Mereka Menggebuk Islam

Ketakutan terhadap Islamis (gerakan politik Islam) yang ingin meraih kekuasaan melalui pemilu menjadi rintangan bagi demokratisme di berbagai negara.

Greg Fealy, peneliti politik Islam dari ANU- Canberra, mengungkapkan, kaum demokratisme liberal-sekuler lebih menyukai kediktatoran sekuler ketimbang kediktatoran agama. Karena baginya, jika kaum agamawan (Islam) berkuasa, tidak ada ruang kompromi dan cenderung vis a vis.

Secara internasional, pemerintah barat lebih menyenangi otokrat ramah ketimbang pemerintahan Islamis yang dipilih secara demokratis tetapi berpotensi bermusuhan. Sehingga betapapun demokratis dan tolerannya seorang muslim, tetap dicurigai dan diawasi. Hal itu juga dilakukan oleh kelompok-kelompok lain di luar Islamis.

Sehingga tidak heran jika dalam waktu terakhir ini, Islamis atau muslim Indonesia, bahkan di seluruh dunia, menjadi sasaran “gebuk”. Dihajar habis-habisan dengan rasa ketidakadilan, babak belur secara politik, dan traumatik secara sosiologis dan fobia secara ideologis.

Selama mengeroyok Islamis, terutama di Indonesia, dapat disaksikan harmonisasi komunisme dengan demokrasi-neoliberalisme barat. Padahal kita tahu secara ideologis kedua merupakan rival, tapi secara politik keduanya kolega yang baik (terutama ketika berhadapan dengan Islamis).

Kita sedang berada di dalam kondisi itu. Dan ironisnya rezim saat ini ikut terjebak di dalam umpan politik kedua kelompok tadi, yang diperlihatkan secara megah di dalam panggung media. Sekaligus mengambil bagian menggebuk delapan puluh delapan persen warganya sendiri, dengan dalih “demokrasi” dan “toleransi”, walaupun diterjemahkan dari kamus yang dibuatnya sendiri.

Setelah terumpankan dan masuk di dalam jebakan yang megah itu, akhir mengalami ketergantungan: baik secara politik, ekonomi, perdagangan, keamanan, sains, kedokteran dll. Dalam ketergantuntan itu pasti tak berdaya. Maka saat itulah seseorang akan menjadi abdi dalem bagi Sang Pengendali.

Akibatnya apa, lahirlah Perppu Ormas/UU Ormas (sebagai alat gebuk); slogan “Saya Pancasila” sebagai borgol; buzzer sebagai alat propaganda sara. Semua itu merupakan perangkat yang sengaja diciptakan atas “perintah sang pengendali”, untuk membuat Islamis tak berdaya–setelah digebuk dan dikeroyok, tanpa ampun.

FARIS THALIB
Direktur Eksekutif Indonesia Political Studies

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI