Siswa Jarang Bertanya dan Tidak Berinisiatif, Salah Dimana?

Karakter generasi muda di Indonesia masih tidak pantas dipanggil cukup. Masih banyak dari kita yang merasa tidak peduli dengan situasi dan kondisi negara sendiri. Padahal karakter seseorang bisa dibilang sebagai hal terpenting karena dapat menunjukkan identitas kita sebagai penerus bangsa. Oleh karena itu, pembangunan karakter yang baik sangat esensial demi menciptakan kehidupan yang sejahtera. Dimana pembentukan karakter yang terpenting terjadi di kehidupan kita? Tentu saja yang paling signifikan terjadi di dalam pendidikan, baik itu di dalam ataupun di luar sekolah.

Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mendukung para pelajar serta pengajar guna menyempurnakan kualitas pendidikan di Indonesia untuk para generasi muda. Kemudian ada pula orang tua, yang terus memberikan dukungan ke anak-anak mereka. Semua dukungan ini dilakukan karena mereka ingin memastikan calon penerus bangsa mendapatkan pendidikan yang layak agar masa depan kita dan negara kita terjamin akan menjadi lebih baik. Namun, dibalik semua dukungan itu, tentu masih ada sejumlah kekurangan yang dapat kita lihat dari para siswa dan siswi di Indonesia. Kekurangan yang tampak tersebut bukan hanya sesuatu yang menyangkut pengetahuan akademis atau keterampilan seorang pelajar.

“Ada yang ingin bertanya?” merupakan sesuatu yang para murid sering dengar ketika kelas sedang berlangsung atau apabila seorang pengajar telah selesai menyampaikan materi. Untuk kita kaum pelajar, pasti sudah tahu apa yang sering datang selanjutnya. Keheningan yang memenuhi ruangan dan para murid serentak menganggukkan kepala seolah kita sudah mengerti semuanya. Ini sering terjadi akibat pola pembelajaran yang tidak menimbulkan rasa semangat serta sifat inisiatif dalam para murid.

Saat ini memang sudah diterapkan peran guru bukan hanya sekedar pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator agar dapat mendorong atau memotivasi muridnya untuk mencari ilmu. Akan tetapi, masih dapat dilihat bahwa para murid tetap kurang inisiatif untuk mencari dan bertanya. Ini dapat berdampak buruk kepada seluruh masyarakat di masa depan, dikarenakan dapat menyebabkan masyarakat yang bersifat acuh terhadap negara, baik itu dalam kondisi ekonomi atau politik.

Kurangnya inisiatif ini terus terjadi bukan karena pengajar, tetapi karena sistem penilaian di sekolah yang sangat tergantung dengan kemampuan seorang murid untuk menjawab. Pada akhirnya banyak pelajar yang berpikir bahwa tujuan pembelajaran hanya satu, yaitu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Ini tentu berpengaruh pada sifat seorang pelajar, masih banyak murid yang usahanya hanya menyontek untuk memperoleh nilai yang bagus. Oleh karena itu, akan lebih baik apabila penilaian di suatu kelas tidak hanya fokus kepada kesanggupan murid untuk menjawab, tetapi juga lebih menghargai dan memberi nilai kepada pelajar yang bertanya. Hal ini pantas diterapkan di masa pendidikan yang paling dini, di saat perkembangan pelajar sangat pesat, sehingga sifat lebih berinisiatif  tersebut dapat tertanam pada setiap pelajar. Penilaian tersebut tidak harus dalam wujud seorang murid yang terus bertanya kepada guru, karena itu tentu tidak mungkin selalu terjadi. Yang bisa disarankan adalah mengadakan kebanyakan kelas yang lebih mendekati proses diskusi antara kelompok.

Lingkungan yang seperti itu dapat mendukung para pelajar supaya mereka lebih terdorong untuk berpartisipasi dan membagikan ide mereka ke satu sama lain. Selain untuk mendorong siswa supaya lebih berinisiatif. Penerapan pola belajar tersebut juga dapat membentuk pelajar yang akan lebih mudah berpikir kritis dan kreatif. Serta mewujudkan karakter yang lebih peduli dan jujur pada pelajar. Sayangnya, itu tidak cukup untuk menciptakan karakter yang ideal atau sesuai ekspektasi dari para pelajar.

Orang tua sudah pasti termasuk juga sebagai salah satu faktor terbesar terbentuknya karakter seseorang pada masa perkembangannya. Di zaman sekarang di mana kompetisi antara calon pekerja sangat ketat, orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anaknya agar mereka dapat kesempatan yang baik di dunia kerja. Tetapi terkadang orang tua terlalu mementingkan hasil akademis seorang anak.

Wajar saja orang tua seperti itu, karena tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya gagal di masa depan. Sedihnya, ini dapat mengarah ke kurang perhatiannya orang tua terhadap perkembangan karakter anak mereka. Ketika orang tua melihat laporan nilai siswa, pedulikah mereka tentang cara anak mereka memperoleh nilai-nilai tersebut? Atau mereka hanya memandang bagus atau buruknya nilai siswa? Dari sinilah orang tua secara tidak langsung mempengaruhi perkembangan karakter suatu pelajar. Bila orang tua hanya menghargai hasil yang didapatkan seorang anak, maka tidak akan timbul pula sifat keinginan dalam diri seorang pelajar. Akibatnya, tidak sedikit jumlah siswa yang berbuat curang, dan perbuatan ini dapat dilakukan oleh pelajar sampai masuk dunia kerja nanti. Orang tua sebagai pembimbing para calon penerus bangsa harus lebih menunjukkan rasa peduli terhadap progres seorang anak, sehingga mereka juga akan ikut merasa peduli. Sebagai penerus bangsa yang akan menjadi orang tua serta guru untuk generasi selanjutnya. Kita harus menciptakan lingkungan dan sistem pembelajaran yang akan mendukung perkembangan karakternya para pelajar agar menjadi lebih berinisiatif dan sering bertanya. Karena karakter seperti itu sangat penting demi mewujudkan negara yang lebih maju.

Zufarian Edrifian
Mahasiswa Sampoerna University

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI