Arabian Dream, Arabian Nights: Wajah Benderang Arab dan Bayangan Terkelamnya

Arabian Dream Arabian Nights
NEOM Sumber: Penulis

 Jika membayangkan kata ‘Arab’, apa hal yang akan muncul?

Bagi sebagian orang, mungkin bayangan tentang Islam akan muncul, sebagaimana Arab merupakan tempat kelahiran agama tersebut.

Sebagian mungkin akan membayangkan kondisi alam pada wilayah tersebut, dengan gurun pasir yang tandus, pohon kurma, hingga unta. Bagi penulis, jika membayangkan kata ‘Arab’, maka akan ada tiga wajah yang tergambar: Islam, perang, dan kemewahan.

Bacaan Lainnya
DONASI

Wajah Arab telah banyak berganti dalam setiap zaman. Hingga 14 abad silam, Arab hanyalah sekumpulan masyarakat yang hidup di gurun pasir dan dihimpit oleh dua peradaban besar: Romawi dan Persia.

Kebangkitan Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad pun membawa perubahan pada Arab. Mereka menjelma menjadi peradaban besar yang berlandaskan agama, serta diikuti oleh kekhalifahan besar.

Pada Abad Pertengahan, ketika Eropa tenggelam dalam kegelapan, dunia Islam yang berpusat pada Arab mengalami zaman keemasan dengan berbagai penemuan dan inovasi ilmu pengetahuan di dalamnya. Inilah wajah Arab pada zaman tersebut: era keemasan bagi pengetahuan, agama, dan masyarakat.

Wajah Arab kembali berubah pasca-Perang Dunia 1. Kala itu, Dinasti Ottoman yang memerintah dunia Arab telah runtuh dan menyisakan bangsa Arab yang terpecah belah. Berbagai peristiwa terjadi, mulai dari pendudukan, pemisahan, dan pembentukan banyak kerajaan baru yang memerintah dunia Arab.

Dalam seratus tahun terakhir, memang wajah Arab telah banyak berubah, tetapi masih banyak kondisi yang bertahan hingga saat ini: yaitu peperangan. Inilah wajah Arab terkait dengan perang. Berkobarnya konflik masih terjadi di beberapa negara, seperti Yaman, Palestina, Irak, dan Suriah.

Wajah Arab berupa Islam dan perang merupakan ironi tersendiri. Islam, yang dianut mayoritas masyarakat Arab, merupakan agama yang menghendaki perdamaian. Akan tetapi, inilah kenyataan yang ada, bahwa sebagian bangsa Arab belum mendapatkan kedamaian dalam dirinya.

Dalam beberapa dekade terakhir, kita telah menyaksikan kebangkitan wajah baru bangsa Arab. Ini berkaitan dengan wajah ketiga yang dibayangkan penulis: kemewahan. Di sebagian negara Arab, saat ini, kemewahan telah menjadi citra baru dan gambaran kehidupan seorang ‘Sultan’ dengan mobil-mobil mewah, rumah-rumah yang besar, gedung-gedung pencakar langit, hingga hewan peliharaan unik: singa dan harimau.

Tidak hanya kehidupan mewah bagi sebagian orang, beberapa negara di Arab pun kini memiliki binar-binar kebesaran yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Misalnya, Dubai, salah satu bagian dari Uni Emirat Arab.

Berawal dari desa nelayan kecil di pesisir teluk, Dubai kini menjelma menjadi salah satu kota paling maju—dan mewah—yang ada di dunia. Dubai terkenal dengan gedung Burj Al Khalifa yang dinobatkan sebagai gedung tertinggi di dunia saat ini, serta Palm Jumeirah, yaitu gugusan pulau buatan yang berbentuk pohon palem.

Serupa dengan kemewahan yang ada di Dubai, Arab Saudi, pusat perhatian dari dunia Arab, kini juga memukau dunia dengan inovasi yang sedang mereka kerjakan. Arab Saudi memiliki program yang disebut sebagai Saudi Vision 2030, yaitu sebuah roadmap ambisius untuk mencapai berbagai tujuan pada tahun 2030.

Perhatian besar pada Saudi Vision 2030 terletak pada proyek NEOM, yang terdiri dari THE LINE, Oxagon, Trojena, dan Sindalah. NEOM diluncurkan pada tahun 2017 oleh Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman.

NEOM ditujukan untuk menjadi tempat yang memprioritaskan manusia dan alam, serta menciptakan ruang baru untuk hidup sejahtera dan berkelanjutan.

NEOM menjadi populer dan menarik perhatian banyak orang terutama oleh salah satu proyek mereka, yaitu THE LINE. Proyek ini hendak membangun sebuah kota memanjang dan vertikal, sepanjang 170 kilometer dengan lebar 200 meter.

THE LINE direncanakan sebagai kota yang merancang ulang konsep pengembangan urban dan sebagai wajah masa depan perkotaan. Kota ini juga dirancang tanpa jalan, kendaraan, dan emisi. THE LINE telah menarik perhatian banyak orang dengan desain yang belum pernah dilihat oleh manusia sebelumnya.

Beberapa proyek NEOM yang lain pun tidak dapat terpikirkan sebelumnya: Oxagon, sebuah kota industri mengapung dengan bentuk oktagon; Trojena, sebagai destinasi ski di Semenanjung Arab; serta Sindalah, wisata pulau di Laut Merah.

Semua proyek ambisius ini tentunya beralasan, mengapa Arab Saudi, serta negara Arab lain yang membangun kemewahan, rela menggelontorkan dana besar-besaran demi proyek yang potensi kegagalannya pun tidak kecil? Inilah yang dapat kita kenali, bahwa negara-negara Arab, yang tumbuh kaya raya karena asupan penjualan minyak, hendak mendiversifikasi sumber pendapatan mereka.

Tentu kita sadari, bahwa sumber daya alam tidak selamanya ada dan dapat dijadikan sumber utama. Melalui NEOM, Arab Saudi hendak membangun sumber pendapatan lain mereka: investasi dan pariwisata.

Membangun pariwisata berarti membangun citra dan wajah baru bagi Arab. Jika kemewahan menjadi wajah benderang Arab, maka akan terdapat pula bayangan kelam yang mengikutinya.

Ironi benderangnya kemewahan Arab, cenderung berlawanan dengan Islam yang menghendaki kesederhanaan, serta kondisi beberapa negara di kawasan tersebut yang masih berkecamuk perang. Di saat Arab Saudi membangun proyek futuristik dengan biaya yang besar, di negara tetangganya terdapat penindasan, peperangan, bahkan genosida.

Pembangunan yang dicita-citakan tentu tidak dilarang, tetapi akan sangat baik bila Arab Saudi, beserta negara-negara Arab lain, dapat menyatukan suara dan membantu saudara mereka yang kesusahan. Kebijakan negara tentunya tidak semudah itu, tetapi sebagai manusia dengan hati nurani, apalagi yang bisa kita harapkan?

Arabian Dream, Arabian Nights. Jika Syahrazad dapat menceritakan satu kisah lagi, mungkin inilah yang akan ia ceritakan: tentang mimpi bangsa Arab yang hendak mengubah kehidupan mereka, dari kumpulan pedagang di padang pasir, pusat keagamaan Islam, wilayah kecamuk perang, hingga benderang wajahnya yang dibinari kekayaan.

 

Penulis: Muhammad Zulfan Abdillah
Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

 

Editor: I. Chairunnisa

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI