentang menghormati setiap momen dan menunjukkan kesiapan diri. Ini tentang penghargaan—terhadap diri sendiri, terhadap audiens, terhadap kesempatan yang diberikan.

 

Memahami Psikologi Remaja: Fashion sebagai Medium Pencarian Jati Diri

Dengan latar belakang pendidikan dalam ilmu komunikasi dan gelar master yang diraihnya, Alya memiliki pemahaman akademis dan praktis tentang bagaimana fashion berinteraksi dengan psikologi remaja, khususnya siswa SMA.

Yang membuat acara fashion show itu menarik bagi siswa SMA adalah karena itu adalah ruang ekspresinya,” jelasnya dengan pemahaman yang mendalam. “Di usia SMA, mereka sedang berada di fase-fase di mana mereka mencari jati diri. Mereka mulai memahami siapa diri mereka dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh teman-temannya, dilihat oleh lingkungannya.”

Menurut Alya, fase ini adalah periode kritis dalam pembentukan identitas. Remaja tidak lagi sepenuhnya bergantung pada identitas yang diberikan oleh keluarga atau sekolah, tetapi mulai aktif mengkonstruksi identitas mereka sendiri. Fashion show, dalam konteks ini, menjadi lebih dari sekadar ajang kompetisi atau pertunjukan.

Acara fashion show bisa menjadi medium untuk mengekspresikan itu bagi siswa-siswa SMA,” lanjutnya. “Bukan sekadar soal baju yang bagus saja, tapi juga cerita dan identitas diri.”

Perspektif ini mencerminkan pemahaman Alya tentang fashion sebagai bentuk komunikasi simbolik—sebuah bahasa visual yang memungkinkan individu untuk menceritakan narasi tentang siapa mereka, apa yang mereka hargai, dan bagaimana mereka ingin berinteraksi dengan dunia.

 

Pesan untuk Generasi Muda: Menghargai Keberagaman, Menolak Keseragaman

Ketika ditanya tentang pesan yang ingin ia sampaikan melalui fashion show untuk siswa SMA, Alya tidak ragu untuk mengambil sikap yang berlawanan dengan obsesi industri fashion terhadap tren dan keseragaman.

Semoga acara fashion show bisa menyampaikan bahwa ini bukan tentang ikutan-ikutan tren, tapi tentang mengenal lebih dalam diri kita dan menghargai keberagaman fashion atau gaya itu sendiri,” ujarnya dengan keyakinan.

Pesan ini sangat relevan di era media sosial, di mana tekanan untuk mengikuti standar estetika tertentu sangat kuat. Alya ingin remaja memahami bahwa keunikan adalah aset, bukan kelemahan. “Setiap orang punya cara sendiri untuk merasa nyaman, untuk merasa percaya diri. Semua itu tidak ada yang salah,” tegasnya. “Gaya tidak perlu dipaksakan harus sama dengan orang lain atau harus persis seperti panutan kamu. Cukup jadi versi terbaik dari dirimu.”

Pendekatan ini bukan tentang menolak fashion atau tren secara keseluruhan, tetapi tentang memiliki kendali dalam memilih apa yang sesuai dengan diri sendiri. Ini tentang konsumsi dan ekspresi yang sadar, bukan kepatuhan pasif.

 

Inspirasi Tanpa Nama: Demokratisasi Sumber Inspirasi

Dalam diskusi tentang desainer atau influencer yang bisa menginspirasi siswa SMA, Alya mengambil pendekatan yang menarik dan demokratis. Ia menolak untuk menyebutkan nama-nama spesifik, bukan karena tidak tahu, tetapi karena filosofi yang lebih dalam.

Kalau saya sebutkan nama, kayaknya setiap orang punya preferensinya masing-masing. Belum tentu yang saya suka, siswa SMA sekarang itu suka,” jelasnya dengan kesadaran tentang kesenjangan generasi dan preferensi personal.

Menurut Alya, desainer atau influencer yang bisa menginspirasi tidak harus figur-figur terkenal tertentu. Inspirasi bisa datang dari siapa saja yang kita temui, yang kita lihat, yang mampu menampilkan orisinalitas dan percaya diri dalam menampilkan apa yang mereka kenakan.

Yang penting bukan siapa orangnya, tapi sebetulnya apa yang bisa kita rasakan, apa yang bisa kita lihat saat melihat orang tersebut dan kita rasakan dari mereka,” paparnya.

Alya kemudian menjabarkan kriteria-kriteria yang menurutnya penting dalam mencari inspirasi fashion:

1. Konsistensi dengan Gaya Personal

Bagaimana mereka konsisten dengan gaya mereka. Bagaimana kita merasakan sensasi senang, bahagia, atau terpanah saat melihatnya.

2. Kemampuan Adaptasi tanpa Kehilangan Identitas

Yang bisa kita pelajari dari orang-orang tersebut adalah di mana mereka mampu beradaptasi dengan tren tapi tidak kehilangan jati dirinya.

3. Fashion sebagai Komunikasi Positif

Orang-orang yang menjadikan fashion sebagai sarana komunikasi yang positif.”

Dengan kriteria-kriteria ini, Alya membuka kemungkinan bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja—dari teman sekelas, kakak kelas, guru, bahkan orang asing di jalan yang kebetulan memiliki sense of style yang menarik.

Baca juga: Merajut Bangsa dari Kain Lokal menuju Fashion Global

Dari situ siswa ataupun siswi bisa belajar bahwa inspirasi outfit, inspirasi fashion bisa datang dari mana pun. Tidak hanya dari desainer atau influencer sebenarnya,” jelasnya. “Selama kita masih mau terbuka, berpikiran terbuka, dan masih mau belajar untuk memahami makna di balik simbol atau di balik fashion gaya tersebut.

Pendekatan ini mencerminkan demokratisasi fashion, sebuah pergeseran dari fashion sebagai domain eksklusif para elite menjadi medium ekspresi yang dapat diakses untuk semua orang.

 

Navigasi Digital: Platform dan Komunitas untuk Eksplorasi

Sebagai seseorang yang hidup di era digital, Alya memahami betul bahwa remaja masa kini mengkonsumsi konten fashion dengan cara yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Media sosial dan platform digital telah mengubah lanskap fashion secara fundamental.

Ketika ditanya tentang platform atau komunitas yang bisa menjadi sumber inspirasi fashion bagi siswa SMA, Alya memberikan rekomendasi yang praktis namun disertai dengan peringatan penting.

Sekarang banyak banget platform yang bisa dieksplorasi, tapi kalau saya sih yang paling aman dan paling relevan untuk anak SMA mungkin ada Pinterest, TikTok, dan Instagram—asal kita bijak menggunakannya,” ujarnya dengan penekanan pada kata “bijak.

Pinterest: “Pinterest itu adalah sumber inspirasi bagi saya. Kadang kalau buntu, pengen cari inspirasi, ke Pinterest. Pinterest bagus untuk kita cari ide dan referensi visual.”

Menurut Alya, kekuatan Pinterest terletak pada sifatnya yang kuratif dan visual. Platform ini memungkinkan pengguna untuk mengkoleksi dan mengorganisir inspirasi tanpa tekanan untuk “tampil” seperti di platform media sosial lainnya.

TikTok: “TikTok sekarang banyak. Sekali kamu nonton outfit yang kamu suka sampai habis, algoritmamu akan menunjukkan video yang sama seperti itu, dan itu bisa menjadi inspirasi juga buat kita. TikTok bisa jadi tempat melihat tren yang nyata dan gaya sehari-hari anak muda di Indonesia.”

Alya mengakui bahwa TikTok memiliki kelebihan dalam menampilkan fashion yang lebih relatable dan kontekstual untuk remaja Indonesia, berbeda dari konten fashion Barat yang sering mendominasi media lain.

Instagram: “Biasanya saya follow orang-orang atau muncul di explore karena saya sering searching terkait outfit yang sesuai dengan gaya saya berpakaian. Saya follow dan saya lihat feed-nya sebagai sumber inspirasi.

Namun, Alya juga mendorong siswa untuk tidak hanya bergantung pada platform digital. Ia menyarankan untuk mencari komunitas fashion lokal.

Kalau untuk komunitas, teman-teman bisa searching aja di Google, TikTok, atau Instagram. Tinggal ketik aja ‘komunitas fashion di Jogja,’ kalian bisa join. Sudah banyak banget informasinya,” sarannya.

Rekomendasi untuk bergabung dengan komunitas luring ini penting, karena memberikan dimensi sosial dan pembelajaran yang tidak bisa didapat hanya dari menjelajah media sosial.

Manfaat Jangka Panjang: Fashion Show sebagai Investasi Pengembangan Diri

Bagi Alya, keterlibatan siswa SMA dalam acara fashion show bukan hanya tentang momen glamor di atas panggung. Ia melihat fashion show sebagai investasi dalam pengembangan diri yang membawa manfaat jangka panjang dan multidimensional.

Mengapa siswa SMA penting untuk terlibat dalam acara seperti ini? Karena bagi saya, keterlibatan mereka dalam lomba fashion show atau acara fashion show bukan cuma tentang tampil, tapi bagaimana mereka belajar untuk percaya diri dan kreativitas,” jelasnya.

Alya kemudian menjabarkan berbagai manfaat spesifik yang bisa diperoleh siswa:

1. Membangun Kepercayaan Diri

Acara fashion show bisa melatih keberanian untuk tampil di depan publik. Di era yang semakin kompetitif ini, kemampuan untuk tampil percaya diri di depan orang banyak adalah kemampuan yang sangat berharga.”

2. Mengembangkan Berpikir Kritis

Ini juga melatih kita untuk berpikir kritis soal representasi diri—kita mau dilihat orang seperti apa. Ini bukan tentang pemikiran dangkal, tapi tentang presentasi diri yang strategis.

3. Pengenalan pada Industri Kreatif

Fashion show bisa menjadi jembatan untuk mengenal industri kreatif fashion lebih dekat dengan anak-anak SMA. Siapa tahu ada yang tertarik untuk ke dunia desain, atau tertarik melanjutkan ke dunia desain komunikasi visual, atau manajemen event.”

Alya menekankan bahwa industri kreatif adalah salah satu sektor yang tumbuh pesat di Indonesia, dan paparan dini terhadap industri ini bisa membuka peluang karir yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.

4. Dampak Positif yang Berkelanjutan

Manfaatnya bisa panjang banget dan banyak banget. Bahkan setelah acara selesai, pasti akan ada dampak positif yang bisa teman-teman yang terlibat di acara fashion show rasakan secara positif.” Dampak ini bisa berupa jaringan, pengembangan kemampuan, pembangunan portofolio, atau bahkan perubahan pola pikir tentang diri sendiri dan kemampuan mereka.

 

Tiga Pilar Ekspresi Diri: Panduan Praktis dari Alya

Ketika ditanya bagaimana siswa SMA bisa memanfaatkan acara fashion show untuk mengekspresikan diri dan tampil percaya diri dengan gaya mereka, Alya memberikan panduan praktis yang terstruktur dalam tiga pilar utama.

1. Pilar Pertama: Kenali Diri Sendiri

Yang pertama, kenali diri sendiri dulu. Kita kenalan dengan diri kita dulu, kita berbicara dengan diri kita dulu. Pokoknya kenalan diri dulu,” ujar Alya dengan penekanan pada pentingnya kesadaran diri.

Menurut Alya, pengetahuan diri adalah fondasi dari gaya yang autentik. Tanpa memahami siapa diri kita—preferensi kita, nilai-nilai kita, kenyamanan kita—kita akan selalu mengikuti tren tanpa substansi.

Gaya tidak perlu dipaksakan harus sama seperti orang lain, harus persis seperti panutan kamu. Enggak. Cuma cukup jadi versi terbaik dari diri kamu, jadi versi terbaik dari diri kamu, dan juga kamu nyaman saat menggunakan apa yang kamu kenakan.”

Ia kemudian menjelaskan hubungan antara kenyamanan dan kepercayaan diri: “Kalau kamu nyaman, pasti aura percaya diri itu akan muncul secara otomatis.

Ini adalah wawasan yang kuat—bahwa kepercayaan diri bukan sesuatu yang bisa dipaksakan atau dibuat-buat, tetapi adalah hasil alami dari keselarasan antara penampilan eksternal dan kenyamanan internal.

2. Pilar Kedua: Jangan Takut Tampil Beda

Yang kedua, kita jangan pernah takut untuk tampil beda. Jadilah unik, jadilah dirimu sendiri, jadilah autentik. Jangan pernah takut untuk tampil beda. Kadang justru ketika kita tampil beda, di situlah keunikan kita,” papar Alya dengan semangat.

Ini adalah mungkin aspek yang paling menantang, terutama untuk remaja yang secara alami ingin diterima oleh kelompok sebaya mereka. Tekanan sosial untuk mengikuti bisa sangat kuat di usia SMA.

Namun, Alya menegaskan bahwa keunikan adalah justru apa yang membuat seseorang berkesan dan menarik.

Fashion bagi saya bukan tentang jadi orang yang paling keren di ruangan, paling wah di ruangan. Bukan. Tapi jadilah orang yang paling autentik,” jelasnya.

Pernyataan ini adalah narasi tandingan terhadap sifat kompetitif dari banyak fashion show. Alya membingkai ulang kompetisi bukan sebagai “siapa yang paling bergaya” tetapi “siapa yang paling jujur dengan diri sendiri.”

3. Pilar Ketiga: Nikmati Prosesnya

Yang terakhir, ketika kita sudah kenalan dengan diri kita, terus kita jangan takut beda, yang terakhir adalah: nikmati aja. Nikmati prosesnya,” ujar Alya dengan nada yang hangat dan mendorong.

Ia kemudian mendeskripsikan apa yang dimaksud dengan “proses” dalam konteks fashion show: “Artinya adalah dari kita di acara fashion, dari kita mikirin mau pakai baju apa, lalu kita cari di lemari kita punya baju apa, lalu kita mix and match, lalu kita latihan jalan, latihan untuk bisa dagu terangkat dan percaya diri, lalu sampai kepada proses kita tampil di panggung dan dilihat oleh orang banyak—nikmati aja prosesnya.

Penekanan pada proses ketimbang hasil ini adalah filosofi yang matang. Dalam budaya yang terobsesi dengan hasil dan kepuasan instan, Alya mengingatkan bahwa pertumbuhan terjadi dalam prosesnya.

Itu semua sebenarnya bagian dari perjalanan untuk mengenali diri sendiri,” lanjutnya.

Dengan cara pandang ini, bahkan jika seseorang tidak menang dalam kompetisi atau tidak mendapat tepuk tangan meriah, mereka tetap mendapat sesuatu yang berharga—pemahaman yang lebih dalam tentang diri mereka sendiri.

 

Fashion Show sebagai Pengalaman, Bukan Sekadar Acara 

Dalam sintesis dari semua pemikirannya, Alya menawarkan pembingkaian ulang yang kuat tentang apa itu fashion show.

Kalau misalkan ada acara fashion show, anggap aja fashion show atau acara tersebut bukan sekedar acara, tapi sebenarnya pengalaman yang bisa bantu siswa-siswi SMA untuk bisa tumbuh, untuk bisa lebih berani mengekspresikan siapa kamu sebenarnya,” ujarnya.

Perbedaan antara “acara” dan “pengalaman” adalah halus namun mendalam. Acara adalah sesuatu yang terjadi pada kita; pengalaman adalah sesuatu yang kita ikuti secara aktif dan yang mengubah kita.

Dengan memposisikan fashion show sebagai pengalaman, Alya mengubah ukuran kesuksesan. Kesuksesan bukan lagi tentang tepuk tangan atau trofi, tetapi tentang transformasi dan pertumbuhan pribadi.

Baca juga: Trend Fashion 2025: Kembali dengan Gaya Ikonik

 

Pernyataan Penutup: Autentisitas sebagai Pernyataan Fashion Tertinggi 

Di akhir perbincangan, Alya memberikan pernyataan penutup yang merangkum seluruh filosofinya tentang fashion—sebuah manifesto untuk generasi muda yang mencari identitas mereka di dunia yang penuh dengan tekanan untuk mengikuti.

Fashion show, fashion itu bukan soal seberapa mahal pakaian kamu. Fashion itu bukan soal seberapa kamu bisa menggunakan tren-tren terbaru pada era ini. Ingat ya, fashion itu bukan soal pakaian mahal atau tren terbaru,” katanya dengan penekanan yang kuat.

Tetapi bagaimana kita mampu menerjemahkan kepribadian kita, karakter kita ke dalam gaya yang kita pilih. Sehingga gaya yang kita pilih itu, kalau kita kombinasi dengan percaya diri dan rasa bangga pada diri sendiri, itu akan bisa terlihat autentik dan terlihat luar biasa di mata orang lain.

Pernyataan ini merangkum semua yang Alya yakini tentang fashion: bahwa kemewahan tertinggi bukan merek atau harga, tetapi autentisitas. Bahwa gaya tertinggi bukan tentang mengikuti atau bahkan menetapkan tren, tetapi tentang ekspresi diri yang jujur.

 

Refleksi: Seorang Pendidik yang Memahami Kekuatan Fashion

Dalam Alya Dwi Salsabila, kita melihat pertemuan yang menarik antara ketelitian akademis dan kebijaksanaan praktis, antara pemahaman teoritis tentang komunikasi dan pengalaman hidup tentang fashion.

Dengan latar belakang pendidikannya dalam ilmu komunikasi dan gelar masternya, ia membawa kerangka intelektual yang solid untuk memahami fashion bukan hanya sebagai konsumsi atau estetika, tetapi sebagai bentuk komunikasi dan pembentukan identitas.

Yang membuat perspektif Alya sangat berharga adalah bahwa ia tidak berbicara dari menara gading. Pengalamannya dimulai dari tingkat dasar—dari seorang siswa SMP yang mulai memperhatikan penampilan, melalui kompetisi pidato yang membuka matanya tentang kekuatan presentasi, hingga menjadi seorang akademisi yang bisa mengartikulasikan dengan jelas hubungan antara fashion, identitas, dan ekspresi diri.

Ia juga memahami konteks spesifik dari siswa SMA di Indonesia—tekanan sosial yang mereka hadapi, ketersediaan sumber daya yang mungkin terbatas, budaya yang terkadang mengutamakan keseragaman daripada individualitas. Nasihatnya praktis, membumi, dan dapat dicapai, bukan fantasi aspirasional yang terputus dari realitas.

Yang paling penting, Alya tidak menjual ilusi. Ia tidak berjanji bahwa fashion akan membuat hidup sempurna atau bahwa dengan berpakaian tertentu semua masalah akan terpecahkan. Sebaliknya, ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga: sebuah kerangka untuk memahami diri sendiri lebih baik, untuk mengkomunikasikan identitas dengan lebih efektif, dan untuk menavigasi dunia dengan lebih percaya diri.

Dalam era di mana fashion sering dijual sebagai komoditas—sesuatu yang harus dibeli, dikonsumsi, diperbarui terus-menerus—Alya menawarkan visi alternatif: fashion sebagai praktik pengetahuan diri dan ekspresi diri. Bukan tentang apa yang kita beli, tetapi tentang bagaimana kita menggunakan apa yang kita punya untuk menceritakan kisah kita.

 

Warisan dan Dampak

Melalui pemikiran dan praktiknya, Alya Dwi Salsabila berkontribusi pada pergeseran paradigma dalam cara kita berpikir tentang fashion, khususnya untuk generasi muda. Ia membantu mendemokratisasi fashion—membawanya dari domain eksklusif para elite dan pencinta fashion ke praktik sehari-hari yang dapat diakses untuk semua orang.

Alya Dwi Salsabila S.I.Kom., M.A adalah akademisi dan praktisi komunikasi yang penuh semangat tentang fashion sebagai medium ekspresi diri. Dengan pendekatan yang menggabungkan teori komunikasi dan kebijaksanaan praktis, ia terus menginspirasi generasi muda untuk menemukan dan mengekspresikan autentisitas mereka melalui fashion.

Fashion bukan tentang jadi orang yang paling keren di ruangan. Fashion tentang jadi orang yang paling autentik.” -Alya Dwi Salsabila

 

Penulis:

  1. Deny Darmawan (230710216)
  2. Doni Febrian Embo (220710153)
  3. Elda Putri Ekayanti (230710049)
  4. Firdaus Jana Agustin (190710423)
  5. Khafka Adnin Nafiza Azzahra (230710025)
  6. Nabila Hanum Azzahra (230710202)
  7. Nabila Syanne Putri Pattisina (230710160)
  8. Nuri Tsabitah Putri Setiawan (230710203)
  9. Rahmat Hidayat (230710093)
  10. Ryan Aprilliano Wijaya (230710108)
  11. Wahyuda Putra Zultia (230710094)

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Mercubuana Yogyakarta
Dosen Pengampu: Dr. Rila Setyaningsih, S.Kom.I.,M.S.I

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses