Dampak dan Manfaat Hujan Asam

Hujan Asam
Ilustrasi: istockphoto

Hujan asam pernah melanda Indonesia khususnya wilayah Kalimantan, Sumatera, Jakarta, dan Bandung pada tahun 2000. Hujan asam sendiri dapat diartikan sebagai hujan yang mempunyai kadar keasaman dengan pH di bawah 5,6. Hujan asam memiliki kadar air yang lebih asam lagi dibandingkan dengan air hujan biasa.

Hujan asam adalah curah hujan yang memiliki tingkat keasaman yang lebih tinggi dari normal akibat campuran gas-gas seperti sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dari polusi udara. Hal ini dapat memiliki dampak negatif pada lingkungan, termasuk tanaman, air, dan tanah.

Hujan asam yang terjadi di Indonesia bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor alam maupun faktor manusia. Faktor alam yang menyebabkan hujan asam ada dua yaitu, pertama adalah letusan gunung berapi yang dapat melepaskan gas-gas seperti sulfur dioksida (SO2) ke atmosfer.

Kedua adalah aktivitas geologis, seperti erosi tanah atau aktivitas vulkanik, yang sangat mempengaruhi kualitas udara dan tanah. Selanjutnya adalah disebabkan oleh aktivitas atau kegiatan manusia yaitu pada kegiatan industri, pembangkit listrik, dari kendaraan bermotor, hingga amonia yang dihasilkan dari aktivitas pertanian.

Kombinasi dari kedua faktor ini dapat meningkatkan kadar asam dalam atmosfer dan menyebabkan hujan asam ketika uap air bereaksi dengan gas-gas tersebut dan turun ke bumi dalam bentuk hujan, salju, atau embun.

Dampak hujan asam bagi manusia sendiri adalah dapat menimbulkan sumber penyakit bagi manusia yaitu penyakit pada jantung, kanker, paru-paru, ISPA atau masalah pada saluran pernapasan.

Berkaca pada realita yang terjadi saat ini, hujan asam paling umum disebabkan oleh emisi-emisi atau sisa hasil kerja mesin kendaraan roda dua maupun roda empat. Kendaraan tersebut paling banyak mengeluarkan asap atau buangan sisa mesin yang paling banyak menyebabkan polusi udara sehingga dapat menyebabkan hujan asam yang mempunyai kadar keasaman tinggi.

Hujan asam dapat memiliki dampak yang signifikan pada ekosistem air, baik permukaan maupun akuatik. Beberapa dampaknya melibatkan: Kualitas Air; Hujan asam dapat meningkatkan keasaman air di danau, sungai, dan waduk, mengakibatkan perubahan signifikan pada kualitas air, serta kandungan asam dapat merusak organisme air dan mengganggu keseimbangan ekosistem akuatik.

Selanjutnya sangat berpengaruh terhadap keseimbangan biologis, di mana organisme akuatik, terutama ikan dan makhluk air lainnya, dapat menjadi rentan terhadap perubahan pH yang disebabkan oleh hujan asam. Ini dapat mengganggu pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi mereka.

Selanjutnya, hujan asam juga berpengaruh bagi tumbuhan. Tumbuhan terancam mati akibat pengikisan jaringan epidermis, sulfur dioksida, dan nitrogen dioksida yang mempunyai kadar asam yang sangat tinggi.

Selain dampak negatif bagi tumbuhan, hujan asam juga memberikan dampak positif atau keuntungan bagi tumbuhan yaitu mempunyai manfaat untuk membantu melarutkan mineral dalam tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan.

Untuk mengurangi hujam asam dengan pH yang tinggi, maka solusi yang saya tawarkan adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dengan beralih kepada kendaraan umum guna mengurangi gas emisi hasil kerja mesin kendaraan roda dua maupun roda empat.

Maka pengurangan penggunaan kendaraan dapat mengurangi polusi udara sehingga tingkat keasaman hujan yang berlangsung dapat berkurang.

Hujan asam selain memberikan dampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup, juga memberikan dampak yang positif terhadap keberlangsungan makhluk hidup yaitu dapat melarutkan mineral dalam tanah, serta dapat memberikan kesadaran bagi manusia akan dampak negatif yang timbul sehingga dapat mendorong manusia untuk mengurangi polusi terhadap udara.

Solusi alteratif yang dapat diambil untuk mengurangi hujan asam berlebih adalah dengan mengurangi emisi gas pencemar yaitu menggunakan teknologi yang bersih dan rama terhadap lingkungan, menggunakan pembangkit listrik tenaga surya, tenaga angin dan tenaga air untuk mengurangi penggunaan bahan bakar bakar fosil, menggunakan transportasi umum, mengelola limbah industri dengan baik sebelum dibuang ke alam, serta melakukan reboisasi dan pelestarian hutan agar asap-asap kendaraan dan asap pabrik dapat diserap oleh tumbuh-tumbuhan.

Penulis:

Christopher Alexander Natalino Rumondor
Mahasiswa Teknik Lingkungan Akademi Teknik Tirta Wiyata Indonesia

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI