Bayi yang Belum Cukup Umur Mengalami Obesitas karena Diberi Susu Kental Manis

Bayi
Ilustrasi: iStockphoto

Bayi adalah makhluk yang rentan dan memerlukan perhatian khusus, terutama dalam hal nutrisi. Asupan makanan pada bayi yang belum cukup umur memegang peranan penting dalam perkembangan fisik dan kesehatan mereka. Salah satu perhatian utama adalah jenis susu yang diberikan pada bayi, dan dalam beberapa kasus, pemberian susu kental manis telah menjadi perhatian utama.

Memberikan susu kental manis kepada bayi yang belum cukup umur adalah sesuatu hal yang tidak disarankan. Susu kental manis adalah susu evaporasi yang telah dipekatkan dengan menguapkan sebagian airnya dan kemudian ditambahkan gula sebagai pengawet yang dikemas dalam kaleng atau sebuah kemasan plastik.

Pemberian susu kental manis pada bayi belum cukup umur telah menjadi perdebatan dalam komunitas kesehatan. Susu kental manis tidak boleh berperan sebagai pengganti ASI untuk bayi yang belum cukup umur, karena dapat menyebabkan obesitas apabila dikonsumsi secara berlebihan.

Susu kental manis mengandung tinggi gula, lemak, dan kalori. Bayi pada usia ini memerlukan nutrisi yang tepat untuk mendukung perkembangan otak, sistem saraf, dan sistem pencernaan mereka. Oleh karena itu, pemilihan jenis susu yang diberikan pada bayi memiliki implikasi besar terhadap kesehatan mereka.

Apabila bayi diberikan susu kental manis dalam jangka panjang akan timbul beberapa dampak negative yaitu, obesitas, masalah gigi, kebutuhan nutrisi yang kurang., menjadi kebiasaan makan makanan yang tidak sehat, gangguan keseimbangan gula darah, dan lain-lain.

Situasi seperti ini dapat terjadi di mana saja, karena ini mengacuh kepada kebiasaan makan dan perawatan bayi yang diberikan oleh orang tua atau oleh pengasuh. Orang tua memiliki peran penting dalam memilih nutrisi yang tepat untuk bayi mereka.

Pemahaman mendalam tentang kebutuhan gizi bayi serta risiko dan manfaat masing-masing jenis makanan sangat penting. Konsultasi dengan profesional kesehatan, seperti dokter atau ahli gizi, dapat membantu orang tua membuat keputusan yang informasional dan bijaksana terkait pilihan susu yang diberikan pada bayi mereka.

Penting untuk memahami bahwa bayi membutuhkan asupan gizi yang seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka. ASI (Air Susu Ibu) dianggap sebagai makanan terbaik untuk bayi karena mengandung nutrisi lengkap yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal pada bayi.

Namun, dalam situasi tertentu, seperti ketika seorang ibu tidak dapat menyusui atau ketika ASI tidak mencukupi, mungkin diperlukan pengganti ASI. Pemberian ASI atau susu formula biasanya menjadi pilihan utama pada bayi yang belum cukup umur.

Susu formula adalah alternatif yang umum digunakan untuk bayi yang tidak dapat menerima ASI. Susu formula dirancang untuk memberikan nutrisi yang mirip dengan ASI dan tersedia dalam berbagai jenis, seperti susu formula bayi, susu formula pertumbuhan, dan lain-lain.

ASI secara alami mengandung nutrisi yang penting, termasuk protein, lemak, dan karbohidrat, yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Pemberian susu kental manis pada bayi dapat menggantikan asupan gizi yang seimbang dengan gula tambahan yang dapat berdampak buruk pada kesehatan mereka. Gula tambahan dalam susu kental manis dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan bayi.

Konsumsi gula yang berlebihan pada usia yang sangat muda dapat mengakibatkan peningkatan risiko diabetes tipe 2, resistensi insulin, dan masalah kesehatan metabolik lainnya pada masa dewasa. Resistensi insulin adalah kondisi di mana sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, hormon yang berperan dalam mengatur kadar gula darah. Resistensi insulin sering terjadi sebagai tahap awal menuju diabetes tipe 2.

Diabetes adalah suatu kondisi kesehatan yang ditandai oleh tingginya kadar gula (glukosa) dalam darah. Hal ini terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi atau menggunakan insulin secara efektif. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berperan dalam mengatur kadar gula dalam darah.

Bayi pada periode perkembangan awal sangat rentan terhadap dampak jangka panjang dari konsumsi gula berlebihan. Obesitas pada anak-anak telah menjadi masalah kesehatan global yang meningkat. Obesitas adalah suatu kondisi medis yang ditandai oleh akumulasi lemak tubuh yang berlebihan, sehingga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan.

Hal ini tidak hanya mencakup aspek kelebihan berat badan, tetapi juga melibatkan distribusi lemak tubuh yang tidak seimbang. Pengukuran umum yang digunakan untuk menentukan obesitas adalah indeks massa tubuh (BMI), yang membandingkan berat badan dan tinggi badan seseorang.

Pemberian susu kental manis pada bayi belum cukup umur dapat memberikan kontribusi pada perkembangan gaya hidup yang tidak sehat, yang dapat memicu obesitas pada tahap selanjutnya. Gaya hidup sehat, termasuk pola makan yang seimbang, sangat penting untuk mencegah obesitas dan masalah kesehatan terkait lainnya.

Pemberian makanan yang tepat pada bayi merupakan langkah awal penting untuk membentuk kebiasaan makan sehat di masa depan. Organisasi kesehatan seperti WHO (World Health Organization) dan AAP (American Academy of Pediatrics) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif pada bayi selama enam bulan pertama kehidupan.

Pemberian susu formula yang sesuai juga dianggap sebagai alternatif yang baik jika ASI tidak dapat diberikan. Pemberian susu kental manis sebaiknya dihindari, terutama pada bayi yang belum cukup umur, untuk mengurangi risiko obesitas dan masalah kesehatan lainnya.

Solusi untuk pengganti ASI pada bayi bisa digantikan dengan susu formula, susu kambing atau susu binatang lainnya, bisa juga susu modifikasi.

Maksud dari susu modifikasi adalah susu formula yang dirancang khusus untuk bayi dengan kebutuhan nutrisi khusus, seperti formula bayi yang dirancang untuk bayi dengan alergi atau intoleransi terhadap protein susu sapi.

Bisa juga didapatkan dari Donor ASI, apabilah ASI tidak tersedia dari ibu sendiri, beberapa tempat menyediakan donor ASI yang telah disaring dan diuji untuk keamanannya. Donor ASI dapat menjadi opsi bagi bayi yang membutuhkan ASI tambahan.

Nur Khanifatin

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis: Nur Khanifatin
Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI