Juni 2026, Rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah, menembus hingga Rp 18.234 per dolar AS. Di ruang-ruang diskusi ekonomi, para analis sibuk menuding kebijakan moneter Amerika, perang tarif dan sentimen pasar global.
Produktivitas: Kunci Utama Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar sebuah mata uang pada dasarnya, adalah cerminan kepercayaan pasar terhadap kapasitas produktif sebuah negara. Formulanya sederhana: ekspor yang kuat, inovasi tinggi, produktivitas meningkat dan nilai rupiah pun akan semakin menguat. Sebaliknya, saat mesin produktivitas itu mulai rapuh, tekanan terhadap nilai tukar tidak bisa dihindari.
Brain drain adalah kebocoran mesin itu. Ketika para lulusan terbaik negeri memilih bergabung dengan perusahaan teknologi di Silicon Valley, peneliti muda memilih melanjutkan karier di Universitas Belanda, dokter spesialis memilih berpraktik di Australia, Indonesia akan kehilangan kapasitas untuk naik kelas dalam rantai nilai global. Dan rantai nilai global itu pada akhirnya menentukan seberapa kuat mata uang kita dihargai.
Angka yang Tidak Bisa diabaikan
The Global Economy 2024 menempatkan Indonesia di peringkat ke-88 dari 175 negara dalam indeks “Human flights and brain drain”. Tren #KaburAjaDulu yang meledak di awal 2025 bukan sekedar fenomena media sosial yang lebih dari 50% penggunanya berusia 19-30 tahun, generasi yang dalam 10-15 tahun ke depan seharusnya menjadi tulang punggung produktivitas nasional.
Sementara itu, rupiah yang pada 2022 masih nyaman di kisaran 15.000 kini terus tertekan. Korelasi ini bukan kausalitas tunggal, tetapi juga bukanlah sebuah kebetulan.
Baca juga: Dilema Brain Drain
Subsidi Terbalik yang Tidak Pernah Dihitung
Ada ironi besar yang jarang dibicarakan. Setiap rupiah anggaran pendidikan yang digelontorkan negara, subsidi universitas negeri, beasiswa, dan fasilitas riset adalah investasi yang idealnya kembali dalam bentuk produktivitas ekonomi nasional.
Tapi ketika lulusan terbaik universitas itu berkarier permanen di luar negeri, investasi itu tidak akan kembal. Ia mengali ke Singapura, Jerman, Australia, negara-negara yang justru merancang kebijakan imigrasi untuk menarik talenta-talenta dari negara berkembang dengan visa khusus dan insentif yang tidak akan didapatkan di negara ini.
Para ekonom menyebutnya “Subsidi Terbalik”. Negara miskin menangguung biaya pembentukan modal manusia, negara kaya yang memetik hasilnya. Ini bukan kebetulan. Ini hasil dari arsitektur global yang disengaja.
Akar Masalah yang Terus Kita Hindari
Tingkat pengangguran muda Indonesia mencapai 14, 39% (World Bank, 2025). Paradoks di negara yang katanya kekurangan tenaga ahli. Artinya bukan tidak ada orang pintar, sistem yang gagal dalam mengakomodasi mereka.
Birokrasi pencairan dana riset mengular berbulan-bulan. Karier yang ditentukan kedekatan, bukan kompetensi. Gaji yang tidak kompetitif di sektor strategis. Regulasi yang tidak ramah inovasi.
Semua ini bukan keluhan generasi yang manja, ini adalah diagnosis sistem yang secara aktif mendorong kepergian. Dan setiap kepergian itu, dalam skala yang cukup besar, adalah tekanan tambahan pada produktivitas nasional, dan pada kahirnya nilai rupiah yang semakin terdampak.
Kita Butuh Solusi
Stabilisasi nilai rupiah lewat intervensi Bank Indonesia adalah plester, bukan obat. Obat sesungguhnya adalah membangun ekosistem yang membuat talenta terbak Indonedia memilih untuk tetap tinggal dan berkarya di dalam negeri, bukan karena terpaksa, ttapi karena ini adalah pilihan yang masuk akal.
Itu berarti anggaran riset yang serius, meritokrasi yang nyata, kompensasi kompetitif, dan regulasi yang adaptif. Bukan program diaspora seremonial yang mengundang orang sukses di luar negeri untuk memberikan pidato inspiratif, lalu kembali ke negara tempat mereka berkarier.
Selama kita merawat dua krisis ini sebagai masalah yang tidak berhubungan, kita tidak akan pernah menemukan solusi yang tepat untuk keduanya.
Penulis adalah mahasiswa yang mendalami isu mobilitas tenaga kerja dalam perspektif ekonomi politik global.
Penulis: Sari Lustina Simanullang
Mahasiswa Hubungan Internasional, UPN Veteran Jawa Timur
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












