Menulis, Ya Menulis Saja

Ada beberapa orang teman yang bertanya kepada saya, “gimana sih caranya nulis?”, “susah amat nulis, awalnya gimana dulu nih?”, “susah nyari inspirasi buat nulis bro”, dan beberapa pertanyaan lainnya. Saya pribadi sih bingung juga mau jawab gimana. Bukan tanpa alasan, saya menulis hanya karena ingin, tidak ada alasan lain.

Entahlah, jika untuk urusan inspirasi tiba-tiba saja terlintas di kepala, ketika naik motor, ketika kuliah, bahkan ketika boker sekalipun, apalagi ketika ingat kamu. Yah bagi saya menulis ya menulis saja, untuk urusan redaksi kata sih saya sendiri tidak terlalu memusingkannya, wajar saja jika status saya sebagai penulis pemula masih banyak salah redaksi di sana-sini. Terpenting adalah mulai saja menulis, kalau tidak dicoba mah takkan jadi-jadi.

Ya, kita tidak harus memusingkan redaksi kata yang belum rapi, namanya juga belajar. Seiring berjalannya waktu kualitas tulisan kita akan meningkat juga. Ibarat bayi yang belajar berjalan, memulai menulis pun takkan berbeda jauh dari itu. Dimulai dari ngesot, merangkak, jatuh bangun berkali-kali, hingga akhirnya bisa tegap berdiri, kemudian berjalan.

Dari segi gaya bahasa sendiri para pembaca bisa suka-suka dewek memilihnya, mau yang baku seperti koran, atau yang luwes layaknya komik. Tentu saja perlu disesuaikan dengan sasaran pembaca kita, yah masa kita nulis judul artikel, “strategi bangsa menghadapi bahaya laten komersialisasi pendidikan” tapi menggunakan gaya bahasa yang luwes, “jadi bahayanya gini loh beb, aku sih nggak setuju sama teorinya Dewey, cuma nggak suka aja sama pengelolaannya” jadinya kan agak jijik bacanya. Please deh beb, tulisannya harap disesuaikan juga dengan tema, judul, dan sasaran pembaca kita.

Dalam hal menulis kita tidak perlu memusingkan diri dengan baying-bayang rasa takut, gengsi, atau malu karena tulisan kita belum maksimal. Ya, kita mesti juga memaklumi diri, toh namanya juga belajar, yah mosok tiba-tiba tulisan kita langsung bagus apalagi dengan berharap lebih tembus Kompas, Tirto, Mojok, atau Republika, that’s impossible baby.

Yang paling penting adalah nawaitunya itu, saya jamin kalau orang yang betul-betul serius ingin menulis, lima menit setelah membaca tulisan yang acakadut ini, mereka pasti akan membuka laptop atau smartphone, lalu mulai menulis. Mudah-mudahan terinspirasi yah beb.

Selain hal teknis yang sering dipermasalahkan dalam menulis semisal, redaksi, gaya bahasa, dan diksi, seringkali juga kesulitan muncul dalam hal-hal non teknis. Sebut saja tentang sulitnya mencari topik tulisan. Pernah mengalami bukan? Topik atau isu tulisan yang akan dibahaspun kerap menjadi masalah, “duh gue musti nulis apaan”, “isu apa nih yang cocok buat ditulis yah?” pertanyaan itu kerap menggerayangi mereka yang ingin mencoba memulai menulis.

Untuk soal topic, yah kita ambil yang semampunya kita saja, kalau kita mahasiswa yah bisalah kita coba nulis artikel opini tentang isu kemahasiswaan, tips menjadi mahasiswa idaman maba, atau jurus ampuh menghadapi dosen killer. Dalam menulis pun ya tidak bisa ambisius juga, apalagi kalau topik tulisan kita terlalu jauh dari jangkauan.

Boleh saja menuliskan sesuatu di luar keahlian kita, tapi yah yang bener aja keleus. Yah masa mahasiswa pertanian nulis artikel, “tips olahraga sehat bagi ibu menyusui” kan kagak nyambung bro. hal paling mudah dilakukan dalam menulis permulaan sebenarnya yah menuliskan keseharian kita saja. Apa yang kita alami, yang kita rasa, yang kita suka, tuangkan saja dalam bentuk tulisan.

Jangan harap hasil tulisan awal kita akan maksimal, setidaknya saya sendiri pernah mengalami hal yang memalukan ketika membaca tulisan pertama saya “astaghfirullah, duh duh duh tulisan gua gini amat dah” sambil mengelus dada.

Dibalik keginiamatan tulisan pertama kita, seiring berjalannya waktu, dan seiring kita mencoba, luka lama karenanya itu akan pulih kita juga akan memperoleh suatu peningkatan kualitas dalam hal kepenulisan. Semangat menulis my love!

Rahman Wahid

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

Komentar ditutup.