Di Tengah Krisis Moral Generasi Muda dan Era Artificial Intelligence, Seorang Kader Muhammadiyah Menawarkan Strategi Membangun Generasi Adaptif, Kritis, dan Berakhlak

Krisis Moral Generasi Muda
Hasil Wawancara dengan Ade Sopian, M.Pd, Wakil Ketua PCM Pamijahan (Sumber: Penulis)

Di tengah maraknya kasus perundungan di sekolah, kenakalan remaja, penyalahgunaan media sosial, hingga menurunnya budaya santun di ruang publik, banyak pihak bertanya-tanya: apakah Indonesia sedang mengalami krisis karakter?

Pertanyaan tersebut bukan sekadar kekhawatiran sesaat. Berbagai peristiwa yang muncul dalam pemberitaan nasional menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan kemajuan moral. Anak-anak muda Indonesia kini hidup dalam era yang memberikan akses informasi tanpa batas, tetapi pada saat yang sama menghadapkan mereka pada tantangan identitas, nilai, dan arah hidup yang semakin kompleks.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Di sebuah wilayah kaki Gunung Salak, Pamijahan, Kabupaten Bogor, seorang kader Muhammadiyah memandang persoalan ini dengan cara yang sederhana, tetapi mendalam. Bagi Ade Sopian, Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pamijahan, solusi atas berbagai persoalan bangsa tidak hanya terletak pada kebijakan pemerintah atau kecanggihan teknologi, melainkan pada pendidikan dan pembentukan karakter manusia.

Pandangan tersebut lahir bukan dari ruang seminar atau diskusi akademik semata, melainkan dari pengalaman panjangnya dalam dunia pendidikan dan organisasi kemasyarakatan.

Saya yakin jika anak-anak sudah dibekali ilmu agama yang cukup, maka di mana pun mereka berada akan baik-baik saja,” ungkapnya dalam wawancara.

Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana. Namun di tengah situasi ketika pendidikan sering kali diukur hanya berdasarkan nilai akademik dan capaian kompetensi teknis, gagasan tersebut menghadirkan perspektif yang berbeda: bangsa ini sesungguhnya sedang membutuhkan lebih banyak manusia yang berkarakter daripada sekadar manusia yang pintar.

 

Ketika Pendidikan Kehilangan Ruh

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi paradoks pendidikan. Akses pendidikan semakin luas, teknologi pembelajaran semakin maju, dan jumlah lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Namun berbagai persoalan sosial yang melibatkan generasi muda justru tetap terjadi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk karakter peserta didik. Sekolah sering kali berhasil mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi belum tentu mampu membangun ketahanan moral yang kuat.

Ade Sopian melihat persoalan tersebut dari sudut yang menarik. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berfungsi sebagai sarana memperoleh pekerjaan atau meningkatkan status sosial. Pendidikan harus menjadi alat untuk membentuk manusia yang memiliki integritas, kepedulian sosial, dan kesadaran spiritual.

Pandangan ini sejalan dengan filosofi pendidikan Muhammadiyah yang sejak awal berdiri berupaya mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu sistem pembelajaran.

Ketika banyak lembaga pendidikan pada masa kolonial memisahkan keduanya, Muhammadiyah justru hadir menawarkan model pendidikan yang menyatukan kecerdasan intelektual dengan pembentukan akhlak.

Lebih dari satu abad kemudian, gagasan tersebut justru semakin relevan.

 

Generasi yang Terhubung, tetapi Kesepian

Salah satu isu nasional yang kini banyak dibahas adalah kesehatan mental generasi muda. Ironisnya, di tengah dunia yang semakin terkoneksi melalui internet dan media sosial, banyak anak muda justru merasa kehilangan arah, kesepian, dan mengalami krisis identitas.

Mereka memiliki ribuan teman di dunia maya, tetapi sering kali kesulitan menemukan figur teladan di dunia nyata.

Dalam konteks inilah Muhammadiyah mencoba menghadirkan pendekatan yang berbeda. Organisasi ini tidak hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi juga membangun ruang-ruang kaderisasi melalui berbagai organisasi otonom yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan pemuda.

Bagi Ade Sopian, proses kaderisasi bukan sekadar mempertahankan keberlangsungan organisasi. Kaderisasi adalah cara membangun generasi yang memiliki cita-cita, keberanian berpikir kritis, serta kepedulian terhadap masyarakat.

Pesan yang ia sampaikan kepada generasi muda sangat sederhana namun penuh makna.

Hidup itu harus punya cita-cita. Jika tidak, maka kita akan seperti buih yang hanya mengikuti ke mana air mengalir.”

Kalimat tersebut menggambarkan kegelisahan yang sedang dihadapi bangsa ini. Banyak anak muda yang memiliki kemampuan luar biasa, tetapi tidak memiliki arah yang jelas. Akibatnya, mereka mudah terpengaruh oleh tren sesaat, informasi yang menyesatkan, bahkan budaya konsumtif yang semakin dominan.

 

Menjadi Modern Tanpa Kehilangan Jati Diri

Di tengah derasnya arus globalisasi, banyak organisasi keagamaan menghadapi dilema antara mempertahankan tradisi atau mengikuti perubahan zaman.

Menariknya, Muhammadiyah memilih jalan yang relatif berbeda. Organisasi ini tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits sebagai landasan utama, tetapi pada saat yang sama membuka ruang ijtihad untuk menjawab persoalan-persoalan baru yang tidak ditemukan pada masa lalu.

Bagi Ade Sopian, Islam tidak pernah bertentangan dengan kemajuan. Justru sebaliknya, Islam harus mampu menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya inovasi, ilmu pengetahuan, dan peradaban yang lebih baik.

Pandangan ini menjadi penting ketika Indonesia sedang memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), transformasi digital, dan persaingan global yang semakin ketat.

Di tengah perubahan tersebut, tantangan terbesar bukan lagi sekadar bagaimana menciptakan teknologi, melainkan bagaimana memastikan teknologi digunakan untuk kemaslahatan manusia.

Di sinilah nilai-nilai keagamaan dan pendidikan karakter memiliki peran yang sangat strategis.

 

Merawat Harapan dari Pinggiran

Sebagai aktivis Muhammadiyah yang berkecimpung di tingkat cabang dan daerah, Ade Sopian memahami bahwa tantangan pendidikan di Indonesia tidak selalu sama.

Masih terdapat kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan wilayah lain. Ada sekolah yang kelebihan peminat, tetapi ada pula yang masih berjuang mempertahankan keberadaannya. Meski demikian, ia tetap optimistis. Menurutnya, pendidikan yang berkualitas harus dapat dirasakan oleh seluruh anak bangsa tanpa memandang lokasi geografis maupun latar belakang ekonomi.

Baca juga: Muhammadiyah dan Tantangan Pendidikan di Era Virtual

Harapan tersebut bukan hanya harapan seorang kader organisasi, melainkan harapan jutaan masyarakat Indonesia yang masih memandang pendidikan sebagai jalan utama untuk memperbaiki kehidupan.

Di tengah berbagai keterbatasan, Muhammadiyah terus berupaya memperluas akses pendidikan melalui sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi yang tersebar di berbagai daerah.

Bagi banyak keluarga, lembaga pendidikan Muhammadiyah bukan sekadar tempat belajar. Ia menjadi ruang tumbuh, ruang harapan, dan ruang pembentukan masa depan.

 

Pendidikan sebagai Jalan Menyelamatkan Bangsa

Dari keseluruhan wawancara, ada satu benang merah yang sangat kuat: keyakinan bahwa pendidikan tetap menjadi instrumen paling efektif untuk membangun peradaban.

Ketika bangsa ini menghadapi tantangan polarisasi sosial, degradasi moral, dan ketidakpastian global, pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai kemanusiaan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Kisah Ade Sopian menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan atau panggung nasional. Kadang-kadang, perubahan justru lahir dari ruang kelas sederhana, dari seorang guru yang memberi teladan, atau dari seorang kader yang terus menanamkan optimisme kepada generasi muda.

Di tengah berbagai berita tentang krisis moral dan pesimisme masa depan, suara-suara seperti inilah yang mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki harapan.

Dan harapan itu, seperti yang diyakini Muhammadiyah sejak lebih dari satu abad lalu, bernama pendidikan. Kekuatan utama Muhammadiyah terletak pada kemampuannya menghubungkan nilai-nilai Islam dengan kebutuhan masyarakat modern. Melalui pendidikan, kaderisasi, dan pelayanan sosial, Muhammadiyah berupaya membangun generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak dan memiliki kepedulian sosial.

Pembaharuan yang dapat ditangkap dari gerakan Muhammadiyah saat ini adalah transformasi dari organisasi dakwah menjadi ekosistem pembangunan peradaban yang adaptif terhadap era digital. Dalam menghadapi tantangan global, Muhammadiyah menawarkan model pendidikan dan gerakan sosial yang mengintegrasikan keimanan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemanusiaan.

Dengan demikian, relevansi Muhammadiyah pada masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya menjaga tradisi keislaman, tetapi juga oleh keberhasilannya melahirkan generasi berkemajuan yang mampu menjadi pelopor perubahan di tengah dunia yang terus bergerak dinamis.

 


Penulis: Kholis Lismawati
Mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Bogor


Dosen Pengampu: Dr.H Saiful Falah, M.Pd.I


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses