Konflik Keluarga pada Masa Anak-anak Memengaruhi Conflict Management Style pada Masa Dewasa

Konflik keluarga

Tidak semua luka pada masa anak-anak meninggalkan bekas yang terlihat. Sebagian di antaranya tersimpan dalam cara seseorang memahami emosi, membangun hubungan, dan menghadapi konflik ketika dewasa. Hasil penelitian Ramadhani dan Prima (2026) mengenai konflik keluarga dan dampak terhadap psikologis anak menunjukkan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik berisiko mengalami hambatan pada perkembangan psikologis yang memengaruhi regulasi emosi dan cara mereka memandang konflik. Pengalaman tersebut juga dapat membentuk persepsi bahwa konflik merupakan cara yang wajar untuk menyelesaikan masalah. Penting untuk memahami bagaimana konflik keluarga pada masa anak-anak dapat membentuk conflict management style pada masa dewasa serta faktor-faktor yang memengaruhi cara individu mengelola dan menyelesaikan konflik.

Peran Attachment Theory dalam Pembentukan Conflict Management Style

Dalam keluarga yang sering mengalami konflik, anak tidak hanya menjadi pihak yang menyaksikan konflik antara anggota keluarga, tetapi juga mempelajari bagaimana konflik diekspresikan, dikomunikasikan, dan diselesaikan dalam hubungan interpersonal. Proses tersebut dapat dipahami melalui Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby, seorang psikiater dan psikoanalis asal Inggris. Bowlby menjelaskan bahwa hubungan emosional antara anak dan orang tua berperan penting dalam membentuk rasa aman, kepercayaan, serta pola individu dalam membangun hubungan dengan orang lain. Teori tersebut kemudian dikembangkan melalui penelitian Mary Ainsworth mengenai pola keterikatan anak dan responsnya terhadap kehadiran dan perpisahan dengan figur pengasuh.

Pengalaman hubungan dengan orang tua dapat berkontribusi terhadap pembentukan pola attachment, seperti secure attachment, avoidant attachment, dan anxious attachment yang kemudian berkaitan dengan cara individu merespons konflik dalam hubungan interpersonal. Individu dengan secure attachment cenderung lebih mampu menghadapi konflik melalui komunikasi terbuka dan kerja sama, sedangkan individu dengan insecure attachment, seperti avoidant attachment dan anxious attachment lebih rentan menunjukkan respons berupa menghindari konflik, menarik diri, atau memberikan reaksi emosional yang lebih intens. Pola hubungan yang terbentuk sejak masa anak-anak tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kecenderungan conflict management style individu ketika dewasa.

BACA JUGA: Edukasi Digital Keluarga Pascabencana: Perkuat Pola Makan Sehat, Cegah Penyakit Jantung Koroner di Kota Padang

Pengaruh Konflik Keluarga terhadap Conflict Management Style

Ketika anak sering menyaksikan konflik antara orang tua, pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara anak memahami dan merespons konflik. Namun, dampaknya tidak selalu sama pada setiap anak. Menurut Rohmat (2010) mengenai keluarga dan pola pengasuhan anak bahwa keluarga berperan dalam membentuk pola interaksi sosial dan kepribadian anak.  Pada anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik, kondisi tersebut dapat menghambat komunikasi dan keterbukaan dalam hubungan interpersonal. Pengalaman dalam keluarga juga dapat berkontribusi terhadap cara individu memandang diri, orang lain, dan hubungan interpersonal melalui pembentukan internal working models dan attachment style dalam perspektif Attachment Theory. Melalui pengalaman tersebut, anak dapat membentuk pemahaman mengenai apakah hubungan dengan orang lain merupakan tempat yang aman untuk menyampaikan perasaan dan menyelesaikan perbedaan. Pemahaman ini dapat memengaruhi cara individu memperkirakan respons orang lain ketika menghadapi konflik, termasuk apakah konflik dipandang sebagai sesuatu yang perlu dihindari, dihadapi secara langsung, atau diselesaikan melalui komunikasi.

Tidak semua konflik dihadapi dengan cara yang sama, setiap individu dapat memiliki kecenderungan tertentu dalam merespons dan menyelesaikannya. Dalam conflict management style, individu dapat menghindari (avoiding), mengalah (accommodating), memaksakan kehendak (competing), berkompromi (compromising), atau bekerja sama (collaborating). Individu yang terbiasa melihat konflik diselesaikan melalui penghindaran dapat cenderung menghindari konfrontasi, sedangkan paparan komunikasi agresif dapat mendorong respons yang defensif. Sebaliknya, lingkungan yang terbuka terhadap diskusi dan penyelesaian masalah dapat mendukung kecenderungan untuk berkompromi atau bekerja sama. Hal ini, menunjukkan bahwa cara keluarga menghadapi konflik dapat menjadi contoh yang diamati dan dipelajari anak dalam membentuk responsnya terhadap konflik.

Strategi Pengembangan Conflict Management Style

Pengalaman konflik keluarga dapat berkontribusi terhadap terbentuknya kecenderungan tertentu dalam menghadapi konflik, tetapi kecenderungan tersebut tidak bersifat mutlak atau permanen. Perubahan dapat dimulai dengan mengenali dan menerima diri sendiri agar individu memahami pola responsnya ketika menghadapi konflik, seperti kecenderungan untuk menghindari, mengalah, atau bereaksi secara agresif. Refleksi diri dapat memberikan ruang bagi individu untuk mengamati pikiran dan perasaannya. Koolaee et al. (2016) dan Dadsetan (2005) menjelaskan bahwa art therapy dapat menjadi salah satu media ekspresi untuk menyampaikan pikiran dan perasaan melalui kegiatan, seperti menggambar dan melukis, terutama ketika hal tersebut sulit disampaikan secara verbal. Seiring dengan proses mengenali emosi, individu dapat mulai belajar mengelola respons ketika menghadapi konflik.

Selain mengenali emosi, kemampuan memecahkan masalah juga dapat membantu individu menghadapi konflik secara lebih terarah. Proses tersebut dapat dimulai dengan memahami masalah yang terjadi, menentukan pilihan penyelesaian, menerapkan solusi yang dipilih, dan mengevaluasi kembali hasilnya. Melalui tahapan tersebut, individu tidak hanya berfokus pada reaksi emosional ketika konflik terjadi, tetapi juga dapat mempertimbangkan berbagai pilihan sebelum menentukan cara penyelesaian yang sesuai. Kemampuan mengenali emosi dan mengelola respons dapat membantu individu mengembangkan pola penyelesaian konflik yang berbeda dari pengalaman yang pernah dialaminya. Belajar memahami sudut pandang orang lain dan mencari solusi bersama dapat membantu individu menghadapi konflik dengan cara yang lebih sehat.

Pada masa anak-anak, kehadiran orang tua berperan penting dalam memberikan bimbingan, nasihat, serta kasih sayang yang dibutuhkan anak. Selain upaya dari dalam diri, lingkungan keluarga juga memiliki peran dalam mendukung terbentuknya cara menghadapi konflik yang lebih sehat. Keluarga dapat menjadi ruang yang aman bagi anak untuk bercerita, menyampaikan perasaan, dan mengekspresikan pendapat. Menurut Wardyaningrum (2013) mengenai komunikasi untuk penyelesaian konflik dalam keluarga bahwa keluarga dengan orientasi percakapan memberikan ruang bagi anggota keluarga untuk menyampaikan pendapat dan ketidaksetujuan. Anak dalam keluarga dengan pola tersebut cenderung merasa lebih nyaman ketika penyelesaian konflik dilakukan melalui komunikasi dan ketika mereka memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pendapat, serta didengarkan. Pola komunikasi yang terbuka dapat memberikan pengalaman kepada anak bahwa perbedaan tidak harus dihindari atau diselesaikan melalui komunikasi yang keras, tetapi dapat dibicarakan dan dicari penyelesaiannya bersama. Pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu dasar bagi anak dalam mengembangkan cara menghadapi konflik yang lebih sehat ketika dewasa.

Kesimpulan

Konflik keluarga pada masa anak-anak dapat membentuk cara individu memandang diri, orang lain, dan hubungan interpersonal, yang kemudian berkaitan dengan conflict management style mereka ketika dewasa. Namun, pengalaman tersebut tidak sepenuhnya menentukan bagaimana seseorang akan menghadapi konflik ketika dewasa. Individu diharapkan dapat mengenali pola respons yang terbentuk dari pengalaman masa lalu, sementara keluarga perlu menciptakan komunikasi yang terbuka dan memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan perasaan serta pendapat. Pengalaman masa lalu dapat menjadi bagian dari proses memahami diri, bukan menjadi batasan dalam membangun hubungan dan menyelesaikan konflik dengan cara yang lebih baik.


Penulis: Sarah Baiti
Mahasiswi Program Studi Akuntansi, Universitas Katolik Parahyangan


Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses