Intelektualitas Seorang Akademisi Diuji di Tahun Politik

Entah apa yang merasuki diri hari ini tergerak hati untuk menulis tentang topik ini. Barangkali ini akibat kecanduan media sosial yang membuat kita begitu cepat mendapat informasi atau berita. Saya termasuk pengguna sosial yang bisa dikategorikan aktif. Bagi saya sosial media tidaklah sepenuhnya mengandung nilai negatif tetapi sebaliknya juga begitu banyak nilai positif, tergantung pribadi masing-masing dalam memahami dan menggunakanya. Sebagai contoh, karena saya suka menulis maka sosial media sebagai media tempat barbagi apa yang saya tulis.

Belakangan ini Indonesia sedang masuk dalam suasana yang disebut tahun politik. Pada tahun politik ini sepertinya hubungan antar manusia semakin memanas ditambah lagi cahaya mentari yang membuat bumi terasa begitu panas. Apakah ini teguran dari Tuhan ataukah memang dunia ini sudah masuk usia senja dan semua energi semakin terkuras dan manusia tak lagi mengenal kedamaian. Apalagi jika melihat sosial media saat ini, sepertinya sosial media mulai dikuasai. Dikuasai golongan-golongan tertentu untuk meluluskan dan menstimulus hasrat pribadi dan golongan tertentu. Ini sungguh ironis. Barangkali pribadi atau golongan-golongan tersebut masuk dalam kategori orang yang tak paham menggunakan sosial media sebagai bentuk kecanggihan teknologi infromasi dan komunukasi. Tentunya ini mencederai tujuan mulia dari perkembangan ilmu pengetahuan yang seharusnya memberikan kemudahan, kedamaian tetapi justru malah menimbulkan kerusakan. Kerusakan moral bangsa akibat penggunaan yang salah kaprah dalam bersosial media. Perang sosial media mulai terjadi tapi tak menemukan solusi.

Di tahun politik ini para akademisi mulai bersuara. Inteletualitasnya sedang diuji coba. Sebelumnya tidak kritis tapi di tahun politik mereka mulai berfikir analitis. Itu sah-sah saja. Karena mereka punya pemikiran masing-masing akibat berkembangnya pola fikir. Tapi ingat, jangan salah kaprah. Berfikir kritis dibenarkan karena itulah salah satu ciri kaum intelektual, namun berfikirlah dengan dua belah mata jangan justru berat sebelah. Kaum intelektual harus seimbang. Silahkan memberikan kritikan tapi juga disertai dengan solusi untuk mengatasi persoalan. Bersosial medialah dengan bijak. Jangan jadikan sosial media sebagai ajang menambah permusuhan, tapi jadikan ajang menambah pertemanan.

Saya sempat berfikir andai saja kaum akademisi yang memiliki ide dan cara pandang yang luar biasa dalam memahami bangsa, segala komentar dan kritikan yang disampaikan lewat sosial medianya masing-masing ditulis dengan apik yang mencirikan kaum akademisi, pastilah banyak melahirkan pemikir-pemikir yang luar biasa. Tidak hanya berani berdiskusi di sosial media yang terkadang membuat panas suasana, tapi para pemikir-pemikir tersebut dapat meninggalkan karya-karya yang luar biasa. Ketika mereka telah tiada maka karyanya akan menjadi penerus dan dipahami oleh para penerus. Tapi sebaliknya, saya berfikir apalah jadinya para pemikir. Jika hari ini mereka hanya banyak berbicara tapi sedikit sekali fikirannya dituangkan dalam sebuah karya. Pastilah ide berlian, pemikiran yang luar biasa tersebut akan hilang ditelan zaman. Berapi-berapi bak kembang api. Habis percikan maka warna-warni kehidupan tak lagi didapatkan.

Bengkalis, 22 Februari 2019

Khairul Azan
Staf pengajar di STAIN Bengkalis

Baca juga:
Body Shaming di Sosial Media
Pendidikan Perdamaian dan Anti Kekerasan di Media Sosial
Media Sosial Juga Bisa Jadi Racun Bagi Generasi Muda

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI