Belakangan ini, wacana mengenai Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk siswa SMA/SMK kembali ramai dibicarakan.
Tes ini digadang-gadang akan menjadi salah satu modal utama siswa untuk masuk ke perguruan tinggi.
Sebagai seseorang yang mengikuti perkembangan dunia pendidikan, saya merasa kebijakan ini punya semangat baik, tetapi juga menyimpan banyak tanda tanya yang perlu dijawab.
Dalam pandangan saya, ini adalah upaya untuk menghadirkan “equal playing field” mereka yang sungguh-sungguh belajar punya kesempatan lebih besar bersaing secara objektif, bukan hanya mengandalkan nama besar sekolah.
Tetapi, Apakah TKA Otomatis Membuat Sistem Lebih Adil?
Di sinilah keraguan saya muncul. Tes apa pun pada dasarnya selalu berpihak pada mereka yang punya akses lebih baik: bimbingan belajar, waktu belajar lebih luas, fasilitas internet, hingga lingkungan rumah yang mendukung.
Jika persiapan TKA hanya menjadi ajang kompetisi tambahan, saya khawatir yang terjadi bukan pemerataan, tetapi penguatan kesenjangan.
Siswa yang mampu membayar bimbel khusus TKA akan punya keunggulan lebih dulu, sementara siswa yang terbatas fasilitasnya harus berjuang lebih keras untuk sekadar mengakses materi belajar.
Baca Juga: Dampak Kualitas Jaringan Internet Buruk Terhadap Produktivitas Akademik Mahasiswa
Pendidikan Bukan Hanya Angka
Selain itu, saya termasuk orang yang percaya bahwa pendidikan tidak bisa disempitkan hanya pada kemampuan akademik.
Dunia kerja dan kehidupan sosial hari ini menuntut hal-hal yang tak bisa dinilai oleh tes seperti:
- kreativitas,
- kemampuan berkolaborasi,
- komunikasi,
- problem solving di dunia nyata,
- karakter dan etika,
- kepekaan sosial.
Jika jalur masuk perguruan tinggi terlalu berat ditumpukan pada TKA, saya khawatir siswa akan kembali terjebak pada budaya “belajar demi ujian”, bukan belajar untuk berkembang sebagai manusia.
Yang Saya Harapkan dari Kebijakan TKA
Menurut saya, kebijakan ini bisa menjadi langkah baik asalkan diterapkan dengan bijak. Ada beberapa hal yang saya harapkan:
1. TKA Bukan Satu-satunya Penentu
Harus ada porsi besar untuk penilaian lain, seperti portofolio, minat-bakat, prestasi non-akademik, atau proyek kreativitas.
2. Kesempatan Belajar Harus Merata
Materi dan contoh soal TKA harus dibuka seluas-luasnya, gratis, dan mudah diakses. Jangan sampai hanya sekolah tertentu yang mendapat pembinaan.
Baca Juga: Guru dan Pelajar: Memikul Kebobrokan Pendidikan Indonesia yang Selalu Bermetamorfosis
3. Guru dan Sekolah Diberi Waktu Adaptasi
Transformasi sistem evaluasi tidak bisa instan. Guru perlu pelatihan dan pemahaman agar tidak kewalahan.
4. TKA Harus Menilai Kemampuan Berpikir, Bukan Hafalan
Saya mendukung, tapi dengan syarat.
Secara pribadi, saya tidak menolak kehadiran TKA. Saya melihat niat baik di baliknya. Akan tetapi saya juga tidak ingin pendidikan kita kembali menjadi mesin penghasil nilai semata.
Jika TKA benar-benar dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir, bukan sekadar hafalan, dan jika aksesnya benar-benar merata, maka saya percaya TKA bisa membantu siswa menemukan tempat terbaiknya di perguruan tinggi.
Namun jika tidak, maka TKA hanya akan menjadi tambahan beban bukan solusi. Pendidikan ideal adalah yang memberi kesempatan adil bagi semua anak, apa pun latar belakangnya. Dan saya berharap TKA dapat bergerak ke arah itu.
Penulis: Mita Agustin
Mahasiswa Prodi Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Dr. Sri Utami Ningsih, S.H., S.Pd., M.M.Pd., M.H.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












