Perkembangan Alat Musik Perekaman dari Masa ke Masa

Perkembangan Alat Musik
Alat Musik.

Latar Belakang

Pada perkembangan teknologi alat perekaman musik zaman konvensional hingga era digital telah mengubah paradigma dalam mendengarkan dan merekam musik.

Dari berbagai perangkat seperti gramofon Colombia hingga studio rekaman, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam merekam musik sejak abad ke-20, terutama di Batavia dan Surabaya pada masa Hindia Belanda. Peralatan studio rekaman merupakan suatu kunci lahirnya industri musik di Indonesia.

Perkembangan alat perekaman ini menjadi kental seiring berjalannya waktu, budaya, dan kebiasaan masyarakat. Musik bukan hanya sebagai bentuk seni tetapi juga sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan pesan, pendapat, dan suasana hati mengenai berbagai isu sosial. Musik dan seni diibaratkan sebagai dua sisi yang memiliki makna uang yang berarti.

Perekaman musik, khususnya dalam era digital, menjadi sorotan utama. Musisi seperti Pepeng dari Production House “Doa Ibu Selamanya” menceritakan perkembangan musik dari hobi bermain musik dan mengoleksi piringan hitam hingga sukses mengembangkan genre dari pop hingga rock n roll.

Penggunaan alat perekaman analog dalam rilisan lagu pertamanya, “Use Your Braind,” menjadi bukti peralihan ke teknologi perekaman digital.

Meskipun perkembangan perekaman musik membuka pintu luas bagi musisi, Pepeng menyoroti kelemahan sistem perekaman analog.

Dalam wawancara, ia menyampaikan bahwa perekaman analog membutuhkan ruangan yang luas dan alat-alat yang memakan tempat. Terbatasnya jumlah track audio juga menuntut kehati-hatian dan ketelitian dalam produksi.

Dalam penelitian ini, kita menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara, yang digunakan untuk menyelidiki pandangan ahli dan pengalaman musisi dalam dunia perekaman. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas perekaman masa lalu, meskipun tidak sehalus saat ini, memberikan efek mewah.

Namun, perbedaan signifikan terletak pada kemudahan pengoperasian saat ini yang memungkinkan proses perekaman lebih cepat dan efisien, serta mendapatkan efek suara yang lebih mudah dengan teknologi yang lebih canggih.

Perkembangan alat perekaman hingga media penyimpananya seperti vynil, kaset pita, CD, flashdisk hingga menjadi aplikasi streaming musik online seperti Spotify, Joox, Youtube Music, Apple Music telah mengubah cara orang mendengarkan musik.

Sebelum munculnya industri digital, semua perekaman musik dilakukan dengan cara konvensional, macam perekam analog, penyebarannya pun sangat terbatas.

Di Indonesia merekam musik diperkirakan sudah ada sejak awal abad ke-20 pada masa Hindia Belanda di Batavia dan Surabaya. Gramofon Colombia serta peralatan studio rekaman menjadi cikal bakal lahirnya musik di Indonesia.

Alat perekaman mengalami perkembangan dan perubahan dari masa ke masa seiring dengan berjalanya jaman serta kebudayaan dan habit dalam masyarakat, alat perekaman sangat kental dengan musik.

Musik menjadi salah satu alat komunikasi penyampaian pesan serta pendapat yang ingin diutarakan sesuai suasana hati mengenai perasa, isu sosial, dan banyak lagi. Seni dan musik diibaratkan seperti dua sisi uang yang saling berkesinambungan.

Hal ini bisa kita lihat yang terjadi pada masa kini khususnya pada bidang perekaman digital yang juga mengalami perkembangan di kalangan musisi.

Jika kita bedah dalam dunia perekaman masa lalu hingga saat ini sangat jelas adanya pada perkembangannya, contoh sistem rekaman analog berkembang menjadi sistem perekaman digital. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa musik itu mengalami perkembangan.

“Perkembangan perekaman musik di masa lalu cukup rumit serta kompleks, karena saat itu perekaman audio masih memakai mesin perekaman pita analog. Untuk sistem perekaman analog diperlukan kemampuan serta pengalaman khusus untuk menguasainya,” ujar Pepeng (29) saat bercerita mengenai perkembangan perekaman musik di masa lalu.

Doa Ibu Selamanya yang merupakan nama Production House tempat Pepeng mengembangkan seni bermusiknya dan juga berkecimpung di dunia perekaman musiknya. Berawal dari hobinya bermain musik dan mengoleksi piringan hitam, kini ia sudah sukses mengembangkan musik dari pop, pop punk, hingga rock n roll.

Use Your Braind,  merupakan rilisan lagu pertama yang dikembangkan oleh Pepeng menggunakan perekaman analog dan hingga kini ia beralih ke perekaman digital.

Pepeng juga mengatakan dalam sistem perekaman analog juga memiliki beberapa kelemahan, salah satunya membutuhkan ukuran ruangan yang sangat luas, karena sangat banyak alat-alat yang digunakan bisa menghabiskan ruang yang cukup memakan tempat, seperti macam-macam jenis plugins dalam bentuk perangkat keras (hardware) mixer dan tape recorder serta terbatasnya jumlah track audio menjadikan Audio Engineering dengan para musisi bekerja lebih ekstra dan teliti dalam memproduksi audio perekaman tersebut.

Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara, yang di mana seorang peneliti melakukan analisa dengan cara bertanya kepada sang ahli dalam bidang tersebut serta menanyakan pengalaman kepada beberapa musisi yang sudah berkecimpung dalam dunia perekaman dari masa ke masa.

Kualitas perekaman masa lampau lebih memberikan efek yang mewah meskipun tidak sehalus saat ini dalam hasil suaranya, serta cara pengoprasian yang sangat susah hingga ber bulan-bulan perekaman hingga masuk ke dalam penyimpanan seperti vynil dan kaset pita, beda dengan saat ini sistem pengoprasian lebih mudah dan bisa di mana saja serta bisa jadi saat itu juga, dan perbadaanya pada efek-efek suara yang lebih mudah didapatkan dengan hanya satu item atau media saja.

Dengan adanya artikel ini, dibuat untuk tugas Evaluasi Akhir Semester 3, Mata Kuliah Perkembangan Teknologi Komunikasi, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dan Dosen Pengampu Bapak Moh. Dey Prayogo, S.I.Kom., M.I.Kom.

Penulis: Kelompok 8 Musik
1. Syaiful Rahman/ 1152200366
2. Moch. Alief Chaerobbi/ 1152200354
3. Achmad Dany Nur Fajri/ 1152200384
4. Citranata Dewi Sekar/ 1152200381
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI