Anggaran Besar untuk Program MBG Kurang Efektif dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Ilustrasi Anggaran Program MBG (Sumber: MMI)

Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan suatu negara karena mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kapasitas ekonomi nasional. Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pemerintah Indonesia meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah.

Untuk melaksanakan program tersebut, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp71 triliun pada tahun 2025 melalui APBN. Program ini diharapkan dapat membantu mengurangi masalah gizi dan stunting serta menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif di masa depan. Namun, besarnya anggaran yang dialokasikan juga memunculkan perdebatan mengenai efektivitasnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sebagian pihak menilai bahwa dana tersebut lebih tepat diarahkan pada sektor-sektor produktif seperti pendidikan, infrastruktur, atau penciptaan lapangan kerja yang dapat memberikan dampak ekonomi lebih langsung (Kompas.com, 2025; Katadata, 2025).

Berdasarkan alokasi APBN 2025, pemerintah menganggarkan Rp71 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Badan Gizi Nasional (BGN).

Meskipun program ini memiliki tujuan sosial yang baik, penggunaan anggaran yang sangat besar tersebut kurang efektif sebagai instrumen utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional karena dampak ekonominya cenderung bersifat tidak langsung, membutuhkan waktu yang panjang untuk terlihat hasilnya, dan berpotensi mengurangi ruang fiskal untuk sektor lain yang memberikan efek pengganda ekonomi lebih besar (Kompas.com, 2025).

Pertama, manfaat ekonomi dari program MBG bersifat jangka panjang sehingga tidak memberikan dorongan pertumbuhan ekonomi yang signifikan dalam waktu dekat. Program ini memang dapat meningkatkan status gizi anak-anak dan mendukung perkembangan sumber daya manusia. Namun, peningkatan produktivitas akibat perbaikan gizi baru akan dirasakan ketika penerima manfaat memasuki usia kerja.

Dengan kata lain, manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak dapat langsung meningkatkan output nasional atau pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun setelah program dijalankan. Sementara itu, kebutuhan pembangunan ekonomi saat ini menuntut kebijakan yang mampu memberikan dampak lebih cepat terhadap investasi, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja (World Bank, 2020).

Baca juga: Apakah MBG Selaras dengan Teori Pembangunan Syariah untuk Mengatasi Kemiskinan?

Kedua, alokasi dana sebesar Rp71 triliun berpotensi menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar apabila dialihkan ke sektor produktif lainnya. Investasi pada pembangunan infrastruktur, pendidikan, pelatihan tenaga kerja, serta dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat menciptakan efek pengganda yang lebih luas terhadap perekonomian.

Infrastruktur yang memadai mampu meningkatkan efisiensi distribusi barang dan jasa, sedangkan peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja dapat memperkuat daya saing nasional.

Selain itu, dukungan terhadap sektor usaha dapat mendorong aktivitas produksi dan membuka lapangan pekerjaan baru yang secara langsung meningkatkan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD, 2021).

Ketiga, pelaksanaan program MBG dalam skala nasional menghadapi berbagai tantangan yang dapat mengurangi efektivitas penggunaan anggaran. Distribusi makanan ke berbagai daerah memerlukan sistem logistik yang kompleks dan biaya operasional yang tinggi.

Risiko ketidaktepatan sasaran, pemborosan anggaran, hingga potensi penyimpangan dalam pelaksanaan juga dapat terjadi apabila pengawasan tidak dilakukan secara optimal. Apabila sebagian anggaran tidak digunakan secara efisien, maka manfaat ekonomi yang dihasilkan akan lebih kecil dibandingkan biaya yang telah dikeluarkan oleh pemerintah (Badan Pemeriksa Keuangan, 2023).

Di sisi lain, pendukung program MBG berpendapat bahwa peningkatan gizi masyarakat merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi. Anak-anak yang memperoleh asupan gizi yang baik memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, berprestasi di sekolah, dan menjadi tenaga kerja yang produktif di masa depan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perbaikan gizi berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas tenaga kerja. Namun, meskipun argumentasi tersebut benar, hubungan antara program MBG dan pertumbuhan ekonomi tetap bersifat tidak langsung.

Oleh karena itu, program ini lebih tepat dipandang sebagai investasi sosial dan pembangunan sumber daya manusia daripada sebagai instrumen utama untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional (UNICEF, 2023).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa anggaran besar untuk program Makan Bergizi Gratis kurang efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara langsung.

Meskipun memberikan manfaat sosial dan kesehatan yang penting, dampak ekonominya baru akan terlihat dalam jangka panjang. Selain itu, penggunaan dana yang sangat besar untuk program ini berpotensi mengurangi kesempatan investasi pada sektor lain yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi lebih cepat dan lebih luas.

Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara investasi sosial melalui program MBG dan investasi produktif lainnya agar tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat serta pertumbuhan ekonomi nasional dapat tercapai secara optimal (Kompas.com, 2025; OECD, 2021).

 


Penulis: Naura Dyananda Yusup (6042401022)
Mahasiswa Akuntansi, Universitas Katolik Parahyangan 


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. (2023). Ikhtisar hasil pemeriksaan semester. BPK RI.

Katadata. (2025). BGN bantah ada tambahan anggaran makan bergizi gratis 2025, tetap Rp71 triliun. Katadata.

Kompas.com. (2025). BGN tegaskan program MBG “full” APBN, dana CSR untuk bangun infrastruktur mitra. Kompas.com.

Organisation for Economic Co-operation and Development. (2021). Economic outlook for Southeast Asia, China and India 2021. OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/711629f8-en

UNICEF. (2023). Nutrition strategy 2020–2030 progress report. UNICEF.

World Bank. (2020). The human capital index 2020 update: Human capital in the time of COVID-19. World Bank. https://doi.org/10.1596/34432

 

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses