Perlukah Internasionalisasi Pendidikan di Indonesia saat ini?

Internasionalisasi Pendidikan sebenarnya adalah penyatuan dualisme paradigma pendidikan, yaitu unsur-unsur lokal dan internasional. Namun, di Indonesia sendiri diartikan sebagai pendidikan yang serba internasional dan dengan biaya yang mahal.

Lalu, perlukah Internasionalisasi Pendidikan untuk saat ini?

Pendidikan Indonesia masih dikatakan dalam kondisi darurat (Komnas HAM, Beka Ulung Hapsari, 2018):

Masih banyak kasus pelanggaran HAM
Data Badan Persatuan Bangsa- Bangsa untuk Anak (Unicef), menyebutkan 1 dari 3 anak perempuan dan 1 dari 4 anak laki-laki di Indonesia mengalami kekerasan. Sepanjang akhir tahun lalu banyak sekali kasus bullying yang bermunculan, mulai dari teman sekolah ataupun keluarga sendiri. Dari data tersebut tercatat bahwa kasus pelanggaran HAM di Indonesia dari tahun ke tahun masih meningkat.

Ranking pendidikan Indonesia yang buruk
Data dari Programme for Internasional Student Assessment (PISA) 2015 menyebutkan bahwa pendidikan Indonesia menempati posisi 64 dari 72 negara yang tergabung dalam anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Di Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi nomor 5 dibawah Singapura, Brunai Darussalam, Malaysia dan Thailand.

Banyak kasus korupsi yang berkaitan dengan anggaran pendidikan
Data Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 2005 sampai 2016 terdapat 425 kasus yang mengambil anggaran pendidikan mencapai Rp 1,3 triliun dan nilai suap Rp 55 miliar.

Sistem pendidikan di Indonesia belum berjalan dengan baik
Salah satu penyebab belum berhasilnya sistem pendidikan di Indonesia adalah kurikulum pendidikan Indonesia yang belum bisa mengakomodasi keragaman budaya. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beraneka ragam kebudayaan dan sumber daya yang berbeda di setiap daerahnya. Untuk itu seharusnya kurikulum harus dibuat oleh sekolah pada daerah masing-masing, agar sistem pendidikan bisa sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat sekitar dan dapat meningkatkan kesejahteraan daerah tersebut.

Penggunaan metode pengajaran yang membosankan juga menjadi alasan mengapa sistem pendidikan Indonesia tidak berjalan dengan baik. Pengajaran yang monoton membuat siswa menjadi malas untuk belajar.

Fasilitas yang kurang mendukung seperti gedung sekolah, ruang belajar, dan fasilitas lainnya yang jauh dari kata layak membuat program pendidikan terhambat sehingga membuat sistem pendidikan tidak bisa berjalan dengan semestinya. Masih banyak lagi factor- faktor yang mempengaruhi sistem pendidikan, di antaranya kualitas tenaga kependidikan, akses pendidikan dan pemerataan pendidikan yang sering dibicarakan dalam masyarakat.

Perlukah Internasionalisasi Pendidikan?
Kurangnya penanaman nilai karakter pada generasi muda penerus bangsa dan melihat dari banyaknya persoalan yang terjadi, sebaiknya pendidikan Indonesia dibenahi terlebih dahulu. Ketika pendidikan Indonesia sudah mampu menanamkan nilai-nilai dan karakter bangsanya, selanjutnya pendidikan kita siap dan perlu adanya Internasionalisasi.

Nama Aida Rahmawati
Mahasiswa Universitas Negeri Semarang

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI

1 Komentar

Komentar ditutup.