Keterbatasan Manajemen Risiko dalam Operasional Bisnis

Manajemen Risiko dalam Operasional Bisnis
Ilustrasi: istockphoto

Mengartikan manajemen risiko menjadi banyak jalan dan cara, risiko sendiri dapat dipecah menjadi dua komponen yaitu kemungkinan dan dampak. Suatu risiko peristiwa bisnis operasional harus dipertimbangkan dari berbagai aspek.

Maka dari itu haruslah melakukan analisis baik kualitatif atau kuantitatif agar mencegah terjadinya hal-hal baik maupun buruk dalam segi identifikasi risiko.

Mungkin ada salah satu individu yang ada di dalam bisnis operasional memiliki pertanyaan di benaknya, “Apa yang dapat dilakukan untuk menangani kejadian risiko yang sudah teridentifikasi?” Proses pembalutan pertanyaannya ini disebut dengan perencanaan respons risiko.

Respons risiko bertujuan untuk melampaui analisis abstrak dan mempersiapkan orang untuk bertindak. Memiliki rencana menjadi sebuah keuntungan, pertama memungkinkan suatu individu yang terkena  dampak sebuah risiko untuk menanggapinya dengan cepat. Sehingga meminimalkan risiko yang disebabkan oleh peristiwa risiko.

Contohnya  jika anda siap untuk memadamkan api di atas kompor, anda harus segera memadamkannya sebelum tumbuh menjadi kebakaran. Kedua, memiliki rencana untuk menangani kejadian risiko yang memungkinkan suatu individu untuk mengahadapinya dengan cerdas.

Jika peristiwa risiko muncul secara mengejutkan suatu individu maka individu tersebut tidak yakin apa yang harus dilakukan untuk menanggapinya dengan cepat karena tidak cukup memiliki informasi atau waktu untuk merenungkan kelebihan dan kekurangan solusi alternatif.

Dalam hal ini, suatu individu mungkin terjun ke dalam situasi yang tidak siap untuk ditangani sehingga membuat keputusan yang buruk atau kurangnya informasi yang diperlukan sehingga menyebabkan individu menunda tindakan, dalam kedua kasus tersebut maka individu tidak siap membuat keputusan yang baik.

Perencanaan respons risiko memiliki kerangka kerja yang berfokus pada empat kategori besar solusi, yaitu pencegahan, pengurangan, mentransfer risiko ke pihak ketiga, dan kontinjensi.

Yang pertama ialah pencegahan, yang di mana tindakan pencegahan tersebut dilakukan untuk menghentikan ancaman yang timbul atau mencegahnya berdampak pada proyek atau bisnis.

Yang kedua ialah pengurangan, di mana tindakan ini bertujuan untuk mengurangi kemungkinan risiko berkembang atau membatasi dampak ke tinkgat yang tidak diinginkan.

Yang ketiga ialah transfer risiko merupakan tujuan untuk mengurangi risiko agar tidak mentransfer risiko ke pihak ketiga, misalnya melalui klausul asuransi atau penalti dalam kontrak. Yang keempat ialah kontinjensi, yang di mana tindakan direncanakan dan diatur ketika risiko terjadi.

Pemecahan perlakuan risiko bertujuan untuk menghindari risiko yang berkaitan untuk mengurangi kemungkinan bahwa individu dalam kelompok akan menghadapi peristiwa risiko yang berdampak buruk.

Misalnya, jika analisis dampak risiko menunjukkan bahwa dengan menambahkan module baru ke rutinitas perangkat lunak maka akan meningkatkan kemungkinan sistem akan macet 500 persen.

Penghindaran risiko jika dilakukan terlalu jauh memiliki sisi negatifnya, sehingga dapat menyebabkan di mana individu tumbuh menghindari risiko sehingga indivdu tidak akan membuat keputusan apa pun dan mengakibatkan konsekuensi negatif.

Masalah untuk pendekatan ini adalah individu harus melakukannya dengan baik dan juga individu perlu mengambil risiko sesekali.

Mitigasi risiko pada umumnya hanya digunakan dalam manajemen mutu, dengan memperhatikan proses kontrol dan memperhatikan teknik kontrol kualitas, seperti grafik kontrol dan melayani fungsi identifikasi risiko. Misalnya, seperti pola bagan kontrol kualitas menyarankan masalah dengan mesin gerinda.

Mitigasi risiko juga merupakan premis yang mendasari tenance utama preventif. Dengan mengambil langkah-langkah rutin untuk menjaga peralatan dengan baik.

Misalnya, seperti mengganti oli mesin untuk setiap tiga ribu mil, sehingga kemungkinan untuk terjadinya kerusakan sangat berkurang dan sangat memungkinkan dalam membantu suatu pekerjaan.

Pemecahan perlakuan risiko juga bertujuan untuk menunjukkan  bahwa nilai dan fleksibilitas manajemen risiko bergantung pada sejumlah faktor. Seperti, seberapa banyak pengalaman yang individu miliki dalam melakukan operasi? Apakah individu beroperasi di bidang yang stabil atau bergejolak?

Apakah individu mengarsipkan penglaman kerjanya, serta memberikan metrik yang dapat diterapkan untuk melakukan analisis risiko yang berarti? Sejauh mana individu berkomitmen untuk menagani risiko? Yang di mana pada akhirnya, manajemen risiko tidak akan menghasilkan keajaiban.

Namun, hal itulah yang membuat suatu individu dapat mempersiapkan diri untuk menguarangi jumlah yang akan dihadapi serta siap untuk menangani kejadian yang tidak diinginkan muncul.

Untuk mengartikan dan memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan manajemen risiko individu perlu menjnjau proses dasar manajemen risiko. Proses manajemen risiko memiliki lima langkah:

Pertama, perencanaan risiko yang di mana memaksa suatu individu menghadapi risiko pada tingkat yang tidak terlalu besar. Upaya yang dilakukan untuk perencanaan risiko ialah membahas berbagai pertanyaan penting. Seperti, siapa yang memiliki tanggung jawab atas risiko utama?

Bagaimana seharusnya individu mengatur upaya untuk menangani risiko? Alat dan metodologi apa yang harus indvidu persiapkan untuk digunakan?

Kedua, mengidentifiaksi risiko ialah membuat individu secara sistematis mencoba mengindentifikasi peristiwa risiko yang mungkin harus dihadapi.

Untuk melakukan identifikasi individu harus melalui daftar kejadian risiko, brainstorming dalam kelompok, dan menggunakan alat analisis yang berfokus pada risiko rentan. Sehingga individu meiliki gagasan bagus tentag hal-hal baik dan buruk atas apa yang bisa dan tidak bisa terjadi.

Ketiga, memeriksa dampak risiko yang di mana dilakukan baik secara kualitatif dan kuantitatif. Bertujuan mengharuskan individu untuk memeriksa konsekuensi dari hal-hal buruk yang penting. Individu juga harus siap untuk membahas bebagai pertanyaaan seperti, “Jika peristiwa risiko terjadi maka apa konsekuensi fisiknya?” Konsekuensi keuangan? Dampak pada kesejahteraan publik? Dan sebagainya.

Semakin teliti individu dalam melakukan langkah ini semakin sadar pula individu tentang dampak dan kemungkinan berbagai kejadian risiko.

Informasi yang dikumpulkan sangatlah berharaga agar mengurangi peristiwa berisiko tinggi (peristiwa zona merah). Hal tersebut harus perhatian utama karena jika tidak akan menyebabkan kerusakan besar, semakin diperhatikan maka akan semakin mengurangi dampak yang akan diterima.

Keempat, penanganan risiko di mana hal ini berfokus pada persiapan untuk menangani kejadian risiko yang telah diidentifikasi serta mengembangkan strategi untuk menangani risiko. Maka dari itu individu harus menyiapkan beberapa strategi standar yang bisa diterapkan.

Contohnya, dengan transfer risiko yang bertujuan untuk mengalihkan beban urusan kepada pihak ketiga (misalnya perusahaan asuransi). Atau dengan penerimaan risiko, individu menyadari hal-hal buruk yang akan terjadi dan siap untuk bergerak maju.

Bagaimanapun individu menyisihkan cadangan kontingensi untuk menangani kemungkinan konsekuensi  dari peristiwa yang tidak diinginkan.

Atau dengan mitigasi risiko individu mencoba memperbaiki masalah sehingga tingkat kemunculannya kecil, atau pada akhirnya individu melakukan tindakan penghindaran risiko agar menjauh  dari melakukan hal-hal yang membuat suatu individu dalam masalah.

Kelima, pemantauan dan mengendalikan risiko ialah langkah tindakan untuk individu menentukan bahwa peristiwa risiko bukan lagi kemungkinan teoretis tetapi sebenarnya yang sedang terjadi. Jika individu berhasil mengantisipasi kejadian risiko dengan benar dan kesiapan maka individu akan siap untuk mengahadapinya.

Untuk itu manajemen risiko menunjukkan bahwa risiko operasional berbeda dari jenis risiko lainnya karena tidak berkaitan dengan pengelolaan yang tidak diketahui tetapi berurusan dengan proses yang ditetapkan. Seperti sebuah peralatan yang telah berfungsi selama bertahun-tahun secara tiba-tiba mengalami kerusakan.

Atau misalnya, suatu individu mengalami pembengkakan biaya pada suatu proyek atau pekerjaan yang dikarenakan tim teknis meremehkan kesulitan melakukan pekerjaan ketika membuat perkiraan biaya awal.

Atau individu menemukan bahwa persyaratan yang telah ditangani akan berubah secara radikal ketika pelanggan baru tiba di tempat kejadian, masalah terkait proyek muncul karena dipenuhi dengan ketidakpastian. Fakta bahwa memberi tahu suatu individu masa lalu bukanlah panduan yang tidak sempurna untuk future.

Tidak peduli seberapa sering suatu individu melakuakan jenis proyek atau pekerjaan tertentu hal-hal yang berbeda mungkin akan terjadi di waktu berikutnya.

Penulis: Ovvy (NIM: 42103090)
Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI