Kebudayaan dan Tradisi yang Melekat di Desa Batukaang

Desa Batukaang
Ilustrasi: istockphoto

Desa merupakan bentuk pemerintahan terkecil di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satunya Desa Batukaang, di mana desa ini merupakan salah satu dari 48 desa di Kecamatan Kintamani. Desa Batukaang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, desa ini terletak sekitar 18 km ke arah utara dari kecamatan dan sekitar 45 km dari Kabupaten Bangli.

Desa Batukaang terletak di Kecamatan Kintamani bagian barat. Keberadaan Desa Batukaang memiliki satu desa adat dan satu desa dinas dengan satu wilayah kerja yaitu satu dusun/ banjar. Berbeda dengan desa-desa lain dalam satu wilayah bisa memiliki beberapa desa adat dalam satu desa dinas.

Adapun sejarah dari Desa Batukaang ini pun belum ada yang mengetahui secara jelas baik dari penua bahkan tidak ada peninggalan buku sejarah atau tulisan.

Namun ada satu penua yang sempat diceritakan oleh penglingsir/ mantan perbekel dulu yang menjabat pada tahun 1949, bahwa jika berbicara mengenai tantang sejarah, pemimpin yang pertama kali yaitu Nang Sandat beliau menjabat pada tahun 1949 sampai 1976 yang dipilih langsung secara niskala (ditunjuk langsung di area tempat suci oleh orang yang tidak sadarkan diri).

Setelah itu pada tahun 1977 sampai 1986 Desa Batukaang memilih Nang Kandran (I Wayan Siram) sebagai bendesa yang dipilih melalui demokrasi yaitu oleh masyarakat. Selanjutnya pada tahun 1987 sampai 2001 Nang Diasih (I Wayan Karma) menjadi bendesa, pada saat beliau menjadi bendesalah pertama kali di temukan situs-situs purbakala salah satunya ditemukan Pura Pancer Jagat.

Pada tahun 2001 sampai 2004 yang menjadi bendesa pada saat itu iyalah I Made Lues saat itu beliau sangat sebentar menjadi bendesa. Lalu pada tahun 2005 sampai 2015 nang kek (I made Kartu) menjadi bendesa adat. Pada tahun 2015 sampai 2020 dipimpin oleh I Made Yudana.

Pada tahun 2020 sampai sekarang dipimpin oleh I Ketut Resep yang dipilih secara niskala di Pura Desa yaitu dengan cara adat tradisi dengan sarana upacara yaitu kwangen yang dimana di dalamnya sudah diisi tulisan “Bendesa”.

Desa Batukaang memiliki budaya yang sangat amat melekat, tataran masyarakat yang sangat baik. Budaya dan adat yang kental masyarakat seperti penerapan asah, asih, asuh selalu dijunjung tinggi oleh masyarakat Desa Batukaang. Di mana asah itu artinya mendidik, bertukar pikiran, memberi koreksi dan saran.

Sedangkan asih yang artinya sikap saling menghormati satu sama lain. Dan asuh yang artinya membina atau saling memelihara, menjaga dan saling membantu. Namun seiring berkembangnya jaman nilai sosial dan budaya kian menipis, yang dipengaruhi oleh masuknya budaya luar dengan kondisi belum siapnya masyarakat menghadapi pengaruh-pengaruh luar tersebut.

Di samping itu Desa Batukaang juga memiliki keragaman budaya seperti upacara adat, tarian, dan alat musik. Upacara adat di Desa Batukaang yang pertama itu ada ngaben masal, upacara ini dilaksanakan pada 5 tahun sekali.

Ada upacara ngerupuk yang dilakukan di perempatan desa untuk melaksanakan persembahyangan dan melakukan ritual dan banten suci yang di haturkan lalu menyalakan api dan masyarakat bersorak-sorak di perempatan desa.

Selanjutnya ada tarian setiap upacara yadnya diharuskan ada tarian yang pertama ada rejang bajang yang ditarikan oleh krama suci dan baris yang ditarikan oleh pemuda, baris presi yang ditarikan oleh seke ebat. Selanjutnya ada gambelan setiap upacara yadnya diiringi dengan gambelan yaitu gong, dan setiap ada orang meninggal diiringi dengan angklung.

Selain itu Desa Batukaang juga memiliki tradisi yang unik. Yang pertama tradisi ngaturang bakatan atau tumbakan berupa babi. Setiap ada warga yang melalukan pernikahan wajib untuk melalukan ngaturang bakatan. Babi diaturkan terlebih dahulu kepada betare dalem sebagai persyaratan pertama di desa adat.

Setelah itu dihaturkan oleh pemuka adat lalu para seka ebat tedun kepura untuk memotong babi setelah itu dicecerkan di daun pisang, setiap KK mengambil bagian dagingnya untuk dibawa pulang ke rumahnya. Tradisi ini harus dilakukan jika tidak pernikahan tidak akan sah di adat.

Tradisi yang kedua ada tradisi Sangkep gibungan dilaksanakan 2 kali dalam 1 tahun. Tradisi ini dilaksanakan pada saat sasih keenam di sebelah selatan desa dan di sebelah timur desa. Seka ebat berkumpul di balai desa untuk memotong sapi yang akan dijadikan sesajen.

Sebelum megibung masyarakat membuat sesajen dari olahan sapi, sesajen ditujukan atau dihaturkan kepada penjaga batas-batas desa. Kegiatan menghaturkan sesajen dilaksanakan sore menjelang malam, karena pada saat itu di yakini oleh masyarakat sebagai keluarnya buta kala.

Sebagai pertanda keharmonisan dan hadirnya buta kala tersebut maka masyarakat juga melaksanakan megibung dengan bersorak sembari mengambil makanan yang dihadapi dengan berlomba-lomba. Setelah proses tersebut, diyakini buta kala juga akan puas dengan sesajen tersebut dan menjaga desa serta tidak mengganggu masyarakat Desa Batukaang.

Jadi kebudayaan, adat-istiadat dan tradisi dapat mempererat hubungan masyarakat lebih sejahtera, menciptakan masyarakat yang maju akan kentalnya kebudayaan dan tradisi di desa atau daerah masing-masing.

Maka dari itu penerus anak-anak muda harus selalu melestarikan budaya, tradisi dan adat istiadat agar budaya, adat istiadat dan tradisi kita dapat dikenal oleh banyak orang di seluruh dunia.

Penulis: Ni Komang Manik Parwati
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI