Akhir-akhir ini, siapa sih yang tidak tergiur belanja pakaian bekas? Mencari pakaian branded dengan harga miring jauh di bawah harga aslinya? Thrifting atau yang lebih dikenal dengan sebutan lokal “Cabo” (kependekan dari Cakar Bongkar) sudah jadi kegemaran banyak orang, bukan cuma Gen Z.
Banyak yang menganggapnya sebagai mode ramah lingkungan karena memanfaatkan pakaian bekas. Tapi kalau jujur dan melihat lebih dalam, apakah tumpukan baju bekas ini benar-benar menyelamatkan bumi? Atau justru sebaliknya?
Tren yang Keliru di Mata Publik
Secara teori, thrifting memang membantu memperpanjang usia pakai pakaian. Namun kenyataannya, sebagian besar baju bekas yang masuk ke Indonesia, terutama lewat jalur ilegal, bukanlah barang vintage pilihan, melainkan limbah tekstil dari negara maju yang dibuang dalam jumlah besar. Ini bukan sekadar masalah lingkungan, tapi sudah menjadi krisis polusi.
Sebagai mahasiswa, saya melihat dua dampak besar di sini: kita ingin tampil kece dan peduli lingkungan, tapi di sisi lain tanpa sadar kita ikut mendukung perdagangan ilegal limbah berbahaya antarnegara.
Kenyataan di Gerbang Timur: Masalah Jayapura
Di kota kita, Jayapura, fenomena Cabo bukan cuma tren musiman ia sudah jadi roda ekonomi. Tidak hanya di pasar tradisional, tapi juga menjadi lahan bisnis anak muda Jayapura. Namun kita perlu bertanya: ke mana sisa-sisa kain yang tidak laku?
Sebagai kota pesisir yang dikelilingi pegunungan, Jayapura punya ekosistem yang sangat rentan. Kita harus waspada terhadap limbah tekstil yang tidak terjual, apalagi bahan sintetis seperti poliester yang mengandung mikroplastik dan sulit terurai.
Ini mengancam hutan bakau dan terumbu karang di Papua. Limbah ini juga menambah beban tempat pembuangan akhir (TPA). Dengan kapasitas TPA Jayapura yang sudah penuh, tumpukan limbah tekstil hanya akan memperparah dan mempercepat kebanjiran sampah.
Kedaulatan Lingkungan dan Hubungan Internasional
Bayangkan kalau ekosistem kita yang masih asri dan lestari malah jadi tempat pembuangan limbah dari negara kaya. Ini bukan lagi urusan fashion, tapi sudah menyangkut kedaulatan lingkungan. Dalam kajian Hubungan Internasional, fenomena ini menunjukkan ketimpangan: negara maju memproduksi pakaian secara berlebihan, lalu mengirim “sisa” nya ke negara berkembang seperti kita dengan dalih pakaian layak pakai.
Kalau kita terus membiarkan tren thrifting atau Cabo ini tanpa kontrol, kita ikut melegitimasi posisi Indonesia sebagai tempat sampah global. Padahal inti dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) adalah konsumsi yang bertanggung jawab. Membeli baju bekas kualitas rendah justru mempercepat siklus sampah, bukan menguranginya.
Jadi Konsumen Cerdas
Sudah saatnya kita lebih kritis. Thrifting atau Cabo tidak salah. Yang salah adalah ketidaktahuan kita bahwa tren ini bisa merusak ekosistem. Jangan sampai keinginan tampil gaya mengorbankan masa depan rumah kita sendiri, yaitu bumi. Mari, mulai jadi konsumen yang lebih pintar dan benar-benar peduli pada ekosistem kita.
Penulis: Gracel Rosari Yapsenang (2024031054010)
Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih
Dosen Pengampu: Melpayanty Sinaga
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













