Malang, MMI – Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, Sabtu (1/8/2026) memiliki beragam potensi ekonomi masyarakat yang dapat dikembangkan, mulai dari usaha pembuatan batik, budidaya melon, hingga peternakan sapi.
Namun, berdasarkan hasil observasi awal mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang sebelum pelaksanaan program KKN, sejumlah pelaku usaha masih kesulitan dalam penggunaan teknologi digital sebagai sarana pendukung pemasaran dan pengembangan usaha.
Pada sektor batik, potensi usaha telah didukung oleh sejumlah identitas usaha, seperti nama, logo, banner, serta lokasi yang telah tercantum pada Google Maps.
Meski demikian, aktivitas pemasaran digital secara keseluruhan masih belum optimal.
Diketahui pemilik usaha belum menggunakan platform media sosial, seperti Instagram, WhatsApp Business, Shopee, ataupun TikTok Shop secara aktif untuk pemasaran produk.
Sehingga, proses jual beli ataupun pemasaran masih dilakukan secara offline atau pre-order.
Proses transaksi pembayaran masih dilakukan melalui tunai atau transfer dan belum menyediakan QRIS karena keterbatasan pemahaman mengenai penggunaannya serta adanya kekhawatiran terkait pajak.
Selain itu, terdapat kendala lainnya dalam proses dokumentasi produk, salah satunya pada pemilik usaha batik Ibu Antonia Suprapteni.
“Saya kurang percaya diri dalam memasarkan produk dan masih mengalami kesulitan untuk melakukan fotografi produk secara mandiri sehingga potensi produk batik belum sepenuhnya ditampilkan melalui media digital secara optimal,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan kemampuan promosi dan dokumentasi digital menjadi salah satu kebutuhan yang dapat mendukung pengembangan usaha batik di Desa Arjowilangun.
Sementara itu, pada sektor budidaya melon, Bapak Joko mengatakan, “Pemasaran produk masih mengandalkan mitra dan belum sepenuhnya dilakukan secara mandiri.”
Pengelolaan usaha tersebut telah memiliki struktur pembagian penanggung jawab seperti manajer keuangan, manajer operasional, dan manajer pemasaran.
Namun, pemanfaatan pemasaran digital masih menjadi tantangan, termasuk pemahaman mengenai penentuan target konsumen berdasarkan karakteristik demografis, geografis, perilaku, dan psikografis.
Transaksi usaha juga masih dilakukan melalui transfer, tunai, ataupun QRIS.
Kondisi yang hampir serupa ditemukan pada sektor peternakan sapi.
Bapak Sutrisno selaku penanggung jawab usaha peternakan sapi telah bekerja sama dengan Memorandum of Understanding (MoU) dan Nestlé, namun pemasaran masih belum dilakukan secara mandiri.
“Saya masih belum memiliki pengalaman dalam menjual produk,” ujarnya.
Pemanfaatan strategi pemasaran berdasarkan karakteristik konsumen masih perlu dikembangkan.
Selain itu, transaksi masih dilakukan secara tunai maupun transfer dan belum menggunakan QRIS.
Hasil observasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan yang dihadapi ketiga sektor usaha memiliki pola yang hampir sama.
Potensi usaha sudah tersedia, tetapi kemampuan dalam mengoptimalkan pemasaran digital, melakukan dokumentasi produk, menentukan target konsumen, dan memanfaatkan sistem transaksi digital masih perlu diperkuat.
Kondisi tersebut menjadi gambaran awal mengenai kebutuhan pelaku usaha di Desa Arjowilangun sebelum program KKN dilaksanakan.
Temuan di lapangan kemudian menjadi bahan bagi mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang untuk memahami kebutuhan pelaku usaha dan menentukan bentuk pendampingan yang sesuai.
Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi digital, tetapi juga membantu pelaku usaha memahami bagaimana teknologi dapat digunakan secara tepat untuk memperkuat pemasaran dan memperluas jangkauan produk.
Dengan adanya potensi batik, melon, dan peternakan sapi yang dimiliki, Desa Arjowilangun memiliki modal untuk terus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Harapan kami, penguatan kemampuan digital dapat menjadi langkah bagi pelaku usaha untuk berani memperluas pemasaran, memperkenalkan produk secara lebih kreatif, serta menjangkau konsumen di luar wilayah desa.
Melalui kolaborasi dan pendampingan yang berkelanjutan, diharapkan potensi usaha lokal Arjowilangun tidak hanya dikenal sebagai kekuatan ekonomi masyarakat setempat, tetapi juga mampu membuka peluang pasar yang lebih luas.
Penulis: Humas KKN
Mahasiswa Prodi Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













