Layanan paylater saat ini menjadi tren yang sangat populer di kalangan Gen Z di Indonesia, memberikan mereka akses kredit yang mudah dan cepat. Dengan kemudahan ini, Gen Z dapat berbelanja tanpa harus membayar di muka, cukup menggunakan layanan paylater yang dapat menunda pembayaran hingga beberapa bulan ke depan.
Meskipun inovasi ini membantu daya beli generasi muda, dampaknya terhadap kemandirian ekonomi Gen Z perlu dipertimbangkan dan diperhatikan secara serius.
Salah satu dampak paling mencolok adalah meningkatnya perilaku konsumtif dan pembelian impulsif di kalangan Gen Z. Berdasarkan survey dari Tirto.id, lebih dari 75% responden merasa terdorong membeli barang mahal karena kemudahan yang ditawarkan paylater.
Kemudahan ini memicu dorongan untuk membeli tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang nantinya . Di sinilah masalah-masalah dengan penggunaan paylater, banyak dari Gen Z terbiasa memenuhi keinginan tanpa memperhatikan kemampuan finansial mereka, yang pada akhirnya bisa memicu masalah utang.
Minimnya literasi keuangan juga berkontribusi terhadap risiko yang timbul dari penggunaan paylater. Banyak pengguna Gen Z yang belum memahami dasar-dasar manajemen keuangan yang baik, termasuk perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, pengelolaan anggaran, serta risiko bunga dan denda yang dapat dikenakan jika terjadi keterlambatan pembayaran.
Kurangnya edukasi ini membuat Gen Z rentan terhadap jebakan utang yang bisa sulit mereka atasi di masa depan. Menurut penelitian, literasi keuangan di kalangan Gen Z tidak signifikan dalam mengurangi perilaku belanja impulsif, yang menunjukkan bahwa mereka butuh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengelolaan keuangan yang sehat.
Selain itu, risiko gagal bayar di kalangan pengguna paylater Gen Z cukup tinggi. Menurut data, persentase gagal bayar terbesar berasal dari generasi ini, yang mencerminkan kurangnya kesiapan finansial dalam menghadapi beban kredit.
Baca Juga: Shopee Paylater Bikin Kecanduan; untuk Kebutuhan atau Keinginan?
Jika tidak diatasi, masalah ini dapat menimbulkan dampak buruk tidak hanya bagi individu tetapi juga bagi ekonomi secara keseluruhan. Meningkatnya kredit macet dapat mengurangi kepercayaan terhadap layanan keuangan berbasis teknologi, dan bahkan memperlambat perkembangan ekonomi digital di Indonesia.
Di sisi lain, layanan paylater sebenarnya memiliki potensi positif jika digunakan secara bijak. Bagi Gen Z yang sadar finansial, paylater dapat menjadi alat untuk mempermudah akses barang atau layanan yang dibutuhkan, terutama di masa mendesak.
Selain itu, layanan ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi karena meningkatkan daya beli masyarakat, yang tentunya dapat berkontribusi pada perekonomian. Namun, untuk memaksimalkan manfaatnya, pemahaman akan batasan finansial sangat diperlukan agar generasi muda tidak terjebak dalam lingkaran utang.
Oleh karena itu, peran berbagai pihak sangat diperlukan untuk mengatasi dampak negatif penggunaan paylater ini. Pemerintah, penyedia layanan, serta lembaga pendidikan perlu berkolaborasi untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan Gen Z.
Regulasi yang lebih ketat mengenai batasan kredit dan suku bunga juga dapat membantu mengurangi risiko gagal bayar. Selain itu, keluarga dapat menjadi pendukung utama dalam memberikan pendidikan finansial yang baik sejak dini, agar Gen Z lebih bijak dalam memanfaatkan layanan kredit.
Kesimpulannya, layanan paylater dapat menjadi pedang bermata dua bagi Gen Z. Jika digunakan dengan bijaksana dan disertai pemahaman finansial yang baik, serta layanan ini bisa membantu mereka mengakses kebutuhan dengan lebih mudah dan mendukung daya beli.
Baca Juga: Teknologi AI dalam Aplikasi Shopee
Namun, tanpa pengelolaan yang matang dan literasi yang memadai, paylater berpotensi menjadi jerat finansial yang mengancam kemandirian ekonomi Gen Z di masa kini dan juga masa depan.
Penulis: Muhammad Faiz Ubaidillah (30422039)
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












