Internalized Misogyny: Apa Kamu Juga Menanggung Kepercayaan Yang Sama?

Internalized Misogyny

Apa itu Internalized Misogyny?

Jika Anda menganggap diri Anda sebagai seorang wanita, mungkin berpikir tidak mungkin menjadi seksis. Sebuah kesalahpahaman umum. Saya sendiri juga berpikir begitu. Tetapi setelah mendengar ungkapan Internalized misogyny di seluruh media, mudah rasanya untuk percaya bahwa wanita tidak berperan dalam seksisme masyarakat. Tapi pernahkah Anda merasa dihakimi oleh gadis lain karena sikap Anda “terlalu perempuan” atau sesuai dengan stereotip gadis di luar sana?. Mungkin Anda pernah mendengar wanita menghina wanita lain karena hal-hal sepele, seperti soal pakaian atau make-up?  atau bahkan pernahkah Anda melakukan hal itu terhadap wanita lain? Jika iya, maka Anda sudah menanggung suatu kepercayaan yang disebut dengan Internalized misogyny

Internalized misogyny adalah perilaku yang diproyeksikan oleh wanita secara eksis melalui ide-ide atau pemikiran yang secara tidak sadar ditujukan terhadap diri mereka sendiri dan wanita lain. Hal Ini terwujud dalam pernyataan yang mengklaim “I’m  not like other girls” atau dalam bahasa Indonesianya  “Saya tidak seperti perempuan lainnya. Secara kasarnya mungkin ada yang beranggapan bahwa perilaku seperti ini dilakukan karena kebutuhan untuk memenuhi pandangan laki-laki. Namun, Internalized misogyny pada dasarnya adalah cara yang mewah atau inferior untuk mengatakan bahwa wanita juga bisa menjadi seksis terhadap wanita lain. Jika Anda belum tahu, misoginis adalah istilah yang dideskripsikan sebagai “kebencian terhadap wanita”.

Baca Juga: What You Need To Know : Battered Woman Syndrome

Bacaan Lainnya
DONASI

Sejak usia muda, banyak dari kita telah diajarkan untuk berperilaku dan bertindak sesuai stereotip gender, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk belajar meninggalkan semua kebiasaan itu. Jadi, sayangnya Internalized misogyny jauh lebih umum dari yang kita pikirkan. Terlebih lagi, ini bukanlah sesuatu yang kita rencanakan. Kita mungkin tidak menyadari apa yang ada dibalik kata-kata kita. Terutama saat kita mengatakan hal-hal seperti “Gue lebih suka temenan sama cowo, ga kayak cewe banyak drama”. Atau bahkan, “gue sih sukanya warna hitam, kalo warna merah muda tuh cewe banget” dan hal-hal semacamnya. 

Bentuk lain dari Internalized Misogyny

Mungkin sulit untuk mengidentifikasi Internalized misogyny. Apapun yang kita pikirkan, kita memiliki banyak gagasan yang terbentuk tentang bagaimana seorang wanita harusnya bersikap dan membawa dirinya. Semua itu dilakukan untuk memenuhi harapan masyarakat dan norma gender. Penting untuk menyadari hal ini, dan mempertimbangkan pikiran dan gagasan kita. Tidak hanya tentang wanita lain, tetapi juga tentang diri sendiri. Kita sering kali melihat wanita direndahkan secara halus dalam kehidupan sehari-hari, terutama di jejaring sosial.

Ini menjadi preseden yang tidak sehat dan semakin sulit untuk melihat diri kita sendiri menghancurkan satu sama lain. Bahkan, wanita yang bersosialisasi dibentuk untuk percaya jika kita mematuhi aturan patriarki, lingkungan akan lebih ramah dan kita akan diperhatikan. Bertahun-tahun tumbuh di ruang seksis yang terkadang terang-terangan telah mengurangi kegembiraan menjadi seorang wanita. Namun, seiring bertambahnya usia, saya mencoba untuk mendapatkan kembali keindahan menjadi seorang wanita. Pada akhirnya, kita sebagai wanita tidak seharusnya bersaing. Kita harusnya berkolaborasi, mengabaikan keragaman dan kompleksitas dalam keberadaan independen dan benar-benar mengakui hak istimewa untuk hidup berdampingan dengan setiap gadis lain. 

Baca Juga: The Women Who Become Expressive Feminists and Fangirls

Secara pribadi, saya mendapati diri saya memproyeksikan Internalized misogyny lebih sering terhadap diri sendiri daripada saya ke wanita lain. Saya cepat menghakimi diri saya sendiri. Merasa tidak aman tentang tindakan yang saya lakukan. Kadang-kadang saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah saya perlu mengendalikan emosi karena saya terlalu agresif, padahal pada kenyataannya, saya hanya bersikap tegas. 

Apa yang bisa kita lakukan untuk menghentikan ini? 

white and black quote board

Ada strategi untuk meruntuhkan tembok ini, tentu saja. Penting bagi kita untuk menjaga lingkungan terbuka dengan wanita lain dalam kehidupan kita. Bagaimana cara kita bisa terbuka? kita bisa dengan terus mendukung teman-teman kita dan membuka diri untuk berada di ‘ruang aman’. Kita dapat dengan bebas dan nyaman berbagi perasaan tanpa harus menghakimi dan dihakimi. Untuk solusi kreatif dalam mengubah Internalized misogyny, kesadaran diri tentang apa yang telah kita internalisasikan adalah titik awal. Empati terhadap wanita lain adalah hal lain.

Di dalam hati, kita sering merasa iba terhadap wanita yang menderita harga diri rendah, depresi, isolasi, gangguan makan, dan banyak lagi. Saat melihat hal itu, posisikan diri kita saat merasa rendah diri atau saat menilai wanita lain. Mundur dan evaluasi situasinya. Yang terpenting, bersikaplah baik. Bersikaplah baik kepada diri sendiri dan wanita lain.

Baca Juga: Masyarakat Indonesia, Homophobic atau Perbedaan Budaya?

Banyak gadis muda, termasuk saya, telah mengalami pengalaman tidak menyukai warna merah muda atau tidak ingin menjadi feminin. Namun, apakah kita harus memandang rendah mereka yang menyukai warna merah muda hanya karena kita menganggap mereka “tidak lebih perempuan” dari kita?. Kita ambil satu contoh, terlepas dari identitas gender kita, apabila kita tidak menyukai suatu boygroup Korea, seperti BTS contohnya, tanyakan pada diri kita mengapa? Apakah karena mereka membuat musik yang buruk atau karena persepsi kita tentang mereka yang sudah terlanjur tidak baik? 

Secara pribadi, ada masa di mana saya tidak menyadari bahwa perkataan saya secara tidak langsung merendahkan sesama wanita. Walau tidak dalam konteks yang kasar, tetap saja hal tersebut dapat menyinggung perasaan mereka. Oleh karena itu, kita semua harus menyadari bahwa kita berada dalam hal ini bersama-sama. Tapi bukan berarti kita harus menyukai setiap gadis yang memiliki pemikiran dan selera yang sama, tetapi meremehkan gadis lain karena tidak cocok dengan stereotip gender. Melakukan hal itu tidak akan membuat wanita merasa dan menjadi lebih kuat. Memang sulit bagi kita untuk mencapai persatuan atau menyelesaikan permasalahan semacam ini, tetapi jika kita semua terus mendukung individualitas dan keunikan satu sama lain, masalah kebencian terhadap wanita akan menjadi lebih mudah untuk ditaklukkan.

Amanda Nabila Noor Azahra 
Mahasiswa Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Malang

Editor: Diana Pratiwi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI