Perkembangan hunian mahasiswa di berbagai kota pendidikan menunjukkan kecenderungan meningkatnya penyediaan kamar kos dengan fasilitas kamar mandi dalam. Fasilitas ini dipandang mampu memberikan kenyamanan, menjaga privasi, serta meningkatkan nilai jual kamar kos. Akibatnya, kamar mandi dalam kini menjadi salah satu fasilitas yang paling diminati oleh calon penyewa.
Namun, di balik meningkatnya permintaan tersebut muncul fenomena baru, yaitu pembangunan kamar kos berukuran relatif kecil, sekitar 3 × 3 meter bahkan lebih kecil, yang tetap dipaksakan memiliki kamar mandi di dalamnya. Umumnya, kamar mandi tersebut berukuran sekitar 1 × 1 meter sehingga luas ruang utama yang tersisa hanya sekitar 8 m². Ruang tersebut harus menampung tempat tidur, meja belajar, lemari pakaian, sekaligus menjadi ruang utama untuk belajar, beristirahat, dan beraktivitas sehari-hari.
Ditinjau dari aspek perancangan bangunan, kondisi tersebut kurang memenuhi prinsip kenyamanan ruang. Architects’ Data karya Neufert menyebutkan bahwa kamar tidur yang nyaman umumnya memiliki luas sekitar 9–12 m², belum termasuk kamar mandi.
Sementara itu, kamar mandi yang layak membutuhkan luas sekitar 1,8–3 m² (Neufert Foundation, 2012). Dengan demikian, apabila sebuah kamar kos dilengkapi kamar mandi dalam, luas ideal keseluruhannya sebaiknya berada pada kisaran 12–15 m² agar penghuni tetap memiliki ruang gerak yang memadai.
Selain aspek kenyamanan, ukuran ruang yang terbatas juga berpotensi memengaruhi kesehatan penghuni. World Health Organization (WHO, 2018) menjelaskan bahwa kualitas hunian dipengaruhi oleh kecukupan ruang, ventilasi, pencahayaan, dan pengendalian kelembapan.
Kamar mandi merupakan sumber kelembapan yang, apabila tidak didukung sistem ventilasi yang baik, dapat meningkatkan pertumbuhan jamur dan menurunkan kualitas udara dalam ruangan.
Penelitian oleh Fisk, Lei-Gomez, dan Mendell (2007) menunjukkan bahwa keberadaan kelembapan dan jamur di dalam bangunan berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan pernapasan dan alergi.
Sejalan dengan itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2024) juga menegaskan bahwa lingkungan yang lembap dapat memperburuk kesehatan saluran pernapasan.
Ironisnya, ruang yang dikorbankan untuk kamar mandi justru digunakan dalam waktu yang relatif singkat setiap hari. Menurut National Health Service (NHS), orang dewasa umumnya buang air kecil sekitar 6–8 kali per hari (NHS, 2023).
Sementara itu, Mayo Clinic menyatakan bahwa frekuensi buang air besar yang masih tergolong normal berkisar antara tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu (Mayo Clinic, 2024).
Dengan demikian, kamar mandi hanya digunakan beberapa menit dalam sehari, sedangkan ruang utama kamar dimanfaatkan hampir sepanjang waktu untuk belajar, bekerja, beristirahat, maupun beraktivitas lainnya.
Fenomena ini juga membawa konsekuensi terhadap kehidupan sosial mahasiswa. Pada masa sebelumnya, fasilitas bersama seperti kamar mandi, dapur, maupun ruang jemur menjadi tempat bertemunya penghuni kos sehingga tercipta interaksi sosial yang alami.
Sebaliknya, ketika seluruh fasilitas berada di dalam kamar, intensitas pertemuan antarpenghuni cenderung menurun. Padahal, kehidupan di lingkungan kampus tidak hanya bertujuan membangun kemampuan akademik, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial, komunikasi, serta jejaring pertemanan yang penting bagi perkembangan individu.
Keberadaan kamar mandi dalam pada kamar kos pada dasarnya bukanlah suatu permasalahan. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan ukuran ruang yang memadai agar tidak mengorbankan kenyamanan, kesehatan, maupun kualitas hidup penghuni. Fasilitas seharusnya menjadi nilai tambah, bukan justru mengurangi kelayakan ruang tinggal.
Oleh karena itu, pembangunan hunian mahasiswa hendaknya mempertimbangkan prinsip-prinsip perancangan yang sehat dan manusiawi. Hunian yang baik tidak hanya menawarkan privasi, tetapi juga menyediakan ruang yang cukup, ventilasi yang memadai, serta lingkungan yang mendukung kesehatan fisik, kesehatan mental, dan interaksi sosial penghuninya.
Daftar Pustaka
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Mold. https://www.cdc.gov/mold
- Fisk, W. J., Lei-Gomez, Q., & Mendell, M. J. (2007). Meta-analyses of the associations of respiratory health effects with dampness and mold in homes. Indoor Air, 17(4), 284–296. https://doi.org/10.1111/j.1600-0668.2007.00475.x
- Mayo Clinic. (2024). Bowel movement: What’s normal? https://www.mayoclinic.org
- National Health Service. (2023). Urinary incontinence. https://www.nhs.uk
- Neufert Foundation. (2012). Architects’ Data (4th ed.). Wiley-Blackwell.
- World Health Organization. (2018). WHO Housing and Health Guidelines. Geneva: World Health Organization.
Penulis : Waras Suwarni, S.Pd.
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












