Keluarga Sakinah: Antara Cita-Cita dan Realitas Rumah Tangga Hari Ini

Keluarga sakinah
Foto: Freepik

Pada tahun 2025 ini rasanya kita sering sekali mendapat kabar rumah tangga yang retak: pasangan yang saling menjauh, perselisihan yang tak kunjung selesai, hingga perceraian yang kian meningkat.

Di tengah maraknya konten dan edukasi tentang cara membangun keluarga ideal, justru ada banyak pasangan yang merasa gagal mewujudkannya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Pertanyaan sederhana pun muncul: mengapa gambaran keluarga sakinah yang penuh ketentraman terasa makin jauh dari realitas?

Sejak awal memutuskan menikah, hampir semua pasangan memulai perjalanan rumah tangga dengan harapan besar.

Mereka memimpikan memiliki rumah tangga yang hangat, anak-anak yang tumbuh harmonis, dan kehidupan penuh keberkahan.

Namun seiring berjalannya waktu, harapan itu perlahan terkikis oleh tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, perbedaan karakter, hingga komunikasi yang tersendat.

Di titik inilah kita perlu mengulik: apakah konsep keluarga sakinah hanya sebatas cita-cita indah, atau ada jalan realistis untuk mencapainya?

Keluarga sakinah sering dipahami sebagai keluarga yang selalu harmonis, tenang, penuh kasih sayang, dilandaskan dengan nilai-nilai spiritual, dan sebagian orang memahaminya sebagai rumah tangga tanpa konflik.

Pemahaman inilah yang sering menjadi sumber kekecewaan. Namun hidup ini kompleks dan penuh dinamika; maka rumah tangga pun demikian adanya.

Keluarga sakinah bukanlah keluarga yang imun terhadap masalah, tetapi keluarga yang mampu mengelola masalah tersebut dengan kedewasaan.

Tantangan keluarga modern semakin kompleks. Tekanan ekonomi membuat pasangan terjebak dalam rutinitas dan kelelahan.

Media sosial menciptakan budaya perbandingan, membuat banyak orang merasa “kurang bahagia” karena melihat unggahan rumah tangga lain yang tampak sempurna.

Ekspektasi romantisasi pernikahan yang tidak terpenuhi juga membuat banyak pasangan tidak puas terhadap pasangannya.

Belum lagi peran ganda yang dijalankan suami dan istri, yang sering tanpa dukungan proporsional. Semua ini dapat menggerus ketenangan keluarga.

Selain itu kurangnya komunikasi yang asertif (jujur, terbuka, tegas, jelas, tidak agresif, dan fokus pada solusi) turut menjadi penghambat terwujudnya sakinah.

Banyak pasangan berbicara untuk membela diri, bukan saling memahami. tidak menerapkan nilai-nilai spiritual ke kehidupan sehari-hari juga menjadi penghambat terwujudnya keluarga sakinah: ibadah hanya rutinitas, bukan sumber energi emosional dan ketenangan batin.

Lalu bagaimana mencapai sakinah dalam realitas yang tidak sempurna? Ada beberapa sikap dasar yang bisa dilakukan dalam keseharian:

Pertama, membangun komunikasi yang efektif. Ketika ada suatu hal yang harus didiskusikan dengan pasangan, biasakan berbicara dalam keadaan tenang, berbicara dengan jelas, jujur, menggunakan empati, tidak agresif, menguraikan masalah, berorientasi pada solusi, dan saling menghargai.

Kedua, saling menerima kekurangan pasangan. Jika ada suatu hal dari pasangan yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, sadar dan renungkanlah bahwa setiap pasangan itu tidak ada yang sempurna dan pasti ada kekurangan serta kelemahan.

Ketiga, fokus pada tujuan pernikahan. Saat masalah melanda, ingatlah kembali akan tujuan dari ikatan pernikahan kalian.

Keempat, kerja sama dalam peran. Bagi tanggung jawab secara adil sesuai kesanggupan masing-masing.

Kelima, manajemen konflik. Hadapi masalah dengan kepala dingin, bukan menumpuk atau menghindarinya.

Keenam, doa dan ibadah Bersama. Penguatan spiritual memberi ketenangan dalam menghadapi dinamika rumah tangga.

Terakhir, Ketujuh, membangun harapan realistis. Terima bahwa perjalanan pernikahan tidak mulus, tetapi bisa dikelola dengan komitmen.

Pada akhirnya, keluarga sakinah bukan identik dengan sempurna tanpa masalah. Sakinah adalah usaha terus-menerus untuk menyelaraskan perbedaan, mengelola konflik, dan memperkuat nilai spiritual.

Ketenangan bukan datang begitu saja, melainkan hasil dari kerjasama, komunikasi yang hangat, serta komitmen menjaga pernikahan dengan kebijaksanaan.

Dengan memahami realitas bahwa konflik adalah bagian dari dinamika rumah tangga, kita dapat membangun ekspektasi yang lebih sehat.

Dalam proses ini, sakinah bukan sekadar cita-cita, tetapi perjalanan panjang yang terus dirawat setiap hari.


Penulis: Amaradya Larasati
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses