China-Amerika Serikat: Kawan atau Lawan?

Konstelasi politik dunia internasional dewasa ini semakin menarik untuk diperbincangkan. Bagaimana tidak, dengan semakin beragamnya aktor dalam hubungan internasional menjadikan pola yang berlaku juga menjadi lebih dinamis. Munculnya aktor-aktor baru dalam berbagai sektor, khususnya ekonomi dan politik sehingga membangkitkan kembali nuansa kompetisi bagi bangsa-bangsa besar seperti Amerika Serikat (AS), dan juga Cina atau bangsa-bangsa besar lainnya. Seperti yang kita ketahui bahwasanya AS dan sekutunya merupakan penantang terakhir yang bertahan dari ganasnya Perang Dunia II, dan panasnya Perang Dingin. Tak ayal, hal tersebut membuat AS kemudian menjadi negara adidaya, dan menjadi pusat bagi peradaban dunia modern.

Namun kini situasinya telah berubah, kekuatan-kekuatan penyeimbang bagi dominasi AS tidak pernah benar-benar mati. Dominasi yang ditunjukkan oleh AS perlahan mulai dapat terbantahkan oleh munculnya negara-negara besar seperti Rusia, China, dan juga Iran yang muncul sebagai negara penantang baru yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Hal ini dapat dilihat dari bangkitnya mereka baik di sektor keamanan, ataupun sektor perekonomian. Seperti China misalnya, kebangkitan China di sektor perekonomian perlahan mampu merubah peta pasar dunia yang tadinya dikuasai oleh AS dan juga negara-negara sekutunya. Tentunya kebangkitan ini merupakan ancaman yang tidak main-main bagi mulusnya kuasa AS dan sekutunya untuk mengatur peta perdagangan dunia yang mereka mainkan selama beberapa dekade terakhir.

Dengan kebangkitan China yang semakin tahun semakin meningkat ini, AS merasa China sudah mulai mendominasi kekuasaannya di dunia, terutama pada bidang ekonomi. Banyak kebijakan-kebijakan yang dinilai sangat kontoversial dan memiliki risiko besar dalam pelaksanaannya tapi justru membuahkan hasil baik, bahkan memberikan keuntungan bagi China sendiri. Contohnya, kebijakan China berupa devaluasi Yuan, People’s Bank of China (PBOC) memotong nilai mata uangnya pada tahun 2015 silam. Tidak tanggung-tanggung, Bank Sentral Negeri Panda tersebut melakukan devaluasi mata uangnya hampir menyentuh angka 2% yang dimana rekor sepanjang sejarah ekonomi China. Hal ini sangat memberikan dampak besar terhadap nilai dari mata uang dan juga kegiatan ekspor-impor dunia.

Aktivitas ekspor yang sebelumnya didominasi oleh Uni Eropa dan AS sangat terkena dampak dari kebijakan ekstrim yang diambil oleh China. Pasalnya, penurunan aktifitas ekspor China yang terjadi beberapa tahun terakhir sebelum tahun 2015, telah membuat produk-produk China tidak dapat bersaing di pasaran internasional apabila dibandingkan dengan produk-produk AS dan sekutunya. Sehingga devaluasi Yuan merupakan kebijakan untuk menanggapi penurunan ekspor China terhadap pasar internasional agar dapat mengimbangi aktifitas ekspor yang dimainkan oleh AS dan sekutunya. Setelah kebijakan ini disepakati, banyak sekali perusahaan-perusahaan raksasa dunia diambilalih dan dikuasai oleh China. Di satu sisi perusahaan milik AS justru mengalami penurunan yang cukup signifikan karena disebabkan oleh daya saing pasar produk AS sudah tidak dapat lagi menarik perhatian kebanyakan konsumen dunia. Produk China dinilai memiliki harga yang lebih terjangkau dibandingkan dengan produk AS dan sekutunya, ditambah dengan jenis produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda bahkan menyamai produk-produk AS yang harganya lebih mahal.

Selain devaluasi yuan yang efeknya sangat mempengaruhi kekuasaan China di dunia, beberapa negara super power dunia juga cukup dikagetkan dengan kebijakan China berupa penyediaan visa khusus bagi keturunan etnis China di seluruh dunia untuk menetap atau berkunjung ke China. Visa tersebut sangat memungkinkan mereka tinggal selama lima tahun, atau melakukan kunjungan ke daratan China berkali-kali dalam satu kurun waktu. Kebijakan ini adalah cara China untuk menarik kembali keturunan-keturunan etnis China yang termasuk kedalam kategori Foreign High-end Talent (Talenta Top Asing). Adapun yang digolongkan kedalam kategori Talenta Top Asing adalah seperti para pengusaha perusahaan raksasa dunia, pemain dan pelatih asing di klub-klub olah raga China, para mahasiswa post-doktoral dari universitas top dunia, serta warga asing yang memiliki pendapatan enam kali lipat dari pendapatan rata-rata warga China. Tentunya hal ini akan meningkatkan jumlah warga asing berkeahlian khusus untuk tinggal dan bekerja di China.

Kebijakan terhadap diaspora China ini pastinya dapat memiliki dampak terhadap kemajuan ekonomi negeri asal mereka. Dengan adanya kebijakan ini, China akan semakin berkembang dari segi politik, ekonomi, dan sosial. Pasalnya China memberanikan diri untuk memberikan keringanan yang cukup menggiurkan bagi seluruh warga diasporanya untuk kembali memberikan kontribusi terhadap perkembangan China. Hal ini akan membuat AS semakin tertekan dengan adanya kebijakan tersebut, sebab seluruh pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh tiap warga diaspora tentunya akan menjadi sumber informasi serta motor penggerak perkembangan China.

Tidak hanya dua kebijakan diatas, One Belt One Road (OBOR) juga menjadi salah satu kebijakan yang diinisiasi oleh China untuk menciptakan situasi ekonomi dimana China sebagai negara penguasa ekonomi dunia. Bagaiamana tidak, China telah menggencarkan investasi besar-besaran secara meluas untuk mendukung pembangunan infrastruktur ke 55 negara seluruh dunia, termasuk Indonesia. Beberapa pakar politik dan ekonomi dunia beranggapan tindakan ini sangat berisiko bagi masa depan China, tetapi hal itu lagi-lagi dipatahkan dengan adanya respon baik dari negara yang mendapatkan keuntungan bagi kemajuan ekonomi mereka di masa mendatang. Dan bagi China sendiri, respon baik serta dukungan dari berbagai negara tentunya akan memberikan keuntungan besar untuk China, yaitu berupa dukungan politik dan ekonomi yang kemudian menjadikan China sebagai negara yang disegani di dunia.

Dominasi China yang menggurita di sektor ekonomi dunia tentu dapat menjadi ancaman baru bagi AS, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh AS sebagai bentuk pembendungan pengaruh China yang semakin kuat. Kebijakan tersebut berupa perubahan arah politik AS yang sebelumnya memiliki fokus terhadap keamanan dan ideologisasi negara menjadi perdagangan dan investasi ke negara berkembang maupun maju. Selain itu adanya slogan ‘America First’ oleh AS sebagai bentuk penguatan identitasnya sebagai negara super power yang masih memiliki pengaruh dan kekuasaan terhadap dunia internasional.

Pada kenyataannya, setiap negara akan terus berupaya untuk menunjukkan identitasnya sebagai negara super power. Hal inilah yang terjadi pada AS dan China saat ini. Setiap kebijakan yang dibuat akan selalu menjadi kekuatan bagi perkembangan negara tersebut. China yang saat ini ingin mendapatkan dominasi dari dunia internasional menerapkan beberapa kebijakan guna mencapai tujuannya. Bagi AS, kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh China merupakan sebuah ancaman untuk berlomba-lomba menjadi negara adikuasa.

Andi Muhammad Arief Malleleang
Mahasiswa S-1 jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta;
Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Yogyakarta Komisariat FISIPOL UMY.

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI