Haruskah Indonesia Lebih Dekat dengan Australia?

Indonesia Australia

Di masa pandemi COVID-19, Australia memiliki dua masalah utama yang menjadi perhatiannya, pertama, hubungan yang semakin memburuk dengan Tiongkok dan kedua, Amerika Serikat dan sistem politiknya yang semakin hari semakin kacau karena krisis. Hal ini termasuk dampak ekonomi yang sangat signifikan dan dirasakan oleh hampir seluruh negara.

Hal yang paling mengerikan adalah ketika dua masalah utama Australia bertepatan dengan Tiongkok yang terus menerus memperluas kegiatannya di sekitar Laut China Selatan, termasuk di sekitar Kepulauan Natuna Indonesia. Tiongkok terus menerus bergerak secara agresif dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus antara hubungan Australia dan Indonesia serta India yang perlu dilibatkan sehingga mampu untuk memperkuat kawasan.

Namun, tujuan strategis Australia untuk meningkatkan hubungannya dengan Indonesia kini akan terasa sulit karena nyatanya Indonesia menghadapi bencana kesehatan dan ekonomi yang jauh lebih parah dari Australia. Indonesia juga diprediksi berpotensi menyebabkan resesi dengan PDB turun dari tingkat pertumbuhan sekitar 5,2% menjadi kurang dari 2%.

Pada 8 Mei, Indonesia telah mencatat 13.112 COVID-19 kasus dan 943 kematian, tetapi angka resmi telah diperoleh dari tingkat pengujian sekitar 240 per juta orang, dibandingkan dengan banyak negara termasuk Australia, dengan tingkat pengujian sekitar 9.000-18.000 per juta warga. Saya berpendapat bahwa sebenarnya angka resmi Indonesia memang dikecilkan secara signifikan dan hal itu hanya berlaku di awal tantangan menghadapi COVID-19 ditambah dengan keadaan ekonomi yang sangat mengganggu.

Di saat yang sama, ketika hampir jutaan orang Indonesia merasa kehilangan pekerjaan, Presiden Joko Widodo telah mengumumkan sebuah proteksi keamanan bagi mereka yang membutuhkan uang serta dukungan pemerintah dalam keadaan mendesak. Namun apakah hal tersebut bisa terealisasi ?.

Saya memandang bahwa hal itu akan hampir mustahil dengan 26 juta orang berpenghasilan kurang dari $ 1,30 per hari dan 60 juta orang lainnya bahkan mendapatkan penghasilan lebih sedikit dari itu. Sehingga untuk mendukung warga negara Indonesia yang terkena dampak ekonomi akibat COVID-19 akan sangat sulit.

Hal mendasar yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah bantuan keuangan dan medis. Akan tetapi, Australia sedang fokus pada masalah COVID-19 di negaranya sendiri dan juga Departemen Luar Negeri yang terus menerus bekerja untuk memulangkan ribuan warga Australia yang masih berada di luar negeri. Faktor tersebut menyebabkan hanya ada sedikit waktu dan peluang untuk mempertimbangkan kembali kebutuhan negara tetangga dan membangun hubungan lebih dekat dengan Indonesia.

Dalam tiga minggu terakhir, Australia memanggil Duta Besarnya, Gary Quinlan, karena alasan kesehatan dan proteksi. Namun, pergerakan yang dilakukan oleh Australia ini diduga sebagai gerakan Australia untuk meninggalkan Indonesia dimasa-masa Indonesia sedang membutuhkannya. Pandangan tersebut menyebabkan beberapa jurnalis yang berbasis di Jakarta termasuk ABC, Fairfax, dan News Limited menyatakan bahwa persepsi terhadap peninggalan, pengabaian, dan sebagainya itu tidak benar.

Disaat yang sama, Tiongkok memberikan indikasi bahwa mereka siap untuk membantu Indonesia dalam berbagai hal termasuk rencana untuk mengembalikan penerbangan wisata ke Bali pada awal Juni. Namun, Australia tidak begitu tegang karena biasanya bantuan dari Tiongkok seringkali disambut dengan banyak keraguan serta kecurigaan oleh banyak orang Indonesia.

Dengan prediksi jangka panjang pasca COVID-19, Australia dan Indonesia perlu membangun kembali hubungan mereka yang ada seluas mungkin. Meskipun kedua negara tersebut memiliki prioritas masing-masing dalam membangun hubungan bilateralnya dengan negara lain. Namun, hal yang perlu ditekankan adalah peningkatan kapasitas dalam berbagi intelijen mereka secara substansial dan juga pertahanan keamanan termasuk hubungan militer dan perlindungan serta patroli angkatan laut bersama.

Maka dari itu, dalam hal ini Australia perlu mempertimbangkan untuk tidak mengurangi bantuan asingnya kembali ke Indonesia. Cara ini didasari sebagai bagian dari misi perbaikan anggarannya tersendiri sehingga Australia bisa menggunakan dananya untuk membangun kapasitas dalam administrasi layanan publik, kesehatan, pendidikan, serta sektor keamanan.

Indonesia dan Australia memiliki perjanjian perdagangan yang baru saja disimpulkan, yang dikenal sebagai Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia, atau IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement) yang memberikan peluang yang signifikan bagi kedua negara untuk menciptakan hubungan bisnis dan perdagangan yang lebih dalam dan lebih kuat, dengan fokus pada kemitraan yang dapat mencakup pertanian, layanan publik, pendidikan, infrastruktur dan kesehatan. Oleh karena itu, IA-CEPA harus sepenuhnya diimplementasikan sebagai prioritas.

Australia dan Indonesia jangan sampai ceroboh karena tidak hanya berurusan dengan Tiongkok yang lumayan licik saja. Kedua negara ini butuh kolaborasi dengan negara lain. Indonesia dan Australia pasti akan saling membutuhkan satu sama lain karena kedua negara ini juga sama-sama membutuhkan India yang didasari tidak hanya untuk kepentingan ekonomi mereka sendiri, melainkan untuk keamanan dan stabilitas masa depan di kawasan ini.

Australia memiliki skill komunikasi yang sangat baik terkait hubungannya dengan Indonesia dengan istilah “Less Geneva, More Jakarta” yang diciptakan oleh mantan Perdana Menteri Tony Abboth, dan kini perlu segera menjadi “a bit less Beijing, a lot more Jakarta”. Pandemi COVID-19 ini akan sangat menguji seberapa dalam kata-kata tersebut.

Diakhir, saya merasa bahwa dari beberapa malasah diatas Indonesia perlu membalas serta memperkuat keinginan untuk menjalin kerjasama serta komitmen bersama yang saling menguatkan satu sama lain secara mendalam. Para pemimpin kedua negara perlu meningkatkan kerangka kerjasama ekonomi dengan tujuan untuk mengambil persepsi secara regional. Dengan membentuk kerjasama dalam arsitektur perdagangan dan investasi kawasan pasca pandemi, Indonesia dan Australia mampu mengurangi masalah-masalah yang lebih kecil pasca kegagalan-kegagalan kerjasama kedua negara tersebut dimasa lalu.

Fauzi Wahyu Zamzami
Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI